DIKSIMERDEKA.COM TEL AVIV-Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim dirinya melakukan kunjungan rahasia ke Uni Emirat Arab di tengah memuncaknya perang Iran untuk bertemu Presiden UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Kantor Netanyahu menyebut pertemuan tersebut menghasilkan terobosan besar dalam hubungan Israel dan UEA.Kamis (14/5/2026).

“Kunjungan ini menghasilkan terobosan bersejarah dalam hubungan antara Israel dan UEA,” demikian pernyataan kantor Perdana Menteri Israel pada Rabu malam.

Menurut laporan Reuters, kedua pemimpin bertemu selama beberapa jam di Al Ain, kota oasis dekat perbatasan Oman, pada 26 Maret lalu dilansir dari The Guardian.

Sumber Reuters menyebut Direktur Mossad David Barnea juga beberapa kali mengunjungi UEA selama perang Iran berlangsung untuk mengoordinasikan aksi militer. Informasi mengenai kunjungan kepala intelijen Israel itu sebelumnya dilaporkan The Wall Street Journal.

Baca juga :  AS dan Iran Kembali Baku Tembak di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Melonjak

Jika benar terjadi, kunjungan Netanyahu akan menjadi tonggak terbaru dalam aliansi yang berkembang cepat di Timur Tengah antara Israel dan UEA.

Pada Selasa lalu, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee mengungkapkan bahwa Israel sempat berbagi sistem pertahanan udara dengan UEA selama perang Iran berlangsung.

Israel disebut mengirim baterai pertahanan Iron Dome beserta personel militer untuk membantu pengoperasiannya.

“Ada hubungan luar biasa antara UEA dan Israel,” kata Huckabee.

Namun, Kementerian Luar Negeri UEA langsung membantah laporan mengenai kunjungan Netanyahu tersebut. Pemerintah Abu Dhabi menyebut klaim itu “tidak berdasar”.

Di sisi lain, laporan media Barat juga menyebut UEA diduga diam-diam ikut menyerang Iran. The Wall Street Journal melaporkan UEA melancarkan serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April sebagai balasan atas serangan Iran terhadap fasilitas minyak mereka.

Baca juga :  Aung San Suu Kyi Dipindah ke Tahanan Rumah, Dunia Curiga: Manuver Junta Myanmar?”

Hubungan Israel dan UEA mulai terbuka sejak penandatanganan Abraham Accords pada 2020. Saat itu UEA menjadi negara Islam pertama yang menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel, diikuti Bahrain, Maroko, dan Sudan.

Sejak saat itu, hubungan kedua negara berkembang jauh lebih erat dibanding anggota Abraham Accords lainnya. UEA dan Israel bahkan dinilai telah membangun aliansi strategis tidak resmi di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah UEA juga semakin aktif menjalankan kebijakan luar negeri independen, terpisah dari pengaruh Arab Saudi. Awal bulan ini, UEA bahkan keluar dari kelompok minyak pimpinan Saudi, OPEC, yang dinilai melemahkan pengaruh organisasi tersebut di pasar energi global.

Baca juga :  Tembakan Terdengar Dekat Gedung Putih, Secret Service Bergerak Cepat

Baik Israel maupun UEA diketahui memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, terutama setelah keterlibatan mereka dalam perang Iran.

Namun kedua negara juga menghadapi sorotan internasional terkait dugaan pelanggaran HAM dan kejahatan perang.

Israel menghadapi tuduhan genosida di Gaza, sementara Mahkamah Pidana Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant.

UEA juga dituduh memasok senjata dan dana kepada kelompok Rapid Support Forces di Sudan yang dituding melakukan kekejaman massal. Pemerintah UEA membantah tuduhan tersebut meski sejumlah laporan internasional menyebut adanya bukti kuat yang mendukung dugaan itu.