DIKSIMERDEKA.COM,YOGYAKARTA — Bangun tidur tetapi tubuh terasa tidak segar, badan pegal, kepala berat, hingga mudah marah sering dianggap masalah sepele. Padahal kondisi tersebut bisa menjadi tanda gangguan ritme biologis tubuh yang memengaruhi metabolisme dan kesehatan mental.

Dokter Spesialis Kejiwaan dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Ronny Tri Wirasto, menjelaskan tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan fondasi keseimbangan sistem biologis manusia.

Menurutnya, tubuh memiliki pusat pengatur ritme biologis yang berfungsi menyinkronkan perubahan terang dan gelap dengan sistem hormon serta metabolisme tubuh.

“Tubuh sebenarnya mampu menyesuaikan diri. Namun pada sebagian orang, pusat pengatur ini mengalami gangguan sehingga tubuh tidak bisa mengenali perubahan gelap dan terang secara sinkron,” jelas Ronny, Kamis (5/3).

Baca juga :  Dukung Kesehatan Mental, Pemkot Denpasar Gelar Lansia Movement 2023

Dua Kronotipe Tidur Manusia

Ronny menjelaskan secara umum manusia memiliki dua kronotipe atau kecenderungan waktu tidur.

  1. Kronotipe pagi (earlier)
    Orang cenderung tidur lebih awal, sekitar pukul 18.00–19.00, dan bangun lebih pagi.
  2. Kronotipe malam (later)
    Orang baru tidur sekitar pukul 23.00–00.00 atau bahkan lebih larut.

Menurutnya, kedua tipe tersebut sama-sama normal selama kebutuhan tidur tetap terpenuhi.

“Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Yang penting durasi tidur sekitar 7–8 jam dan tubuh masih bisa berkompensasi,” ujarnya.

Utang Tidur Tak Bisa Dibayar Sekali

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa utang tidur bisa langsung diganti dalam satu waktu, misalnya tidur sangat lama di akhir pekan.

Baca juga :  Dokter UGM : Main Game 10 Jam Lebih per Minggu? Siap-Siap Obesitas & Gangguan Mental!

Ronny menegaskan tubuh tidak bekerja seperti itu. Proses metabolisme membutuhkan waktu untuk kembali seimbang.

“Utang tidur tidak bisa langsung dibayar lunas. Metabolisme tubuh bekerja bertahap, sama seperti luka yang butuh waktu sekitar dua minggu untuk pulih,” jelasnya.

Dampak Gangguan Tidur

Jika gangguan tidur berlangsung lama, tubuh dapat mengalami kelelahan organik yang memicu berbagai masalah kesehatan.

Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:

  • jantung berdebar
  • sesak napas
  • mudah terserang infeksi
  • kulit kusam
  • penurunan daya tahan tubuh

Dari sudut pandang psikiatri, tanda paling awal biasanya terlihat pada kondisi emosi.

Mood menjadi tidak stabil, mudah marah, mudah sedih, atau berubah tanpa sebab yang jelas.

Baca juga :  Ny. Putri Suastini Koster Jadi Keynote Speaker Pada Webinar Series Beranda Kesehatan Mental Keluarga

Tiga Cara Menjaga Kualitas Tidur

Ronny menyarankan tiga langkah sederhana untuk menjaga kualitas tidur:

1. Pola makan seimbang
Asupan bergizi dan jadwal makan teratur membantu stabilitas metabolisme.

2. Olahraga rutin
Minimal tiga kali seminggu untuk membantu regulasi tubuh.

3. Manajemen stres
Mengatur respons terhadap emosi agar tidak memicu gangguan tidur.

Selain itu, ia menekankan pentingnya sleep hygiene, seperti mengenali pola tidur pribadi dan menghindari kebiasaan yang mengganggu kualitas istirahat.

“Stress itu pasti ada. Yang perlu diatur adalah respons kita terhadap emosi tersebut,” tegasnya.

Ronny mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh. Tidur yang berkualitas bukan sekadar kebutuhan istirahat, tetapi bagian penting dari menjaga keseimbangan sistem biologis dan kesehatan mental.