DIKSIMERDEKA.COM KUTA SELATAN – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMA Negeri 1 Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, langsung dipantau oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, Kamis (5/11/2026). Meski di atas kertas pelaksanaan ujian ini diklaim berjalan mulus tanpa pelanggaran, Wamen Atip tak mau sekadar dengar laporan ‘Asal Bapak Senang’. Ada catatan kritis yang langsung jadi sorotan tajam, mulai dari urusan teknis hingga kualitas otak siswa.

Turun gunung pada hari terakhir pelaksanaan TKA, Atip mengakui kesiapan pihak sekolah dan antusiasme siswa patut diacungi jempol.

“Alhamdulillah secara umum pelaksanaan berlangsung dengan baik, tidak ada kendala yang berarti dan tidak ada pelanggaran,” ujar Atip usai meninjau dan berdialog langsung dengan jajaran sekolah serta para peserta didik.

Baca juga :  8,6 Juta Murid Ikuti Gladi Bersih TKA 2026, Digelar 9–17 Maret

Listrik Masih Jadi Ancaman, Matematika Bikin Pusing Tujuh Keliling

Meski dipuji, bukan berarti tak ada Pekerjaan Rumah (PR) besar. Atip blak-blakan menyentil masalah klasik infrastruktur penunjang, yakni stabilitas aliran listrik. Di era serba digital ini, ketersediaan listrik yang mumpuni tak bisa ditawar. Jika sampai “byarpet”, kelancaran asesmen siswa yang dipertaruhkan. Wamendikdasmen mendesak agar celah teknis ini segera dievaluasi serius agar TKA tahun depan tak lagi dihantui kecemasan mati lampu.

Tak cuma urusan kabel dan setrum, Wamen Atip juga mengorek langsung unek-unek para siswa. Hasilnya? Pelajaran Matematika ternyata masih menjadi “monster” yang bikin pusing tujuh keliling. Tingkat kesulitan mata pelajaran eksak ini dikeluhkan sangat menantang oleh para peserta ujian.

Baca juga :  Pendaftaran TKA 2026 Resmi Ditutup, Jumlah Peserta Meledak Tembus 3,8 Juta Murid

Fakta di lapangan ini langsung dijadikan amunisi oleh Atip untuk mengkritik sekaligus mendorong perbaikan kualitas gaya mengajar di sekolah. Pemerintah, katanya, tak boleh tutup mata.

“Kita berharap ini menjadi masukan dan bahan evaluasi bagi kita untuk melakukan perbaikan ke depan, terutama pada mata pelajaran yang hasilnya belum menggembirakan,” tegas Wamen Atip memberikan instruksi tajam.

Lebih jauh, Atip mengingatkan bahwa TKA bukan sekadar ajang berburu nilai di atas kertas. Ini adalah tamparan sekaligus pengingat bahwa di era persaingan global, siswa wajib punya “senjata” pembeda. Penguasaan keterampilan spesifik hingga kelihaian berbahasa asing mutlak diperlukan agar siswa tak cuma jago kandang, tapi punya keunggulan kompetitif saat terjun ke dunia nyata.

Baca juga :  TKA SMP 2026 Dimulai! Anti Curang, Mendikdasmen Tegas: Bukan Penentu Kelulusan

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Kuta Selatan, Luh Made Sri Yuniati, melaporkan bahwa pertarungan TKA di markasnya diikuti oleh 263 siswa. Pelaksanaannya dipecah ketat ke dalam dua gelombang, yang masing-masing digeber dalam tiga sesi. Agar fokus dan tak ada celah contek-menyontek, setiap ruang ujian hanya diisi 11 siswa. Pihaknya pun mengapresiasi daya juang dan keseriusan para siswa yang telah bertarung memeras otak di ajang asesmen nasional ini.