PM Inggris Keir Starmer Resmi Mengundurkan Diri
DIKSIMERDEKA.COM LONDON– Politik Inggris kembali berguncang. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya setelah menghadapi tekanan besar dari internal Partai Buruh Inggris(Labour Party) yang dipimpinnya, Senin (22/6/2026).
Keputusan tersebut membuka jalan bagi Inggris untuk memiliki perdana menteri keenam dalam kurun tujuh tahun terakhir, sekaligus menambah ketidakpastian politik di tengah tantangan ekonomi dan menurunnya dukungan publik terhadap pemerintahan Partai Buruh.
Dalam pidato pengunduran dirinya di Downing Street, London, Starmer mengakui partainya mulai mempertanyakan kemampuannya memimpin Partai Buruhmenuju pemilu berikutnya.

Meski mundur, Starmer memastikan proses transisi kekuasaan akan berlangsung tertib.
“Saya akan melakukan segala yang saya bisa untuk memastikan proses serah terima kekuasaan berjalan dengan tertib,” ujar Starmer.
Ia juga berjanji memberikan dukungan penuh kepada penggantinya.
“Saya juga akan memberikan dukungan penuh dan tanpa syarat kepada penerus saya.”
Starmer mengungkapkan telah berbicara dengan Raja Charles III pada Minggu pagi untuk menyampaikan keputusan tersebut. Ia menambahkan pemimpin baru Partai Buruh sekaligus Perdana Menteri Inggris akan terpilih sebelum parlemen kembali bersidang pada September mendatang.
Pria berusia 63 tahun itu tampak emosional saat mengucapkan terima kasih kepada keluarga yang selama ini mendampinginya.
“Saya ingin menjadi suami terbaik yang saya bisa bagi istri saya yang selalu menjadi batu karang di sisi saya, dan menjadi ayah terbaik bagi anak-anak saya yang luar biasa, kebanggaan dan kebahagiaan saya.”
Andy Burnham Jadi Kandidat Terkuat
Perhatian kini tertuju kepada Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham yang disebut-sebut sebagai kandidat terkuat pengganti Starmer.
Nama Burnham melesat setelah meraih kemenangan telak dalam pemilihan sela di Makerfield, wilayah barat laut Inggris. Kemenangan tersebut membuatnya kembali menjadi anggota parlemen dan membuka peluang untuk maju dalam perebutan kursi ketua Partai Buruh.
Meski belum ada keputusan resmi, sejumlah pengamat politik menilai Burnham memiliki momentum politik yang kuat.
Selama beberapa tahun terakhir, Burnham dikenal sebagai salah satu politisi paling populer di Inggris. Mantan anggota parlemen selama 16 tahun itu pernah menjabat Menteri Kesehatan dan dua kali mencoba memimpin Partai Buruh sebelum akhirnya beralih menjadi Wali Kota Manchester.
Keberhasilannya mengalahkan kandidat Reform UK dalam pemilihan sela terbaru semakin memperkuat klaim pendukungnya bahwa Burnham lebih mampu menghadapi tantangan politik dibanding Starmer.
Farage Desak Pemilu Dipercepat
Mundurnya Starmer langsung dimanfaatkan pemimpin Reform UK Nigel Farage untuk menekan pemerintah.
Sekutu Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu mendesak digelarnya pemilu nasional lebih cepat.
“Jika Partai Buruh berpikir mereka bisa begitu saja menempatkan politisi profesional lain ke Downing Street Nomor 10, mereka salah besar,” tulis Farage melalui media sosial.
Namun berdasarkan aturan Inggris, Partai Buruh tidak wajib menggelar pemilu hingga 2029 atau lima tahun setelah pemilu terakhir.
Meski begitu, Farage memiliki kepentingan besar mendorong pemilu lebih awal. Reform UK saat ini memimpin sejumlah survei nasional meski hanya memiliki delapan kursi di parlemen.
Ekonomi Jadi Titik Lemah Starmer
Pengunduran diri Starmer tidak lepas dari memburuknya kepercayaan publik terhadap pemerintahannya.
Saat memenangkan pemilu 2024 dengan suaramayoritas, Starmer berjanji memperbaiki ekonomi Inggris yang sedang terpuruk.
“Perubahan dimulai sekarang,” katanya saat itu.
Namun hampir dua tahun berlalu, hasil yang dijanjikan belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Data resmi menunjukkan kenaikan pendapatan warga setelah disesuaikan dengan inflasi hanya bertambah kurang dari satu persen sejak Labour berkuasa. Upah mingguan rata-rata kini berada di angka 494 poundsterling atau sekitar Rp10,9 juta.
Pemerintah juga diperkirakan gagal memenuhi target pembangunan 1,5 juta rumah baru yang dijanjikan untuk mengatasi krisis perumahan.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi masih tertahan di kisaran satu persen. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan ekonomi Inggris hanya tumbuh 0,8 persen tahun ini.
Lonjakan harga energi akibat konflik Iran juga diperkirakan akan semakin membebani perekonomian Negeri Raja Charles tersebut.
Kritik Datang dari Segala Arah
Sejak awal masa jabatannya, Starmer menghadapi kritik dari berbagai kubu.
Kelompok konservatif menuduhnya gagal mengendalikan imigrasi ilegal. Sementara kubu kiri menilai kebijakan ekonominya tidak populer dan tidak cukup berpihak kepada rakyat.
Banyak pemilih juga menilai Starmer kurang memiliki karisma dan visi politik yang kuat.
Puncaknya terjadi dalam pemilu lokal bulan lalu ketika Partai Buruh kehilangan lebih dari 1.400 kursi dewan di Inggris dan kehilangan dominasi politik di Wales yang selama puluhan tahun menjadi basis kekuatan partai tersebut.
Hasil itu memicu keraguan di kalangan anggota parlemen dari Partai B uruhterhadap kemampuan Starmer memenangkan pemilu berikutnya.
Kini, Inggris memasuki babak baru. Apakah Andy Burnham akan dinobatkan secara mulus sebagai penerus Starmer atau harus menghadapi pertarungan sengit dalam pemilihan ketua Partai Buruh, masih menjadi tanda tanya besar yang akan menentukan arah politik Inggris dalam beberapa tahun ke depan.

Tinggalkan Balasan