DIKSIMERDEKA.COM,BEIRUT– Konflik Timur Tengah makin melebar. Setelah kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, Israel langsung membalas dengan serangan udara besar-besaran ke Beirut dan wilayah selatan Lebanon. Seperti yang dilansir the Guardian.

Data paling mencolok: 55 desa dan kota di Lebanon diperintahkan untuk dievakuasi, sementara Israel mengerahkan 100.000 tentara cadangan (reservis) ke perbatasan Lebanon. Situasi ini memicu kekhawatiran perang regional kembali meledak.

Ledakan Jam 03.00 Dini Hari

Warga Beirut terbangun sekitar pukul 03.00 dini hari akibat belasan ledakan keras. Serangan Israel menghantam tiga lokasi di wilayah selatan ibu kota yang dikenal sebagai basis Hezbollah.

Bangunan di Dahieh terbakar. Kaca-kaca bergetar hingga radius bermil-mil. Di wilayah selatan dekat Tyre, bom dijatuhkan dari udara, meruntuhkan sejumlah bangunan desa.

Baca juga :  Selat Hormuz Ditutup, Harga BBM Terancam Melonjak: DPR Sebut Beban APBN Bisa Naik Rp10,3 Triliun

Hezbollah mengklaim telah lebih dulu menembakkan rentetan rudal dan drone ke fasilitas pertahanan rudal Mishmar al-Karmel dekat Haifa, sekitar tengah malam. Serangan itu disebut sebagai “pembalasan” atas kematian Khamenei dan “pembelaan terhadap Lebanon”.

Israel tak butuh waktu lama. Beberapa jam kemudian, jet tempur menghajar target yang disebut sebagai fasilitas dan petinggi Hezbollah di selatan Lebanon, Lembah Bekaa, dan Dahieh.

Militer Israel mengklaim beberapa perwira senior Hezbollah tewas.

Ultimatum Israel: 1.000 Meter Menjauh!

Juru bicara militer Israel mengeluarkan peringatan keras kepada warga di 55 desa dan kota Lebanon agar menjauh minimal 1.000 meter dari lokasi yang diduga menjadi basis Hezbollah.

Kepala Staf Militer Israel, Letjen Eyal Zamir, menyatakan Hezbollah bertanggung jawab penuh atas eskalasi.

“Siapa pun yang mengancam keamanan kami akan membayar harga mahal.”

Warga Panik, Jalanan Macet Total

Gelombang pengungsian terjadi seketika. Warga Dahieh berhamburan menggunakan mobil dan berjalan kaki. Antrean panjang kendaraan mengular di SPBU Tyre. Jalan menuju Beirut macet total, dipenuhi mobil, motor, dan puing bangunan.

Baca juga :  400 Kg Uranium 60% dan 8.Ton Stok Iran Jadi Sumber Deadlock AS–Iran

Video beredar menunjukkan atap bangunan dilalap api dan kendaraan hangus di kaki gedung yang runtuh.

Ingatan akan perang 13 bulan Israel–Hezbollah yang berakhir 2024 kembali menghantui. Saat itu, hampir 4.000 orang tewas dan 1 juta warga mengungsi.

Kini, bayang-bayang tragedi serupa kembali terasa.

Pemerintah Lebanon “Sentil” Hezbollah

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, secara terbuka mengkritik keputusan penyerangan tanpa konsultasi negara.

“Kami tidak akan membiarkan Lebanon terseret dalam petualangan baru,” tegasnya.

Ia menyebut peluncuran roket sebagai tindakan tidak bertanggung jawab yang justru memberi Israel alasan memperluas agresi.

Baca juga :  1 Prajurit TNI UNIFIL Gugur di Lebanon! Misi Perdamaian Berubah Jadi Medan Maut

Analisis: Konflik Iran Menular, Lebanon Jadi Medan Berikutnya?

Serangan balasan ini menandai fase baru konflik. Kematian Khamenei bukan hanya mengguncang Iran, tetapi membuka front tambahan di Lebanon.

Ada tiga indikator eskalasi serius:

  1. Pengerahan 100 ribu reservis – bukan operasi kecil.
  2. Evakuasi massal 55 wilayah – tanda potensi perang darat.
  3. Serangan simultan Beirut, Bekaa, dan selatan Lebanon – pola kampanye militer luas.

Jika Hezbollah terus merespons, konflik bisa berubah menjadi perang regional yang melibatkan Iran secara langsung.

Harga minyak dunia sudah merangkak naik, terutama karena kekhawatiran jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu. Artinya, dampaknya bukan hanya di Timur Tengah, tapi bisa merembet ke ekonomi global.

Pertanyaannya: apakah ini hanya aksi balas terbatas, atau awal babak baru perang kawasan?