TEHERAN, DIKSIMERDEKA.COM – Duka nasional di Iran berubah menjadi panggung unjuk tekad dan kemarahan. Ribuan pelayat yang memadati kompleks Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran, Minggu (5/7), tidak hanya mengantarkan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, ke peristirahatan terakhir, tetapi juga meneriakkan seruan balas dendam atas kematiannya.

Di tengah doa dan isak tangis, sejumlah peserta meneriakkan slogan yang menyerukan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang oleh banyak pendukung Khamenei dianggap bertanggung jawab atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan sang pemimpin tertinggi Iran pada 28 Februari lalu.

Prosesi pemakaman yang berlangsung selama sepekan itu menjadi salah satu peristiwa politik dan keagamaan terbesar dalam sejarah modern Iran. Pemerintah memanfaatkan momentum tersebut untuk menunjukkan bahwa negara itu tetap solid, meski kehilangan figur yang memimpin Republik Islam selama lebih dari tiga dekade.

Puisi yang Memantik Sorakan Massa

Suasana di aula doa berubah semakin emosional ketika penyair Iran Mohammad Rasouli membacakan puisi tepat sebelum salat jenazah dimulai.

Dengan nada lantang ia menyampaikan kalimat yang langsung membakar semangat ribuan pelayat.

“Mulai hari ini kain kafan adalah pakaian kami. Demi darahmu, membunuh Trump adalah tanggung jawab kami.”

Rasouli bahkan mempertanyakan mengapa Trump masih hidup setelah kematian Khamenei.

“Mengapa manusia paling biadab di dunia masih hidup? Dunia bukan lagi tempat yang baik bagi Trump. Mengapa kita tidak membunuh orang yang telah membunuh imam kita?” katanya.

Ucapan tersebut disambut sorak-sorai sebagian besar massa, meski beberapa pelayat tampak hanya terdiam.

Di atas panggung tempat peti jenazah diletakkan, terlihat pula sebuah tulisan berbahasa Inggris yang berbunyi, “Kill Trump”, memperlihatkan besarnya kemarahan sebagian pendukung Khamenei terhadap Amerika Serikat.

Lautan Bendera Merah dan Seruan Balas Dendam

Sejak sebelum matahari terbit, puluhan ribu warga telah memenuhi kompleks masjid.

Mereka membawa bendera Iran, foto Ali Khamenei, serta bendera merah yang dalam tradisi Syiah melambangkan tuntutan balas dendam.

Seruan “Tidak ada kompromi, tidak ada penyerahan diri, hanya balas dendam” berkali-kali menggema di halaman masjid yang dipenuhi pelayat.

Sebagian pria bahkan mengenakan kain kafan putih sebagai simbol kesiapan menjadi martir demi membela Republik Islam.

Pemerintah Iran mengklaim lebih dari dua juta orang menghadiri hari pertama rangkaian pemakaman, meski angka resmi belum dipublikasikan.

Pemimpin Baru Masih Menghilang

Di tengah besarnya prosesi pemakaman, satu sosok justru menjadi perhatian publik karena tidak terlihat.

Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, kembali tidak muncul di hadapan masyarakat.

Ketidakhadirannya semakin memicu spekulasi karena tiga saudara laki-lakinya, Mustafa, Massoud, dan Meysam Khamenei, tampak berdiri di sisi peti jenazah sang ayah selama upacara berlangsung.

Mojtaba ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi sekitar 10 hari setelah kematian ayahnya. Namun hingga kini ia belum pernah tampil di depan publik maupun menyampaikan pidato secara langsung.

Pejabat Iran mengakui Mojtaba mengalami luka dalam serangan yang menewaskan ayahnya, tetapi membantah adanya cedera permanen atau amputasi.

Pemerintah dan Militer Tampil Terbuka

Berbeda dengan situasi pada awal perang, kali ini hampir seluruh elite politik, militer, dan lembaga peradilan Iran hadir dalam upacara tersebut.

Komandan Pasukan Quds Esmail Qaani serta Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) Ahmad Vahidi juga tampil di hadapan publik.

Kehadiran mereka dianggap sebagai sinyal bahwa pemerintah Iran yakin gencatan senjata dengan Amerika Serikat membuat upacara pemakaman relatif aman dari ancaman serangan.

Trump Ikut Jadi Sorotan

Donald Trump turut menanggapi besarnya jumlah pelayat yang hadir.

Ia mengaku terkejut melihat begitu banyak warga Iran menangisi kematian Khamenei.

“Saya kira mereka membencinya,” ujar Trump.

Ia bahkan berspekulasi bahwa tangisan para pelayat mungkin hanyalah sandiwara.

Namun kesan tersebut dibantah oleh banyak warga Iran yang hadir.

Husain Dehghan, seorang penerjemah buku berusia 70 tahun, mengatakan kesedihan masyarakat benar-benar tulus.

Menurutnya, meski banyak warga memiliki pandangan berbeda terhadap pemerintahan Iran, pembunuhan seorang pemimpin negara asing tetap dianggap tidak dapat dibenarkan.

“Banyak orang di Barat menyebut Khamenei diktator. Memang tidak semua warga Iran mendukungnya, tetapi sebagian besar tetap menghormati dan menyayanginya. Ketika negara kami diserang, rakyat akan bersatu mempertahankannya,” ujarnya.

Iran Ingin Tunjukkan Ketahanan

Selain menjadi prosesi penghormatan terakhir bagi Ali Khamenei, pemakaman akbar ini juga dimanfaatkan pemerintah Iran untuk menyampaikan pesan politik kepada dunia.

Melalui jutaan pelayat, bendera merah, hingga slogan-slogan perlawanan, Teheran ingin menunjukkan bahwa kematian pemimpin tertingginya tidak akan melemahkan Republik Islam.

Rangkaian pemakaman masih akan berlanjut dengan prosesi besar di Teheran sebelum jenazah dibawa ke kota suci Qom, kemudian melintasi dua kota suci di Irak, sebelum akhirnya dimakamkan di Mashhad, kota kelahiran Ali Khamenei.

Meski suasana berkabung begitu terasa di pusat kota, kehidupan di kawasan utara Teheran yang lebih modern tetap berjalan seperti biasa. Perbedaan mencolok itu memperlihatkan wajah Iran yang kompleks—di satu sisi diliputi semangat perlawanan, di sisi lain tetap bergulat dengan kesenjangan ekonomi dan dinamika sosial yang belum sepenuhnya selesai.