Wall Street Berpesta Usai Demokrat Libas Trump, Saham Elon Musk Malah Babak Belur!
DIKSIMERDEKA.COM NEW YORK Bursa saham Wall Street langsung berpesta pora pada penutupan perdagangan 4 November 2026. Kemenangan telak Partai Demokrat yang sukses menyapu bersih Kongres Amerika Serikat memicu gairah pasar kelas kakap dan memangkas ketidakpastian politik secara drastis. Namun, di tengah pesta cuan tersebut, saham-saham penyedia pusat data (data center) justru rontok berjamaah akibat ketakutan akan datangnya palu godam regulasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih ketat dari penguasa baru Kongres.
Partai berlambang keledai itu sukses mencetak sejarah dengan merebut kendali penuh atas Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Mereka berhasil menembus kandang-kandang pertahanan Partai Republik untuk pertama kalinya dalam beberapa generasi, sebuah fenomena yang menunjukkan perlawanan keras pemilih terhadap Presiden Donald Trump.
Sentimen positif di lantai bursa secara keseluruhan juga didorong oleh anjloknya harga minyak dunia. Para investor bertaruh bahwa pergantian arah angin kekuasaan ini akan mendesak percepatan berakhirnya perang di Iran.
“Saham-saham naik tajam hari ini karena kejelasan hasil pemilu mengurangi ketidakpastian,” kata Terry Sandven, Kepala Strategi Ekuitas di US Bank Wealth Management di Minneapolis.
“Pemilu ini memunculkan tingkat kebuntuan tertentu pada latar belakang ekonomi dan itu sering kali menguntungkan bagi harga saham, dan kita melihat sebagian dari hal itu hari ini,” tambahnya.
Raksasa Teknologi Panen Cuan, Operator Pusat Data Terjun Bebas
Respons pelaku pasar terhadap sektor AI benar-benar terbelah dua. Deretan raksasa teknologi alias Big Tech yang bergelimang uang tunai justru melesat tajam. Di sisi lain, saham produsen cip dan operator pusat data berdarah-darah setelah kubu Demokrat sukses merebut kemenangan di negara bagian utama yang menjadi basis pusat data, seperti Texas dan Georgia. Di wilayah-wilayah tersebut, kemarahan publik terhadap masifnya ekspansi industri pusat data yang melahap banyak sumber daya memang sedang menguat.
Pola transaksi ini mencerminkan keyakinan investor bahwa perlambatan ekspansi infrastruktur AI akan menguntungkan para raksasa teknologi dari segi persaingan. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan pemasok kecil malah terancam karena bisnis mereka sangat bergantung pada proyek pembangunan yang cepat.
“Sangat jelas bahwa perdagangan AI akan menghadapi beberapa hambatan di sana… Jika Anda menunda atau mengubah kecepatan pembangunan pusat data, Anda mulai mengubah lintasan fundamental bagi banyak pemasok tersebut,” tegas Scott Chronert, Kepala Strategi Ekuitas AS di Citi Research.
Di jajaran raksasa AI, saham Microsoft melonjak 6,7 persen, Amazon melesat 6,1 persen, Alphabet naik 3,2 persen, dan Meta Platforms untung 1,4 persen. Kondisi sebaliknya menimpa operator pusat data; Hut 8 hancur lebur minus 23 persen, IREN anjlok 11 persen, Core Scientific merosot 10 persen, dan Applied Digital turun 6,7 persen.
Indeks semikonduktor Philadelphia SE bahkan terperosok ke titik terendah dalam enam bulan terakhir dengan penurunan 3,1 persen. Di sektor ini, hanya AMD yang mampu melawan arus dengan naik tipis 1 persen usai memproyeksikan pertumbuhan pesat di tahun 2027. Secara keseluruhan, kinerja luar biasa dicetak oleh indeks-indeks utama: S&P 500 naik 119,7 poin (1,6 persen) menjadi 7.688,62, Nasdaq bertambah 364,50 poin (1,4 persen), dan Dow Jones Industrial Average meroket gila-gilaan hingga 1.569,40 poin (3 persen) menembus angka 53.356,12.
Elon Musk Merana, Saham Senjata Kena Getahnya
Kemenangan Demokrat tentu tak membawa untung bagi semua pihak. Mata uang dolar AS terpantau melemah terhadap mayoritas mata uang utama, sementara imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang ikut menyusut.
Yang paling apes dari pergerakan pasar ini adalah perusahaan-perusahaan milik miliarder Elon Musk. Saham SpaceX anjlok 3,9 persen dan Tesla merosot 3,3 persen. Penurunan ini bak pil pahit bagi Musk yang diketahui telah membakar dana hampir setengah miliar dolar AS untuk menyokong kandidat Partai Republik, termasuk upayanya mati-matian mempertahankan dominasi Republik di Texas, yang notabene adalah markas utama kedua perusahaannya tersebut.
Setali tiga uang, emiten pertahanan kelas berat—seperti Northrop Grumman, RTX, dan Lockheed Martin—juga berguguran. Rontoknya saham kontraktor militer ini dipicu oleh proyeksi bahwa rancangan anggaran pertahanan senilai 1,5 triliun dolar AS (sekitar Rp23.850 triliun) yang diajukan rezim Trump kini bakal berhadapan dengan tembok tebal penolakan di Kongres.
Sebaliknya, saham sektor energi terbarukan justru menari-nari. Investor beramai-ramai memborong saham energi bersih karena yakin sapu bersih yang dilakukan Partai Demokrat akan mengamankan kucuran subsidi pemerintah federal untuk pengembangan energi hijau. Tak heran, instrumen The Invesco Solar ETF langsung terbang nyaris 6 persen menyambut rezim baru di Capitol Hill.

Tinggalkan Balasan