DIKSIMERDEKA.COM BUONES AIRES-Argentina mencatat lonjakan tajam kasus hantavirus sepanjang musim 2025-2026. Otoritas kesehatan setempat melaporkan 32 kematian dan jumlah infeksi tertinggi sejak 2018.

Lonjakan tersebut terjadi saat pemerintah Argentina masih menelusuri jejak pasangan asal Belanda yang meninggal dunia setelah melakukan perjalanan panjang sebelum menaiki kapal pesiar MV Hondius yang kini menjadi pusat wabah hantavirus internasional.

Kapal tersebut berangkat dari Ushuaia, Argentina selatan, pada 1 April lalu dan kini menuju Kepulauan Canary, Spanyol.

Kementerian Kesehatan Argentina menyebut musim wabah yang dimulai Juni 2025 sudah mencatat 101 kasus hantavirus terkonfirmasi. Jumlah itu melonjak drastis dibanding periode yang sama musim sebelumnya yang hanya mencatat 57 kasus.

Ahli Sebut Perubahan Iklim Jadi Penyebab

Para ahli menyebut perubahan iklim dan kerusakan habitat menjadi faktor utama meningkatnya kasus hantavirus di Argentina.

Baca juga :  Ahli Gizi IPB: Diet Karnivora Bisa Picu Gangguan Usus hingga Risiko Kanker

Virus tersebut biasanya menyebar melalui urine atau kotoran hewan pengerat yang terinfeksi.

Kementerian Kesehatan Argentina menjelaskan meningkatnya interaksi manusia dengan lingkungan liar, pembangunan kawasan baru di daerah pedesaan, hingga perubahan iklim memperluas habitat tikus pembawa virus.

Pakar penyakit menular Eduardo López mengatakan perubahan suhu dan cuaca ekstrem membuat tikus berekor panjang, pembawa utama virus di Argentina dan Chile, lebih mudah berkembang di wilayah baru.

“Hewan pengerat ini lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, yang bisa menjelaskan peningkatan kasus yang kita lihat sekarang,” kata López.

Selain itu, kebakaran hutan dan perubahan pola wisata juga disebut meningkatkan risiko penyebaran virus.

Baca juga :  Wagub Cok Ace Tegaskan Kesehatan Prioritas Utama Dalam Pemulihan Ekonomi Bali

Wakil Presiden Latin American Society of Vaccinology, Roberto Debbag, memperingatkan wisatawan yang masuk ke daerah berisiko tanpa pengelolaan lingkungan yang baik dapat menghadapi ancaman besar.

MV Hondius Jadi Sorotan Dunia

Wabah di kapal MV Hondius ikut memicu kekhawatiran global setelah sejumlah penumpang meninggal dan lainnya harus dievakuasi.

Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menegaskan wabah ini berbeda jauh dengan pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan secara khusus mengirim pesan kepada warga Tenerife, Spanyol, yang khawatir dengan kedatangan kapal tersebut.

“Ini bukan Covid-19 baru,” kata Tedros.

Pakar kesehatan dari University of Cambridge, Charlotte Hammer, menjelaskan strain Andes hantavirus memang dapat menular antarmanusia, tetapi hanya melalui kontak sangat dekat dan berkepanjangan.

Baca juga :  Peneliti IPB Temukan Tanaman Penurun Gula Darah, Berpotensi Jadi Obat Diabetes!

Ia menyebut kapal pesiar menjadi tempat yang rentan karena penumpang berada dalam ruang tertutup dan berinteraksi dalam waktu lama.

Namun Hammer menegaskan potensi penularan hantavirus sangat berbeda dibanding Covid-19.

Pemerintah Argentina Lakukan Investigasi

Tim kesehatan Argentina kini dikirim ke Ushuaia untuk menangkap dan meneliti tikus di jalur perjalanan pasangan Belanda yang diduga terpapar virus sebelum naik kapal.

Namun pejabat epidemiologi Tierra del Fuego, Juan Petrina, mengatakan waktu perjalanan pasangan tersebut dinilai terlalu singkat untuk tertular di wilayah itu.

Ia juga membantah rumor yang menyebut pasangan tersebut sempat mengunjungi lokasi pembuangan sampah sebelum menaiki kapal.