DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA — Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi pola khas aktivitas otak atau “sidik jari neural” yang muncul ketika seseorang mengonsumsi obat psikedelik. Temuan ini memberikan gambaran baru tentang bagaimana zat seperti LSD, psilocybin, DMT, meskalin, dan ayahuasca memengaruhi fungsi otak manusia.

Penelitian tersebut didasarkan pada analisis lebih dari 500 pemindaian otak dari ratusan partisipan di berbagai negara. Hasilnya menunjukkan bahwa obat-obatan psikedelik memiliki pola efek yang serupa terhadap cara kerja otak, meskipun berasal dari senyawa yang berbeda.

Temuan ini muncul dari studi besar yang menggabungkan 11 dataset pencitraan otak dari seluruh dunia. Para peneliti berupaya membangun pemahaman yang lebih solid mengenai bagaimana zat-zat tersebut “mengatur ulang” konektivitas otak secara sementara.


Komunikasi Otak Meningkat Drastis

Salah satu temuan paling mencolok adalah meningkatnya komunikasi antar sistem otak. Area yang biasanya bekerja terpisah justru menjadi sangat aktif dan saling terhubung.

Baca juga :  Ketua TP PKK Bali Beri Edukasi Kesehatan Mental Masyarakat

“Lima obat ini yang belum pernah dianalisis bersama sebelumnya ternyata memiliki efek yang sama dalam mengubah fungsi otak,” ujar Dr Danilo Bzdok dari McGill University, Kanada.
“Kelima obat ini membuat cara kerja otak yang biasanya teratur jadi lebih bebas,” jelasnya. “Akibatnya, bagian-bagian otak yang biasanya jarang ‘berkomunikasi’ jadi saling terhubung, sehingga seseorang bisa merasakan kesadaran dirinya dengan lebih kuat.” jelas Bzdok seperti yang dilansir dari The Guardian.
“Karena itu, banyak orang merasa seperti melihat atau memahami dirinya sendiri dengan lebih dalam.” tambahnya.


“Cross-talk” Otak yang Tak Terkendali

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine ini juga menemukan fenomena yang disebut sebagai “cross-talk” atau komunikasi berlebihan antar sistem otak. ” Terjadi komunikasi yang tidak terkendali antar sistem otak,mereka saling berinteraksi secara liar,” kata Bzdok.

Baca juga :  Menelusuri Jejak LSD di Jembrana, Tim Gabungan Sisir Desa Demi Cegah Wabah Meluas

Ini adalah komunikasi berlebihan antar sistem otak,” paparnya,

Interaksi tersebut terutama terjadi antara jaringan otak tingkat tinggi yang berperan dalam pemikiran kompleks dengan jaringan yang lebih primitif yang terkait dengan penglihatan dan sensasi.


Potensi untuk Terapi Kesehatan Mental

Temuan ini menjadi semakin relevan karena penelitian terhadap psikedelik kini berkembang sebagai terapi potensial untuk berbagai gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa penelitian di bidang ini masih membutuhkan fondasi yang lebih kuat.

Kami melihat bidang ini sedang berkembang dan sangat penting, tetapi masih berada di atas fondasi yang rapuh; seperti membangun rumah di atas batang korek api,” jelas Bzdok.

Baca juga :  Tanker Minyak Tertahan Di Selat Hormuz,Ribuan Awak Kapal Minta Dipulangkan : “Kami Sudah di Batas Mental”

” Itulah sebabnya kami memulai penelitian ini dengan tujuan menyediakan dasar yang kuat,” tambahnya.


Butuh Bukti Skala Besar

Peneliti lain, Dr Emmanuel Stamatakis dari University of Cambridge, menekankan pentingnya kolaborasi global dalam penelitian ini. (Bidang ini berkembang dengan cepat. Jika penelitian psikedelik ingin matang secara bertanggung jawab, diperlukan bukti berskala besar dan terkoordinasi,” paparnya.


Studi ini menandai langkah penting dalam memahami cara kerja psikedelik di otak manusia. Dengan pendekatan berbasis data besar, para ilmuwan mulai menemukan pola yang konsisten, sekaligus membuka peluang baru dalam pengembangan terapi kesehatan mental.

Namun demikian, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas penggunaannya di masa depan.