DIKSIMERDEKA.COM TEL AVIV – Masa depan politik Israel kini berada di ujung tanduk. Hasil penghitungan suara Pemilu Israel pada Rabu (28/10) menunjukkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dipastikan kehilangan kursi mayoritasnya. Namun, nasib nahas tak cuma menimpa sang petahana, kubu oposisi Yahudi pun ternyata gagal mengamankan kekuasaan mutlak.

Kini, nasib pemerintahan Tel Aviv sepenuhnya bergantung pada satu pertanyaan besar: apakah blok oposisi rela membuang gengsi dan menggandeng partai-partai Arab-Palestina yang perolehan suaranya meledak luar biasa di pemilu kali ini?

Sebelumnya, pemimpin blok oposisi Yahudi, purnawirawan jenderal Gadi Eisenkot, keburu pede mengklaim kemenangan prematur pada malam hari demi apa yang ia sebut sebagai “mayoritas Zionis”—sebuah sinyal bahwa ia enggan merangkul partai Arab. Namun, realita berkata lain.

Dengan 86 persen suara yang sudah dihitung, baik blok Netanyahu maupun Eisenkot dipastikan gagal mencapai batas minimal 61 kursi di Knesset (parlemen Israel) untuk membentuk pemerintahan. Eisenkot kini dihadapkan pada buah simalakama: berkoalisi dengan partai Arab Israel yang diproyeksikan mencetak rekor 16-19 kursi, atau justru memberi napas buatan bagi Netanyahu lewat pemilu ulang atau pembentukan pemerintahan persatuan.

Baca juga :  Netanyahu Diam-Diam ke UEA Saat Perang Iran? Abu Dhabi Langsung Membantah

Tudingan Curang Netanyahu dan Cawe-cawe Donald Trump

Panik melihat tingginya partisipasi pemilih keturunan Palestina dan kesuksesan partai-partai Arab Israel, Netanyahu meradang. Pada Rabu malam, ia menuding kelompok tersebut telah “mencuri pemilu”.

Tanpa memberikan bukti konkret, Netanyahu berkicau di platform X bahwa partainya, Likud, telah mengirimkan “ratusan kesaksian dan barang bukti” ke komite pemilihan pusat dan badan keamanan dalam negeri, Shin Bet. Ironisnya, kedua lembaga tersebut diketahui telah dipolitisasi di bawah rezim Netanyahu. Komite pemilihan bahkan sempat mencoba melarang partai Arab Israel ikut pemilu, meski akhirnya digagalkan oleh Mahkamah Agung.

Di tengah kekacauan ini, mantan Presiden AS Donald Trump malah tampil mengklaim bahwa dirinya adalah pahlawan di balik performa Netanyahu yang tak seburuk perkiraan awal. Trump menyebut dukungan terbukanya menjelang hari pencoblosan membawa dampak besar.

“Ketika dukungan itu keluar, itu sangat membantunya,” sesumbar Trump, seraya memprediksi hasil akhir akan berujung seri atau dimenangkan Netanyahu.

Oposisi Didesak Buang Sikap Rasis, Arab Israel Siap Mendepak Petahana

Melihat kebuntuan ini, Yair Golan, pemimpin partai Demokrat yang beraliran tengah-kiri dan bagian dari blok oposisi Eisenkot, mendesak bosnya untuk segera bernegosiasi dengan dua partai Palestina: Joint List dan Ra’am (Daftar Arab Bersatu).

Baca juga :  Teror Pemukim Israel di Tepi Barat: Jurnalis NBC News dan Warga Palestina Jadi Korban Amukan Massa Bertopeng

“Kita tidak punya masa depan di sini jika kita tidak berhenti merasa takut. Dan jika kita tidak mengakhiri rasisme. Kita tidak bisa lagi menerima pembedaan rasis ala Netanyahu antara suara orang Yahudi dan Arab,” tegas Golan di platform X.

Ia menyindir keras bahwa siapapun yang menolak suara warga Arab sama saja menyerah pada Netanyahu dan menghancurkan Israel. Apalagi, Netanyahu selama ini bergantung pada partai-partai Yahudi ultra-Ortodoks yang justru anti-Zionis dan menolak wajib militer bagi warganya.

Dari kubu Arab, pemimpin Joint List, Yousef Jabareen, menyadari penuh kekuatan tawar menawar mereka saat ini. Ia menegaskan bahwa partainya “tidak bisa diabaikan dalam skenario politik apa pun”. Menurutnya, rezim Netanyahu dan menteri keamanan nasionalnya yang ekstremis, Itamar Ben-Gvir, telah membuat hidup setiap warga Arab terasa pahit.

“Kami akan siap membuka jalan untuk menggulingkan pemerintahan Netanyahu, Ben-Gvir, dan Smotrich – dan memulangkan mereka,” ancam Jabareen tajam.

Bayang-bayang Perang Gaza dan Hitung Mundur Sisa Suara

Penghitungan sisa 14 persen suara—yang mayoritas adalah surat suara absensi dari tentara yang sedang bertugas—masih berlangsung dan diprediksi memakan waktu beberapa hari. Pemilih dari militer biasanya condong ke sayap kanan, tetapi masuknya banyak tentara cadangan yang lebih moderat bisa saja menjungkirbalikkan prediksi.

Baca juga :  Trump Sebut Damai Iran Beres, Netanyahu Jaga Jarak

Pemilu Israel ini mencatatkan partisipasi hampir 78 persen, tertinggi sejak 1999, namun ironisnya digelar tepat di tengah kecaman dunia atas agresi di Gaza. Berdasarkan laporan komisi pakar hak asasi manusia PBB pekan ini, Israel dituduh terus melakukan tindakan genosida terhadap warga sipil Palestina di Gaza meski gencatan senjata sempat diumumkan pada Oktober 2025. Sejak saat itu, 1.431 warga Palestina tewas, termasuk 300 anak-anak. Laporan ini tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Duta Besar Israel untuk PBB, Daniel Meron.

Kini, jika hasil akhir tetap buntu, Presiden Israel Isaac Herzog akan memberikan waktu enam minggu kepada salah satu pemimpin partai untuk membentuk pemerintahan. Selama masa transisi yang rawan tarik-menarik politisi kutu loncat ini, Netanyahu akan tetap duduk di kursi perdana menteri sebagai penjaga (caretaker). Bisakah oposisi meruntuhkan hegemoni Netanyahu, atau akankah Israel kembali terjebak dalam pemilu ulang untuk keenam kalinya sejak 2019?