Kalah Telak di Parlemen, Netanyahu Tuding Partai Arab Curi Suara Pakai Dana Asing
DIKSIMERDEKA.COM TEL AVIV – Kursi kekuasaan Benjamin Netanyahu mulai goyang. Setelah koalisi sayap kanannya keok dan kehilangan kursi mayoritas di parlemen pada pemilu Selasa(27/10/2026) lalu, sang Perdana Menteri Israel kini dituding menggunakan taktik kotor untuk mempertahankan posisinya.
Dilansir dari The Guardian, Netanyahu menuduh bahwa partai-partai Arab Israel telah mendapat sokongan dana asing untuk “mencuri” pemilu. Kepanikan ini terlihat saat ia dan sekutunya mendesak badan intelijen dalam negeri Israel, Shin Bet, untuk turun tangan mengusut dugaan jual beli suara di komunitas warga Palestina di Israel.
Gadi Eisenkot, pemimpin blok oposisi utama, tak tinggal diam. Ia menuding balik Netanyahu dan Partai Likud sedang berusaha menjegal hasil pemilu.
“Sudah jelas bahwa Likud dan Netanyahu telah memulai kampanye terkoordinasi dan terorganisir yang bertujuan mendelegitimasi hasil pemilu,” tegas Eisenkot lewat sebuah pesan video.
Tudingan miring Netanyahu ini pun langsung dibantah mentah-mentah oleh jajaran pejabat pemerintahannya sendiri. Pihak kepolisian dan komite pemilu menyatakan tuduhan itu tak berdasar. Bahkan, Presiden Israel Isaac Herzog ikut ‘menjewer’ Netanyahu karena dianggap “mencoreng nama baik seluruh komunitas”.
Namun, Netanyahu pantang mundur. Pada Rabu(28/10) malam, ia mengunggah pernyataan Partai Likud yang menyebut bahwa dugaan pelanggaran pemilu ini adalah “sebuah serangan terhadap demokrasi yang tujuannya mengarah pada pengambilalihan Knesset (parlemen) oleh pihak asing, Islamisasi Israel, dan penggulingan kekuasaan sayap kanan.”
Manuver Panik Cegah Oposisi Bersatu
Pemilu Selasa kemarin memang jadi pil pahit buat koalisi sayap kanan ekstrem Netanyahu setelah empat tahun berkuasa. Blok oposisi Yahudi utama juga tidak mencapai mayoritas, yang akhirnya membuat dua partai Arab Israel—Joint List dan Ra’am—kini memegang kunci penentu kekuasaan.
Serangan Netanyahu ini dinilai sebagai manuver untuk mencegah oposisi Yahudi dan Arab bersatu di Knesset. Jika mereka bergabung, posisi Ketua Parlemen petahana, Amir Ohana (politisi Likud dan mantan pejabat Shin Bet), bisa didepak, dan oposisi bebas meloloskan undang-undang mereka sendiri.
Dalam unggahannya di media sosial X, Partai Likud yang dipimpin Netanyahu menegaskan: “Sudah jelas bahwa tidak ada partai Zionis yang boleh bekerja sama dengan Ra’am dan Joint List, mengganti ketua Knesset lewat suara yang dibeli dengan uang tunai, dan membentuk pemerintahan yang berbahaya bagi Israel.”
Pernyataan ini langsung dihajar oleh para pemimpin oposisi yang muak dengan klaim Netanyahu (77), politikus kawakan yang telah memimpin Israel selama 19 dari 30 tahun terakhir.
Pemimpin Joint List, Yousef Jabareen, menyebut Perdana Menteri sedang melakukan hasutan berbahaya. “Netanyahu kalah di kotak suara,” kata Jabareen, menambahkan bahwa sang PM “menolak menerima kenyataan bahwa publik Arab telah memilih dan menentukan.”
Ketua Komite Pemilihan Pusat, Dean Livneh, menegaskan tidak ada bukti atas klaim Netanyahu. Kepolisian juga menyatakan proses pemungutan suara berjalan lancar tanpa gangguan berarti.
Meski Partai Likud tidak secara gamblang menyebut nama negara, laporan media lokal Israel membocorkan bahwa Qatar adalah negara asing yang dituduh memodali jual-beli suara tersebut. Menanggapi isu liar ini, Majed al-Ansari, penasihat Perdana Menteri Qatar, secara kategoris membantah keterlibatan negaranya.
Ketakutan Terhadap Menteri Rasis
Hingga hampir seluruh suara selesai dihitung, koalisi Netanyahu mengamankan 53 kursi dari total 120 kursi Knesset. Blok Eisenkot mendapat 48 kursi, sementara duet Joint List dan Ra’am meraup 19 kursi. Angka ini adalah rekor bersejarah bagi komunitas Arab Israel, yang populasinya mencapai sekitar 20 persen dari total penduduk Israel.
Meroketnya partisipasi pemilih Arab (warga Palestina dengan kewarganegaraan Israel) ini bukan tanpa alasan. Mereka muak dengan diskriminasi yang terus terjadi dan ketakutan akan nasib mereka jika tokoh sayap kanan ekstrem yang secara terbuka rasis—seperti Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich—kembali berkuasa.
Bukannya mereda, tensi malah makin panas. Pada Kamis, Ben-Gvir dengan lantang menyerukan agar para pemimpin partai Arab ditangkap, sementara Smotrich menuntut mereka diinterogasi oleh Shin Bet.
Di kota Nazareth, wilayah dengan mayoritas penduduk Palestina terbesar di Israel, proses pencoblosan berjalan lancar. Meski begitu, sempat ada insiden yang diduga sebagai taktik partai pemerintah untuk menekan suara Arab, seperti pengiriman surat suara yang hanya menggunakan bahasa Ibrani tanpa bahasa Arab.
Kini, nasib politik Israel ada di ujung tanduk. Oposisi Arab dan Yahudi memang belum menyepakati koalisi formal, namun mereka tengah menyusun siasat untuk melengserkan Ketua Knesset dan meloloskan undang-undang krusial. Salah satunya, pembentukan komisi penyelidikan terkait kegagalan keamanan pada serangan Hamas 7 Oktober 2023—isu sensitif yang selama ini dijegal keras oleh Netanyahu.
Naftali Bennett, mantan perdana menteri dari blok oposisi, tak melewatkan kesempatan untuk menyindir keras kelakuan Netanyahu yang tiba-tiba menyerang Qatar, padahal penasihat politik Netanyahu sendiri pernah dituding menerima kucuran dana dari Qatar.
“Pagi ini, tiba-tiba saja, ketika itu menguntungkan kepentingannya, Netanyahu ingat pada Qatar dan menggunakannya untuk menyebar kekacauan serta meruntuhkan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi,” cuit Bennett di akun X-nya.

Tinggalkan Balasan