DIKSIMERDEKA.COM BOSTON– Duel Inggris vs Ghana berakhir tanpa pemenang dalam laga Grup L Piala Dunia 2026. Meski tampil dominan sepanjang pertandingan, The Three Lions gagal membongkar pertahanan rapat Ghana dan harus puas bermain imbang 0-0 di Gillette Stadium.Rabu (24/6/2026).

Hasil ini menjadi deja vu bagi Inggris yang kembali kehilangan momentum pada laga kedua turnamen besar. Setelah membuka kampanye dengan kemenangan 4-2 atas Kroasia, pasukan Thomas Tuchel diharapkan melanjutkan tren positif. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Sejak menit awal, Inggris langsung menguasai jalannya pertandingan. Ghana yang kini ditangani Carlos Queiroz memilih bertahan dengan blok rendah dan menumpuk pemain di area pertahanan sendiri. Strategi itu membuat Harry Kane dan kawan-kawan kesulitan menemukan ruang untuk menciptakan peluang bersih.

Dominasi Inggris sebenarnya terlihat jelas dari statistik pertandingan. The Three Lions mencatat 78 persen penguasaan bola, sementara Ghana hanya 22 persen. Inggris juga membukukan 619 operan dengan akurasi mencapai 95 persen, berbanding 168 operan dan akurasi 69 persen milik Ghana.

Namun penguasaan bola tersebut tidak berbanding lurus dengan efektivitas serangan. Meski melepaskan 19 tembakan, hanya empat yang mengarah tepat ke gawang. Ghana bahkan hanya mampu mencatat dua percobaan dengan satu tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan.

Pada babak pertama, Inggris terus mengurung pertahanan Ghana. Jude Bellingham, Noni Madueke, dan Harry Kane berusaha membongkar lini belakang lawan, tetapi disiplin pertahanan Black Stars membuat kiper Benjamin Asare nyaris tidak mendapat ancaman serius.

Frustrasi mulai terlihat menjelang turun minum. Bellingham sempat terlibat adu argumen dengan kubu Ghana setelah sebuah pelanggaran keras. Situasi itu menggambarkan betapa sulitnya Inggris menembus tembok kuning yang dibangun Carlos Queiroz.

Memasuki babak kedua, Ghana sempat mengejutkan Inggris lewat beberapa serangan balik cepat. Antoine Semenyo dan Prince Kwabena Adu membuat lini belakang Inggris bekerja lebih keras dibanding babak pertama.

Salah satu momen kontroversial terjadi ketika Ezri Konsa berduel dengan Adu di dalam kotak penalti. Pemain Ghana terjatuh dan meminta penalti, namun wasit tetap melanjutkan permainan. Inggris lolos dari ancaman yang bisa saja mengubah jalannya laga.

Thomas Tuchel kemudian memasukkan Bukayo Saka, Morgan Rogers, dan Eberechi Eze untuk menambah kreativitas serangan. Pergantian itu membuat Inggris tampil lebih agresif pada 15 menit terakhir.

Peluang terbaik datang menjelang akhir pertandingan. Bukayo Saka memaksa Benjamin Asare melakukan penyelamatan penting lewat tembakan rendahnya. Tak lama kemudian, Nico O’Reilly hampir menjadi pahlawan saat sundulannya membentur mistar gawang setelah menerima umpan silang Reece James.

Bola muntah jatuh ke kaki Harry Kane dalam posisi sangat ideal. Namun kapten Inggris itu justru melepaskan tembakan melambung di atas mistar. Kesempatan emas yang seharusnya bisa mengantarkan Inggris meraih tiga poin pun terbuang sia-sia.

Pada masa injury time, Marc Guehi juga nyaris memecah kebuntuan melalui sundulan jarak dekat. Akan tetapi seorang pemain Ghana berhasil menyapu bola tepat di depan garis gawang.

Statistik semakin menegaskan dominasi Inggris. Selain unggul dalam penguasaan bola dan jumlah tembakan, mereka juga memperoleh sembilan tendangan sudut, jauh lebih banyak dibanding dua milik Ghana. Namun semua keunggulan itu tidak mampu dikonversi menjadi gol.

Bagi Ghana, hasil ini terasa seperti kemenangan. Meski hanya menghasilkan dua tembakan sepanjang pertandingan, disiplin bertahan dan kerja keras seluruh pemain berhasil meredam salah satu tim favorit juara.

Sementara bagi Inggris, hasil imbang ini menjadi peringatan bahwa dominasi statistik saja tidak cukup untuk memenangkan pertandingan. The Three Lions kini harus bekerja lebih keras pada laga terakhir fase grup untuk memastikan langkah mereka menuju babak gugur Piala Dunia 2026 tetap aman.

Hasil imbang ini membuat persaingan di Grup L semakin ketat. Inggris memang masih memiliki peluang besar untuk lolos ke fase gugur, namun kegagalan mengalahkan Ghana menjadi peringatan bahwa tidak ada pertandingan mudah di Piala Dunia 2026. Thomas Tuchel kini dituntut mencari solusi agar lini serang The Three Lions lebih efektif dalam memanfaatkan dominasi permainan menjadi gol dan kemenangan.