Ikan Blackchin Tilapia Mengubah Surga Perikanan Menjadi Mimpi Buruk

DIKSIMERDEKA.COM BANGKOK-Ikan blackchin tilapia mengubah kehidupan para nelayan Thailand dalam waktu singkat. Spesies invasif asal Afrika Barat itu kini menjadi musuh utama petambak udang dan nelayan pesisir setelah populasinya meledak di berbagai wilayah Thailand.

Di restoran Kor-Tae Seafood, Provinsi Samut Prakan, pemilik restoran Adisorn Jamsuksaward bahkan mencoba mengolah ikan tersebut menjadi berbagai hidangan. Namun, ia mengakui masyarakat masih enggan menyantapnya.

“Awalnya mereka ragu. Tetapi setelah mencoba, mereka mengaku rasanya enak,” kata Adisorn dilansir dari The Guardian.

Meski demikian, ia sadar ikan tersebut sulit menjadi menu favorit karena citranya telanjur buruk.

Udang, Kepiting, hingga Ikan Lokal Habis Dilahap

Bencana sebenarnya dirasakan para petambak.

Wallop Khunjaen, seorang petambak udang di Samut Songkhram, kehilangan hampir seluruh benur yang baru ditebar hanya dalam dua bulan.

“Mereka memakan semuanya. Udang habis, bahkan kepiting pun ikut dimakan,” ujarnya.

Akibat serangan ikan blackchin tilapia, Wallop akhirnya menghentikan usaha tambaknya.

Baca juga :  Dramatis! 7 Warga Laos Terjebak di Gua Banjir, Tim Penyelamat Berpacu dengan Waktu

Tak hanya itu, beberapa spesies asli seperti kepiting biola kini semakin sulit ditemukan karena kalah bersaing dengan ikan invasif tersebut.


Populasinya Meledak di Sedikitnya 19 Provinsi

Sejak pertama kali ditemukan di Thailand pada 2011, penyebaran ikan blackchin tilapia berlangsung sangat cepat.

Kini spesies tersebut telah menginvasi sedikitnya 19 provinsi, mulai dari kanal-kanal Bangkok hingga kawasan pesisir Pattaya.

Para peneliti bahkan mengkhawatirkan ikan ini akan terus menyebar ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara.


Pemerintah Thailand Sudah Berbagai Cara, Tetapi Belum Berhasil

Pemerintah Thailand tidak tinggal diam.

Berbagai langkah dilakukan, mulai dari melepas ikan kakap laut Asia sebagai predator alami, mengembangkan blackchin tilapia steril agar tidak berkembang biak, hingga memberikan insentif kepada masyarakat yang menangkap ikan tersebut.

Ribuan ton ikan berhasil diangkat dari perairan.

Namun, para ahli menilai upaya itu belum cukup.

Asisten Profesor Ilmu Lingkungan Universitas Khon Kaen, Thotsapol Chaianunporn, menegaskan populasi ikan tersebut sudah telanjur sulit dikendalikan.

“Kita sudah melewati titik untuk mengembalikan kondisi seperti semula,” katanya.

Baca juga :  Thailand Mulai Ketat! Turis Tak Bisa Lama di Negeri Gajah Putih

Berkembang Biak Sangat Cepat dan Sulit Dibasmi

Keunggulan terbesar ikan blackchin tilapia terletak pada kemampuan beradaptasinya.

Ikan ini mampu hidup di air tawar maupun air payau. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup anak ikan sangat tinggi sehingga populasinya kembali meningkat meski sudah ditangkap dalam jumlah besar.

Karena itu, para ilmuwan menilai solusi paling realistis adalah memanfaatkan ikan tersebut sebagai bahan pangan atau pakan ternak.


Ancaman Ekosistem Terus Membesar

Invasi blackchin tilapia tidak hanya merugikan nelayan.

Saat berkembang biak, ikan betina menggali lubang di dasar perairan sehingga meningkatkan sedimentasi dan merusak habitat berbagai organisme kecil.

Selain itu, spesies ini juga memangsa zooplankton yang berfungsi mengendalikan pertumbuhan alga. Jika populasinya terus meningkat, keseimbangan ekosistem perairan dikhawatirkan akan semakin terganggu.


Sulit Dijual Meski Jumlahnya Melimpah

Ironisnya, melimpahnya ikan blackchin tilapia tidak otomatis mendatangkan keuntungan ekonomi.

Pedagang ikan di Samut Prakan, Tongta Samtia, mengaku pernah mencoba menjualnya.

Namun, hampir tidak ada pembeli yang berminat.

Baca juga :  Bus Terseret Kereta di Bangkok, 8 Orang Tewas dan Puluhan Luka

“Mereka tidak tahu cara mengolahnya,” ujarnya.

Nelayan Bangkok, Thanandon Charoenhiransaku, menggambarkan betapa parah kondisi di lapangan.

“Dalam tiga kali lempar jaring saja, kami bisa mendapatkan 20 sampai 30 kilogram blackchin tilapia. Kanal-kanal kami sudah dipenuhi ikan ini,” katanya.

Kini, harapan terbesar para nelayan hanya satu: penyebaran spesies invasif tersebut berhenti sebelum menjangkiti lebih banyak wilayah di Asia Tenggara.

“Ini ancaman yang datang diam-diam. Saat kita menyadarinya, semuanya sudah terlambat,” tutup Thanandon.

Yang membuat para ahli semakin khawatir, penyebaran ikan blackchin tilapia berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan awal. Spesies ini mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi perairan, mulai dari sungai, kanal, tambak, hingga wilayah pesisir yang bercampur air laut. Karena memiliki daya tahan tinggi dan berkembang biak dalam waktu singkat, populasinya terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut membuat nelayan semakin sulit menangkap ikan lokal, sementara hasil tangkapan mereka kini didominasi oleh blackchin tilapia yang nilai jualnya relatif rendah.