Antusiasme Petani Organik Bali Melonjak, Koster Minta Mentan Tambah Kuota Pupuk Cair
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster meminta pemerintah pusat menambah kuota pupuk cair untuk Bali menyusul meningkatnya antusiasme petani menerapkan sistem pertanian organik. Menurutnya, kuota pupuk yang ada saat ini belum mampu memenuhi tingginya kebutuhan di lapangan.
Permintaan tersebut disampaikan Koster saat menghadiri Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali periode 2026–2031 di Wantilan DPRD Bali, Jumat (10/7/2026).
“Kalau bisa kami diberi kuota pupuk cair yang lebih banyak karena kuota yang sudah diberikan oleh Bapak Menteri itu masih kurang. Gerakan petani di Bali menggunakan pupuk organik sekarang tinggi sekali. Dulu sulit sekali, sekarang setelah tahu manfaat ekonominya, masyarakat sangat antusias,” ujar Koster.
Menurut Koster, tingginya minat petani beralih ke pertanian organik merupakan dampak dari implementasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2019 tentang Sistem Pertanian Organik. Saat ini, lebih dari 60 persen dari sekitar 64.000 hektare lahan sawah di Bali telah mengantongi sertifikat organik.
Ia mengatakan, keberhasilan tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani melalui nilai jual produk yang lebih tinggi, tetapi juga menjaga kesuburan tanah, kelestarian lingkungan, dan keanekaragaman hayati di Bali.
Untuk memperkuat pasar hasil pertanian organik, Pemerintah Provinsi Bali juga telah mewajibkan sektor perhotelan menggunakan produk pertanian organik lokal sehingga petani memiliki kepastian pasar.
Permintaan Koster mendapat respons positif dari Wakil Menteri Pertanian RI sekaligus Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional HKTI, Sudaryono. Ia memastikan Kementerian Pertanian akan segera menindaklanjuti kebutuhan pupuk organik cair di Bali.
“Terkait masukan dari Pak Gubernur, kalau di Bali kekurangan pupuk cair, kami akan segera memberikan perhatian. Kami sangat ingin mendapatkan masukan dari beliau mengenai apa saja yang perlu kami dukung, khususnya di sektor pertanian,” kata Sudaryono.
Ia menilai Bali memiliki potensi besar mengembangkan pertanian organik karena didukung sektor pariwisata yang menyasar wisatawan bersegmen premium dengan kebutuhan terhadap produk pangan sehat dan berkualitas.
Sudaryono menambahkan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Bali untuk menghitung kebutuhan pupuk dan dukungan pemerintah pusat.
“Kami siap menindaklanjuti. Setelah kembali ke Jakarta, kami akan mengecek apa saja yang bisa kami bantu. Nanti Kepala Dinas Pertanian Provinsi akan kami panggil untuk membahasnya,” ujarnya.
Selain pupuk, Kementerian Pertanian juga berkomitmen mendukung pengembangan komoditas unggulan Bali, seperti kopi, kakao, dan beras, sekaligus memperkuat upaya menekan alih fungsi lahan sawah produktif demi menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan