Harga BBM AS Tembus Rekor Tertinggi Sejak 2022, Efek Gejolak Selat Hormuz
DIKSIMERDEKA.COMWASHINGTON, — Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi sejak 2022 di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.
Berdasarkan data lembaga otomotif AAA, harga rata-rata bensin di AS kini mencapai US$4,23 per galon. Angka ini menjadi rekor tertinggi sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan tersebut sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah global. Harga minyak Brentacuan utama pasar energi duniatercatat sebesar US$114,60 per barel, naik hampir 25 persen dibandingkan titik terendah pada pertengahan April. Setahun sebelumnya, harga bensin di AS masih berada di kisaran US$3,16 per galon.
Lonjakan harga energi ini terjadi ketika pemerintah AS mempertimbangkan opsi memperpanjang blokade di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan ekspor minyak Iran sekaligus meningkatkan risiko gangguan pasokan dunia.
Analis Bank of America memperingatkan bahwa dampak kenaikan harga energi dapat meluas ke sektor lain, seperti bahan pangan dan utilitas, meski hingga kini belum terlihat dampak signifikan secara luas.
Presiden Donald Trump disebut telah meminta para pembantunya menyiapkan skenario blokade jangka panjang terhadap Iran. Langkah ini dinilai sebagai opsi yang lebih aman dibandingkan eskalasi militer terbuka atau penghentian konflik tanpa kesepakatan nuklir.
Dalam pernyataannya kepada media, Trump menyebut blokade sebagai langkah yang lebih efektif dibandingkan serangan militer langsung. Ia juga menegaskan tidak akan mencabut kebijakan tersebut selama Iran masih memiliki ambisi pengembangan senjata nuklir.
Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam. Data Lloyd’s List Intelligence menunjukkan jumlah kapal yang melintas hanya 35 unit dalam sepekan terakhir, turun dari 78 kapal pada pekan sebelumnya. Sebelum konflik, rata-rata sekitar 130 kapal melintas setiap hari.
Trump juga mengklaim bahwa Iran berada dalam kondisi “hampir runtuh” dan berupaya mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, pernyataan tersebut belum mendapat konfirmasi independen.
Kenaikan harga minyak juga dipengaruhi faktor musiman, seperti perawatan kilang dan meningkatnya permintaan selama musim perjalanan musim semi hingga musim panas di AS.
Di tengah tekanan biaya energi, survei Conference Board menunjukkan kepercayaan konsumen AS justru meningkat pada April, meski masyarakat mulai mengurangi rencana perjalanan dalam enam bulan ke depan.
Situasi semakin kompleks setelah Uni Emirat Arab mengumumkan keluar dari kartel minyak OPEC. Langkah ini dinilai menguntungkan posisi AS, yang sebelumnya mengkritik OPEC karena dianggap memengaruhi harga minyak global.
Lonjakan harga energi juga berdampak pada sektor penerbangan. Biaya bahan bakar pesawat meningkat lebih dari 70 persen sejak awal konflik, memaksa sejumlah maskapai menaikkan tarif, mengurangi rute, dan menambah biaya tambahan bagi penumpang.
Di Eropa, harga bahan bakar aviasi bahkan naik hampir 84 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Direktur Jenderal International Air Transport Association, Willie Walsh, memperingatkan potensi pembatasan pasokan bahan bakar, terutama di Asia dan Eropa. Namun, ia menilai permintaan perjalanan udara masih tetap kuat meski biaya operasional meningkat.
Kenaikan harga energi global ini memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada sektor militer, tetapi juga langsung memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.

Tinggalkan Balasan