BI Naikkan Suku Bunga di Luar Jadwal, Pasar Dibuat Terkejut

DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA-Keputusan BI naikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur bulanan langsung mengejutkan pelaku pasar. Langkah yang tidak lazim ini menunjukkan besarnya tekanan yang sedang dihadapi perekonomian Indonesia, terutama terhadap nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir melampaui proyeksi sebelumnya. Kondisi tersebut dipicu oleh ketidakpastian global, meningkatnya permintaan valuta asing di dalam negeri, serta keluarnya modal asing dari pasar keuangan Indonesia.

Selain menaikkan BI Rate menjadi 5,5 persen, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,5 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing.

Rupiah dan IHSG Menguat, Tetapi Investor Asing Belum Percaya

Respons awal pasar terhadap kebijakan tersebut relatif positif. Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sama-sama menguat setelah pengumuman Bank Indonesia.

Namun demikian, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih di pasar saham Indonesia. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apakah kenaikan suku bunga sudah cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar?

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai keputusan Bank Indonesia bukan sekadar kenaikan suku bunga biasa.

“Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga biasa. Ini merupakan sinyal yang cukup kuat dari Bank Indonesia bahwa kondisi saat ini sudah cenderung melampaui ambang batas yang dapat ditoleransi,” kata Josua Pardede dalam wawancara Kompas Bisnis.

Menurut Josua, langkah mendadak tersebut menunjukkan keseriusan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang semakin kuat.

BI Sudah Bergerak, Kini Giliran Fiskal Berbenah

Meski BI naikkan suku bunga, Josua menilai pasar tidak hanya melihat kebijakan moneter. Investor juga menunggu langkah konkret pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan fiskal.

Menurutnya, pasar saat ini membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan anggaran, kualitas belanja negara, serta kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal di tengah berbagai program prioritas yang sedang dijalankan.

“Investor saat ini tidak hanya melihat angka defisit APBN, tetapi juga kualitas belanja negara dan bagaimana risiko fiskal dikelola,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ruang gerak Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendirian. Stabilitas ekonomi memerlukan koordinasi kuat antara kebijakan moneter dan fiskal.

Program Prioritas Harus Efisien dan Tepat Sasaran

Josua secara khusus menyoroti pentingnya desain ulang berbagai program prioritas pemerintah agar tidak menjadi beban struktural baru bagi APBN.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, program tersebut penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. Namun, implementasinya harus dilakukan secara bertahap dan berbasis efisiensi.

“Program ini penting, tetapi pelaksanaannya harus tepat sasaran, memiliki pengawasan yang kuat, dan tidak menjadi beban permanen bagi fiskal negara,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah dinilai perlu memastikan pengadaan berjalan transparan, berbasis persaingan sehat, serta memiliki mekanisme audit yang jelas.

Pasar Menunggu Transparansi dan Kepastian

Di tengah gejolak global, Josua menilai kepercayaan pasar tidak hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya, investor lebih menaruh perhatian pada transparansi kebijakan, konsistensi regulasi, serta kemampuan pemerintah mengelola risiko fiskal.

Ia menyarankan pemerintah menyampaikan peta jalan fiskal yang jelas, termasuk skenario menghadapi kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, hingga peningkatan biaya utang negara.

Selain itu, laporan risiko fiskal yang lebih terbuka dinilai penting untuk memberikan kepastian kepada pelaku pasar.

“Pasar tidak hanya ingin mendengar target defisit. Pasar juga ingin mengetahui risiko yang mungkin muncul dan bagaimana pemerintah mengantisipasinya,” kata Josua.

Kepercayaan Investor Jadi Taruhan

Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga menunjukkan bahwa stabilitas rupiah saat ini menjadi prioritas utama. Namun, keberhasilan menjaga kepercayaan investor tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter.

Jika Bank Indonesia sudah “mati-matian” menjaga rupiah melalui instrumen suku bunga dan intervensi pasar, maka pemerintah dituntut melakukan pembenahan fiskal yang lebih terukur, transparan, dan kredibel.

Pada akhirnya, stabilitas rupiah, arus modal asing, dan pertumbuhan ekonomi akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia bekerja dalam satu arah.