DIKSIMERDEKA.COM HORMUZ ribuan pelaut yang terjebak Selat Hormuz kini menghadapi tekanan berat, bukan hanya secara fisik tetapi juga mental. Setelah enam minggu terdampar di Teluk Arab , salah satu awak kapal tanker mengaku sudah mencapai batas kemampuan dirinya alias menyerah.

“Anda bisa mencoba meminimalkan dampaknya terhadap kesehatan mental, tapi ini mulai menjadi mustahil,” ujarnyakepada Media Inggris The Guardian.

Situasi ini terjadi di tengah konflik Iran yang membuat sekitar 20.000 pelaut terjebak di jalur vital Selat Hormuz.


⚠️ Kapal Tak Bergerak

Hingga kini, kapal-kapal tanker masih tertahan di laut tanpa kepastian.

“Kami berlabuh, di dekat puluhan kapal tanker bermuatan. Tidak ada satu pun yang bergerak,” kata seorang awak kapal.

Mereka bahkan menyaksikan langsung kapal tanker Kuwait yang terbakar akibat serangan rudal Iran beberapa waktu lalu.

Baca juga :  400 Kg Uranium 60% dan 8.Ton Stok Iran Jadi Sumber Deadlock AS–Iran

💣 Trauma dan Ketakutan

Meski sempat ada gencatan senjata, situasi tetap mencekam. Serangan drone, rudal, hingga ancaman ranjau laut membuat pelaut takut melintas.

“Saya sudah mengajukan pengunduran diri sebulan lalu. Saya tidak mau berlayar melewati selat itu. Ini soal keselamatan,” tegasnya.

Ia menyebut sekitar 90 persen kru di kapalnya memiliki keinginan yang sama: menolak berlayar karena alasan keamanan.


🧠 Tekanan Mental Meningkat

Kondisi ini berdampak serius pada kesehatan mental awak kapal.

Salah satu kru bahkan mengalami gangguan mental serius.

“Saya yakin masalah seperti ini terjadi di banyak kapal lain karena tekanan situasi ini,” ujarnya.

Ia sendiri sempat menghubungi layanan bantuan karena merasa tidak sanggup menahan emosinya.

Baca juga :  Iran Kutuk Serangan AS, Desak PBB dan Negara Islam Bertindak

“Saya kewalahan dan tidak yakin bisa mengendalikan perasaan saya. Setidaknya, berbicara dengan orang asing membantu saya meluapkan semuanya,” katanya.


🌍 Ribuan Keluhan Masuk

Federasi Transportasi Internasional (ITF) mencatat sekitar 1.000 laporan dari pelaut di 300 kapal sejak konflik dimulai.

Sebagian meminta dipulangkan, sementara lainnya mengeluhkan gaji hingga keterbatasan bahan bakar, makanan, dan air.


⚔️ Terjebak Tanpa Kepastian

Pakar maritim David Appleton menyebut kondisi ini sangat berat.

“Semua orang berusaha membantu, tapi yang paling diinginkan adalah mengeluarkan mereka dari situasi ini,” katanya.

Ia menambahkan bahwa selain ancaman kekerasan, ketidakpastian menjadi tekanan terbesar.

“Mereka seperti duduk menunggu tanpa tahu kapan ini akan berakhir,” ujarnya.


💰 Digaji Lebih, Tapi Tetap Tak Aman

Perusahaan pelayaran memang menawarkan gaji dua kali lipat bagi kru di zona berbahaya.

Baca juga :  Trump Ngamuk! Ultimatum Keras ke Iran: Buka Selat Hormuz atau “Neraka Menanti”

Namun, bagi banyak pelaut, uang bukan lagi prioritas.

“Satu-satunya perbedaan antara kami dan pengganti kami adalah pilihan. Mereka memilih datang, kami terjebak di sini,” kata awak kapal itu.


Di Persimpangan Hidup

Kini, banyak pelaut berharap bisa segera diganti dan pulang.

Namun, trauma yang dialami membuat sebagian dari mereka mempertimbangkan untuk meninggalkan profesi ini.

“Saya tidak dalam kondisi mental untuk bekerja setelah semua ini. Ini situasi terberat dalam hidup saya,” ujarnya.

Ia bahkan mengaku belum tahu apakah akan kembali ke laut.

“Saya sudah bekerja di kapal sepanjang hidup saya. Tapi untuk kembali ke sini lagi… saya harus memikirkannya dengan sangat serius,” tutupnya.