Trump Ngamuk! Iran Dituding Main Ulur Waktu Sampai Pemilu AS
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan tudingan keras kepada Iran. Kali ini, Trump menilai Teheran sengaja memperlambat negosiasi damai demi menunggu hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang.
Menurut Trump, Iran berharap bisa mendapatkan posisi tawar lebih kuat jika situasi politik domestik AS berubah usai pemilu.
“Mereka pikir bisa menunggu saya sampai pemilu selesai. Mereka ingin mengulur waktu,” kata Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Rabu waktu setempat.
Trump mengeklaim strategi Iran itu tidak akan berhasil. Ia bahkan menyebut ekonomi Iran saat ini sedang runtuh akibat tekanan perang dan sanksi.
“Mereka (Iran- red) punya inflasi 250 persen. Mata uang mereka tidak bernilai. Sistem ekonomi mereka rusak total,” ujar Trump.
Pernyataan Trump muncul saat negosiasi penghentian konflik Iran-AS disebut memasuki tahap kritis. Namun di saat yang sama, Trump justru mengirim sinyal bertolak belakang terkait peluang perdamaian.
Di satu sisi, Trump mengatakan kesepakatan damai hampir tercapai. Namun di sisi lain, ia menegaskan Amerika Serikat siap “menyelesaikan semuanya” bila negosiasi gagal.
“Kami belum puas dengan kesepakatan itu. Tapi kami akan puas. Kalau tidak, kami akan menyelesaikannya,” katanya.
Trump juga menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk semua negara. Jalur laut strategis itu sebelumnya menjadi lintasan sekitar 20 persen distribusi energi dunia sebelum konflik pecah.
“Tidak ada yang akan menguasai Selat Hormuz. Itu perairan internasional,” ucap Trump.
Namun pernyataan paling keras muncul saat Trump menyinggung kemungkinan tindakan militer jika ada pihak yang mencoba mengendalikan selat tersebut.
“Kami akan mengawasinya. Jika ada yang mencoba mengontrolnya, kami akan menghancurkan mereka,” ujar Trump.
Di tengah panasnya negosiasi, tekanan justru datang dari internal Partai Republik sendiri. Sejumlah senator Partai Republik memperingatkan Trump agar tidak terlalu lunak terhadap Iran.
Dilansir The Guardian, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS Roger Wicker menyebut rencana gencatan senjata 60 hari dengan Iran sebagai “bencana”.
“Semua pencapaian operasi militer Amerika akan sia-sia,” katanya di media sosial.
Senator Lindsey Graham juga ikut memperingatkan bahwa Iran bisa tampil sebagai kekuatan dominan di Timur Tengah jika tetap diberi ruang mengontrol kawasan Teluk.
“Jika Iran masih mampu mengancam Selat Hormuz dan infrastruktur minyak Teluk, itu akan menjadi mimpi buruk bagi Israel,” kata Graham.
Senator Ted Cruz bahkan menyebut kesepakatan itu berpotensi menjadi bumerang jika Iran tetap bisa memperkaya uranium dan memperoleh miliaran dolar dari pencabutan sanksi.
Meski menuai kritik, Trump tetap bersikeras negosiasi berjalan baik. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan mengatakan dunia mungkin segera mendapat “kabar baik” dalam beberapa jam ke depan.
Konflik Iran-AS sendiri telah mengguncang pasar energi global dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas Timur Tengah. Hingga kini, pembicaraan damai masih berlangsung di tengah ancaman serangan dan perang terbuka yang sewaktu-waktu bisa kembali meledak.

Tinggalkan Balasan