DIKSIMERDEKA.COM, TEHERAN Kabar mengejutkan datang dari Iran. Dewan Tertinggi Keamanan Nasional disebut mengonfirmasi gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Ahad (1/3/2026). Ia dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat–Israel yang menghantam sejumlah titik strategis di Teheran.

Kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, menyebut Khamenei gugur pada Sabtu pagi saat memimpin operasi perlawanan dari kantornya. Dalam laporan itu, ia disebut berada di garis komando ketika serangan terjadi.

Tak hanya itu. Sumber yang dikutip media Iran menyatakan sejumlah anggota keluarga Khamenei juga menjadi korban. Putri, menantu, cucu, hingga istri anaknya disebut turut gugur dalam serangan tersebut.

Trump Klaim Operasi Sukses

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kematian Khamenei dalam pernyataannya kepada media. Ia menyebut operasi militer yang menargetkan Iran sebagai langkah “adil” bagi rakyat Iran dan Amerika.

Baca juga :  Sadis! AS Gempur Rudal Iran di Hormuz Pagi Buta

“Pemimpin Tertinggi Iran tidak bisa lolos dari intelijen dan sistem pelacakan Amerika yang sangat canggih,” ujar Trump, seperti dikutip Al Jazeera.

Trump bahkan menegaskan, pemboman intensif akan terus berlanjut selama diperlukan. Targetnya jelas: melumpuhkan struktur pengambil keputusan di Iran dan memaksa perubahan politik besar di negara itu.

Ia juga mengklaim banyak anggota Garda Revolusi Iran tak lagi ingin berperang dan membuka peluang pengampunan jika bersedia bergabung dengan “rakyat Iran yang patriotik”.

Baca juga :  Ledakan Guncang Lviv, Polisi Wanita Tewas Saat Rusia Hujani Ukraina 50 Rudal

Iran Bungkam, Bantahan Muncul

Meski klaim kematian Khamenei sudah diumumkan Washington, hingga berita ini diturunkan belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran. Namun, seorang anggota Komite Keamanan Nasional parlemen Iran membantah keras klaim tersebut.

Menurut koresponden Al Jazeera di Teheran, pejabat parlemen itu menyebut pernyataan Trump sebagai bagian dari perang psikologis.

“Pemimpin Tertinggi Iran memimpin langsung pertempuran dan mengambil keputusan perang,” tegasnya.

Sementara itu, media Israel lebih dulu melaporkan kabar kematian Khamenei sebelum dikonfirmasi Trump. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel.

Diplomasi atau Perang Total?

Dalam wawancara dengan Axios dan NBC News, Trump mengaku memiliki beberapa opsi. Ia bisa melanjutkan perang dan mengendalikan situasi sepenuhnya, atau mengakhirinya dalam dua hingga tiga hari jika ada respons yang sesuai dari Teheran.

Baca juga :  AS dan Iran Kembali Baku Tembak di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Melonjak

Trump memperkirakan Iran membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari serangan ini. Meski begitu, ia mengisyaratkan masih terbuka pada jalur diplomasi, kendati perundingan nuklir AS-Iran di Jenewa sebelumnya gagal.

Situasi di Timur Tengah kini berada di titik paling panas dalam beberapa tahun terakhir. Dunia menunggu: apakah ini awal perang besar, atau justru pintu menuju negosiasi baru?

Yang jelas, jika kabar gugurnya Khamenei benar, peta politik Iran—bahkan kawasan—akan berubah drastis.