DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON-Hubungan Amerika Serikat dan Kuba kembali mendidih.Presiden AS Donald Trump bahkan terang-terangan membuka kemungkinan aksi militer terhadap Kuba.

Ancaman itu muncul hanya sehari setelah pemerintah AS mengumumkan dakwaan pidana terhadap mantan pemimpin Kuba, Raúl Castro.

“Presiden-presiden sebelumnya sudah memikirkan ini selama 50 atau 60 tahun. Dan sepertinya saya yang akan melakukannya,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Ucapan Trump langsung bikin Havana tegang.

ADilansir Reuters, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga ikut memperkeras tekanan. Rubio menyebut Kuba sebagai ancaman keamanan nasional karena hubungan dekatnya dengan Rusia dan China.

Meski mengaku lebih memilih solusi damai, Rubio terang-terangan pesimistis diplomasi dengan pemerintah Kuba saat ini bisa berhasil.

“Preferensi kami tetap solusi damai, tapi kemungkinan itu terjadi sangat kecil,” ujar Rubio di Miami sebelum berangkat ke pertemuan NATO di Swedia.

Pemerintah Trump disebut sudah beberapa kali melakukan pembicaraan dengan pejabat Kuba. Namun Washington mengaku kecewa dengan hasilnya dan justru memperketat sanksi terhadap Havana.

Situasi makin panas setelah jaksa federal AS mendakwa Raúl Castro terkait insiden penembakan dua pesawat sipil kelompok eksil Kuba pada 1996 yang menewaskan empat orang.

Pemerintah Kuba langsung murka.

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyebut dakwaan tersebut hanya akal-akalan politik untuk membenarkan agresi militer AS terhadap Kuba.

Di Havana, warga mulai dihantui ketakutan akan kemungkinan serangan militer AS. Bahkan muncul kekhawatiran rumah pejabat tinggi Kuba bisa menjadi target jika konflik benar-benar pecah.

Ketegangan makin menjadi setelah kapal induk USS Nimitz milik AS masuk ke kawasan Karibia bersamaan dengan pengumuman dakwaan terhadap Castro.

Washington kini terlihat makin agresif menekan Kuba lewat kombinasi ancaman militer, blokade energi, sanksi ekonomi, dan tekanan diplomatik.

Akibat tekanan itu, Kuba menghadapi krisis listrik, kelangkaan pangan, hingga ekonomi yang makin kolaps.

Di sisi lain, China langsung membela Kuba.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menegaskan Beijing menolak campur tangan asing terhadap Kuba dan mendukung penuh kedaulatan Havana.