DIKSIMERDEKA.COM TEHERAN — Iran menyatakan belum ada kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz di tengah memanasnya konflik kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu muncul ketika Israel disebut sedang menyiapkan perluasan operasi militer di Lebanon dan serangan terus berlanjut di Gaza, Selasa (27/5/2026).

Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri, mengatakan negosiasi dengan Washington masih berlangsung dan belum menghasilkan keputusan final.

“Selama semua persoalan belum disepakati, maka kami menganggap belum ada kesepakatan apa pun,” kata Bagheri kepada wartawan di sela forum keamanan di Moskow, seperti dikutip kantor berita Rusia RIA Novosti.

Bagheri menyebut Iran kini sedang membahas mekanisme baru pelayaran Selat Hormuz bersama Oman. Jalur strategis tersebut praktis terganggu sejak perang pecah pada Februari lalu.

“Iran dan Oman sebagai negara pesisir yang berbatasan sedang merundingkan mekanisme baru untuk pelintasan di Selat Hormuz,” ujarnya.

Baca juga :  Trump Keras soal Proposal Damai Iran, Sebut Teheran “Belum Bayar Harga yang Cukup”

Ia juga membantah isu uranium diperkaya menjadi agenda utama pembicaraan Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim uranium Iran akan segera dipindahkan ke AS untuk dimusnahkan.

Sementara itu, Korea Selatan mengungkap hasil investigasi serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz pada 4 Mei lalu kemungkinan melibatkan rudal Iran. Kapal milik perusahaan pelayaran HMM Co tersebut dilaporkan dihantam dua objek udara tak dikenal hingga memicu kebakaran dan melukai seorang awak kapal.

Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan Park Yoon-joo mengatakan berbagai bukti mengarah ke Iran, termasuk serpihan komponen mesin yang disebut mirip turbojet buatan Iran. Meski demikian, Seoul belum memastikan apakah serangan itu dilakukan secara sengaja.

Di sisi lain, pejabat Garda Revolusi Iran atau IRGC menyatakan kemungkinan perang besar dengan Amerika Serikat relatif kecil. Namun, Iran mengaku siap menghadapi serangan apa pun.

Baca juga :  Trump Kritik Paus Leo XIV: ‘Saya Bukan Penggemarnya, Dia Terlalu Liberal!

“Hari ini kemungkinan perang memang rendah karena kelemahan musuh, tetapi angkatan bersenjata kami tetap siaga penuh,” kata Wakil Kepala Politik Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh kepada kantor berita Tasnim.

Akbarzadeh bahkan mengancam akan mengubah wilayah pesisir selatan Iran dari Chabahar hingga Mahshahr menjadi “kuburan bagi para agresor”.

Sementara itu, Israel mengklaim telah membunuh Mohammed Odeh, kepala sayap militer Hamas, dalam serangan udara di Gaza City pada Kamis malam. Jika terkonfirmasi, Odeh menjadi pemimpin kedua Brigade Qassam yang tewas dalam waktu kurang dari dua pekan.

Militer Israel menyebut operasi bersama badan intelijen Shin Bet itu menyasar sejumlah bangunan di Gaza utara yang diklaim sebagai tempat persembunyian Odeh. Israel menuduh Odeh sebagai salah satu perancang serangan 7 Oktober 2023.

Baca juga :  AS–Iran Kembali Berunding, Nasib Gencatan Senjata Dipertanyakan

“Kami berkomitmen menghabisi semua pihak yang memimpin pembantaian 7 Oktober,” kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz melalui akun X miliknya.

Di Lebanon, Israel disebut tengah menyiapkan perluasan operasi terhadap Hizbullah. Serangan udara Israel terus menghantam berbagai infrastruktur yang diklaim terkait kelompok tersebut.

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah juga memicu dampak kemanusiaan global. Program Pangan Dunia PBB atau WFP memperingatkan perang Iran-Israel memperparah krisis kelaparan dunia akibat lonjakan harga minyak dan gangguan distribusi pangan.

WFP mencatat sedikitnya 363 juta orang kini berada dalam risiko kelaparan akut, termasuk sekitar 45 juta orang yang terdampak konflik Timur Tengah.

“Kami mengambil dari mereka yang lapar untuk diberikan kepada mereka yang kelaparan parah. Itulah kenyataannya,” kata Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP Carl Skau kepada Guardian