DIKSIMERDEKA.COM,JAKARTA Tren diet karnivora yang hanya mengandalkan konsumsi pangan hewani tanpa asupan nabati( tumbuh-tumbuhan dinilai tidak aman jika diterapkan masyarakat umum. Peringatan ini disampaikan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof Sri Anna Marliyati.

Menurut ahli food science-nutrition tersebut, pola makan ekstrem ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama jika dijalani dalam jangka panjang.

“Diet karnivora tidak direkomendasikan karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang dan tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum. Mungkin dapat diterapkan sementara pada individu tertentu dengan pengawasan medis ketat, tetapi tidak aman untuk populasi umum,” ujar Prof Sri Anna.

Baca juga :  Jangan Gampang Percaya: Kopi Tak Bisa Gantikan Obat Diabetes

⚠ Turun Berat Badan Cepat, Tapi Bukan Lemak Sehat

Dalam jangka pendek, diet ini memang bisa membuat berat badan turun cepat. Namun, kondisi itu lebih banyak disebabkan berkurangnya cadangan glikogen dan cairan tubuh.

“Adaptasi metabolik pada fase awal diet karnivora sering kali disertai keluhan seperti kelelahan, konstipasi, bau napas, hingga kram otot,” kata dia.


🥩 Risiko Kekurangan Zat Gizi Penting

Dalam jangka panjang, risiko dinilai jauh lebih serius karena diet ini tidak seimbang secara zat gizi.

“Hampir pasti terjadi defisit serat, vitamin C, folat, dan berbagai fitokimia,” ungkapnya.


❤️ Ancaman untuk Jantung, Ginjal, dan Usus

Konsumsi pangan hewani tanpa sayur dan buah cenderung tinggi lemak jenuh dan kolesterol. Kondisi ini berpotensi meningkatkan LDL atau kolesterol jahat, terutama pada individu dengan riwayat dislipidemia.

Baca juga :  Puskesmas IV Denpasar Pantau Kesehatan KK Miskin

Selain itu, asupan protein tinggi dapat membebani kerja ginjal karena harus menyaring limbah nitrogen lebih berat, sehingga berisiko memicu kerusakan ginjal hingga gagal ginjal.

Di saluran cerna, ketiadaan serat dapat memicu konstipasi dan ketidakseimbangan mikrobiota usus. Produksi asam empedu berlebih juga berpotensi memicu peradangan kronis hingga meningkatkan risiko kanker kolorektal.

Ia juga menyoroti hilangnya produksi short-chain fatty acids (SCFA) seperti butirat akibat tidak adanya serat nabati.

“Padahal SCFA memiliki efek protektif terhadap kesehatan usus, sistem imun, dan metabolisme tubuh. Risiko-risiko ini sering kali bersifat silent dan kumulatif,” katanya.

Baca juga :  Waspada! Penyakit Liver MSLD Diam-Diam Ancam 1,8 Miliar Orang di 2050

🥗 Diet Seimbang Lebih Aman

Sebagai alternatif, Prof Sri Anna menyarankan pola makan seimbang seperti Mediterranean diet yang tinggi serat dan lemak sehat serta terbukti menurunkan risiko penyakit tidak menular.

Selain itu, diet tinggi protein seimbang juga dinilai lebih aman dengan komposisi protein sekitar 20–25 persen energi, tetap disertai karbohidrat kompleks dan serat.

Ia juga menekankan penerapan pola gizi seimbang melalui konsep “Isi Piringku”.

“Pola ini mudah diterapkan, sesuai budaya makan Indonesia, dan aman untuk populasi luas,” tutupnya.