Menteri Arifah Hadiri Ngaji Budaya Majelis Nyala Purnama
DIKSIMERDEKA.COM, – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Choiri Fauzi menghadiri Ngaji Budaya Majelis Nyala Purnama di gedung Makara Art Center Universitas Indonesia pada Rabu (14/05/2025). Kegiatan ini diinisiasi oleh
Makara Art Center UI bekerjasama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia.
Di samping ngaji budaya, pada kesempatan tersebut juga dilangsungkan acara peluncuran buku berjudul “Oase Hikmah Para Masyayikh” karya Dr. Ngatawi Al-Zastrouw yang merupakan Kepala Makara Art center Universitas Indonesia sekaligus Pembina Komoenitas Makara.
Dalam kesempatan itu, Ngatawi Al-Zastrouw mengatakan acara ini mengajak para hadirin untuk meresapi cahaya purnama bersama berbagai macam genre seni yang menghangatkan jiwa dari sejumlah penampil seniman.

“Padhang bulan, atau purnama merupakan momentum sarat makna bagi bangsa Nusantara. Banyak ritual bersifat magis dan kultural yang dilaksanakan di bulan purnama. Dalam beberapa syair tembang religi karya para wali , Padhang bulan menjadi simbol sebagai jalan terang nur ilahi. Inilah yang menyebabkan tradisi purnama selalu menjadi media introspeksi dan munajat pada ilahi.”, ujar Dr. Ngatawi Al-Zastrouw.
Lebih lanjut ia mengatakan Majelis Nyala Purnama merupakan ruang bagi segala ekspresi rasa kemanusiaan. Dilakukan saat bulan purnama, menjadi sebuah ilham yang tak pernah lekang ditelan zaman. Saat bulan berada dalam bentuk utuhnya dipercaya sebagai waktu yang paling kuat untuk berbicara dengan roh leluhur atau memanjatkan doa.
Ia menjelaskan nulan purnama terjadi ketika bulan dan matahari berada di tiap sisi bumi yang berseberangan atau bulan kembali pada posisi yang sama setelah mengelilingi bumi. Bulan purnama memiliki kekuatan energi murni sehingga sering terjadi fenomena alam seperti air pasang, migrasi juga perkembangbiakan spesies tertentu.
Pada saat itu orang Jawa melakukan pelepasan diri dari kehidupan duniawi dengan laku spriritual untuk mencapai kondisi kemanunggalan dengan Yang Mutlak, atau Manunggaling Gusti kalawan kawula.
Minimal untuk menjaga kesehatan jasmani-rohani, mental-spiritual, dan keselarasan semesta, menyeimbangkan harmonisasi alam.
“Bahkan tercatat dalam naskah-naskah Jawa, waktu bulan purnama juga dimanfaatkan untuk dolanan anak dengan permainan yang memiliki makna filosofis tertentu.”, tambah Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani.
Turut hadir juga Irjen Pol. Muhammad Zainul Muttaqien, S.H., S.I.K., Map yang merupakan Deputi Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), Ketua Umum Yayasan Global CEO Indonesia Trisya Suherman, dan Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (PPKB FIB UI) Dr. Lily Tjahjandari
Reporter: Torben Rando
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan