DIKSIMERDEKA.COM, KLUNGKUNG, BALI – Kesedihan mendalam terpancar dari raut keluarga almarhum taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, Putu Satria Ananta Rustika, korban meninggal akibat kekerasan yang dilakukan seniornya.

Ayahnya, Ketut Swastika dan ibunya, Ni Nengah Rusmini hingga tak bisa berkata-kata saat awak media ini menemuinya di rumah duka. Hanya adiknya, Kadek Anandita Pradnya Swari mengungkapkan harapan agar kasus yang menimpa kakaknya diusut tuntas.

“Harapan saya dan keluarga agar Kak Rio (Nama panggilan korban, red) mendapat keadilan yang seadil-adilnya itu harapan terbesar saya dan keluarga,” ujar Anandita saat ditemui di setra (kuburan) Desa Adat Gunaksa di sela-sela kegiatan pengabenan, Jumat (10/5/2024).

Baca juga :  Orang Tua Satria Sempat Dikabari Anaknya Meninggal Serangan Jantung

“Semoga para pelaku mendapat hukuman setimpal dan seberat-beratnya atas apa yang diperbuat kepada kak Rio semoga mendapat karmanya,” tegas Anandita.

Disinggung terkait adanya tawaran beasiswa yang diberikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Ia mengaku belum mau memikirkan selain keadilan bagi kakaknya. “Untuk itu saya masih memikirkan, belum ada pikiran kesana, yang terpenting saat ini kakak saya mendapat keadilan,” tandasnya.

Baca juga :  KMHDI Minta Kasus Pembunuhan Taruna di STIP Jakarta Diusut Tuntas

Sementara itu salah satu tokoh pemuda Gunaksa, sekaligus anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Provinsi Bali, Ketut Juliarta yang mengadvokasi pihak keluarga menyebut dirinya telah bertemu dengan Menteri Perhubungan untuk melakukan koordinasi agar kedepanya kejadian serupa tidak lagi terjadi.

Ia mengecam peristiwa ini, dan mengingatkan Menteri Perhubungan dapat mengambil pelajaran serius dari kejadian ini. Ia menilai sistem senioritas kepangkatan menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan seperti ini.

Baca juga :  Lautan Manusia Iringi Pengabenan Taruna STIP Jakarta Korban Kekerasan Senior  

“Kedepanya agar penggunaan pangkat-pangkat seperti itu untuk ditiadakan, karena mereka (senior, red) merasa hebat dengan tanda kepangkatan itu,” ujar Juliarta.

Lebih lanjut menurutnya harus ada reformasi pada kurikulum yang digunakan dalam proses pembelajaran. “Reformasi kurikulum sangat diperlukan, karena semua sekarang sudah berbasis pada teknologi, agar kedepannya tidak ada lagi hal serupa ini pukulan bagi dunia pendidikan,” tandasnya.

Reporter: Dewa Fathur