Lula da Silva Cetak Sejarah 4 Kali Jadi Presiden Brasil
DIKSIMERDEKA.COM BRASILIA-Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva resmi memenangi pemilihan kembali pada hari Minggu (25/10/2026), mengalahkan Senator Flávio Bolsonaro dalam pertarungan putaran kedua yang sangat ketat. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri salah satu balapan presiden paling terpolarisasi dalam sejarah modern Brasil.
Bagi politikus sayap kiri berusia 80 tahun ini, hasil tersebut menorehkan sejarah baru. Lula kini menjadi presiden pertama yang terpilih memimpin Brasil sebanyak empat kali. Ia berhasil bertahan dari gempuran isu biaya hidup, kriminalitas, korupsi, serta tren pergeseran politik ke arah kanan yang sedang melanda Amerika Latin.
Kemenangan ini juga mematahkan mitos pemilu Brasil. Sejak pemilihan presiden langsung kembali digelar pada 1989, baru kali ini seorang kandidat yang kalah di putaran pertama berhasil membalikkan keadaan dan menang di putaran kedua. Pada pemungutan suara 4 Oktober lalu, Lula sempat tertinggal lebih dari 2 juta suara dari Flávio Bolsonaro—sebuah hasil yang sempat membuat kubu Bolsonaro di atas angin.
Bagi dinasti politik Bolsonaro, ini adalah pukulan telak. Flávio gagal menuntaskan apa yang juga gagal dilakukan ayahnya, mantan Presiden Jair Bolsonaro, pada tahun 2022: mengalahkan Lula di kotak suara.
Drama Perpanjangan Waktu di Menit Akhir
Hari penentuan ini tidak berjalan mulus. Pemungutan suara terpaksa diperpanjang selama dua jam setelah kedua kubu mengajukan permohonan mendadak kepada otoritas pemilihan.
Hakim Mahkamah Agung Brasil, Cristiano Zanin, mengabulkan permintaan tim kampanye Lula yang melaporkan adanya “insiden” pada layanan bus pengangkut pemilih di beberapa negara bagian. Di sisi lain, kubu Bolsonaro juga meminta perpanjangan di sejumlah area karena hujan lebat yang menghambat warga menuju tempat pemungutan suara (TPS).
Keputusan perpanjangan ini memicu kebingungan masal. Instruksi dari ibu kota Brasilia turun sekitar pukul 5 sore, tepat ketika TPS seharusnya tutup. Banyak lokasi sudah telanjur ditutup. Zanin dan Pengadilan Tinggi Pemilihan (TSE) kemudian mengklarifikasi bahwa hanya TPS yang belum tutup yang boleh beroperasi hingga pukul 7 malam.
Kubu Bolsonaro langsung meradang. Direktur kampanye Bolsonaro mengecam keras keputusan tersebut, menyebutnya sebagai langkah yang “memalukan dan tidak tepat waktu dari seorang Hakim Mahkamah Agung.”
Arah Baru Hubungan Global Brasil
Hasil pemilu ini dipastikan membawa efek kejut yang terasa hingga ke luar perbatasan Brasil. Negara terbesar di Amerika Latin ini diprediksi akan mempertahankan kebijakan luar negeri yang lebih independen di bawah kendali Lula. Ia selama ini vokal menyuarakan kedaulatan Brasil dan mempererat hubungan dengan negara-negara Global South serta Tiongkok, di tengah ketegangan dengan pemerintah Amerika Serikat.
Sebelum TPS ditutup pada hari Minggu, Donald Trump menyatakan bahwa ia sedang “memantau” putaran kedua pilpres Brasil. Meski tidak memberikan dukungan resmi secara terang-terangan, Trump sebelumnya sempat memuji performa Flávio di putaran pertama dan menyebut pemilu ini “sangat penting.”
Bayang-Bayang Kriminalitas dan Ekonomi
Keamanan publik menjadi salah satu isu paling panas. Survei Quaest/Pax pada bulan September menunjukkan 28% warga Brasil menganggap kekerasan sebagai masalah terbesar negara, disusul korupsi (22%) dan ekonomi (19%).
Flávio Bolsonaro tampil dengan janji tangan besi. Ia bertekad melabeli faksi kriminal besar sebagai kelompok teroris, memperluas penjara, dan menurunkan batas usia pertanggungjawaban pidana.
“Mereka yang menganggap saya radikal dalam masalah keamanan publik belum melihat apa-apa,” tegas Bolsonaro pada 13 Oktober lalu, seraya menyindir bahwa pendekatan keras Presiden El Salvador Nayib Bukele pun baginya belum cukup.
Di kubu seberang, Lula kesulitan menyeimbangkan posisi tradisional partainya dengan tuntutan publik akan tindakan tegas. Sebuah video lama yang beredar luas memperlihatkan Lula menyebut pengedar narkoba juga merupakan korban dari pengguna narkoba. Pemimpin redaksi Americas Quarterly, Brian Winter, menilai hal ini memperkuat “persepsi lama bahwa kelompok kiri Brasil bersikap lunak terhadap kejahatan.” Lula belakangan mengakui bahwa ia salah berucap.
Dari sisi ekonomi, Lula dihadapkan pada kritik tajam terkait daya beli masyarakat. Meski ia berhasil menekan angka pengangguran dan inflasi, angka-angka statistik tersebut gagal mengubah kenyataan di lapangan bagi rumah tangga yang kesulitan menghadapi harga kebutuhan pokok sehari-hari.
Winter menyamakan dinamika ini dengan pilpres AS 2024, di mana statistik makroekonomi yang positif tidak mampu meredam rasa frustrasi publik terhadap harga barang. Meski demikian, banyak pemilih tetap setia kepada Lula karena program sosial sukses di masa lalunya, sekaligus khawatir kepemimpinan Bolsonaro akan merampas hak-hak sosial mereka.
Isu korupsi juga memperparah kelelahan politik di Brasil. “Hal ini memperkuat rasa muak dan apatis yang dirasakan warga Brasil terhadap sistem politik mereka secara keseluruhan,” ujar Winter.
Medan Pertempuran Kunci: Suara Perempuan dan Agama
Kunci kemenangan tipis ini terletak pada demografi pemilih perempuan, yang mewakili hampir 53% dari total daftar pemilih tetap. Kelompok ini sejak awal lebih resisten terhadap kubu Bolsonaro dibandingkan pemilih laki-laki.
Malu Gatto, lektor kepala politik Amerika Latin di University College London, mencatat bahwa kesenjangan gender ini semakin melebar sejak kemunculan Jair Bolsonaro pada 2018. Laki-laki cenderung bergeser ke kanan, sementara perempuan semakin solid mendukung Partai Pekerja.
Isu kekerasan terhadap perempuan, khususnya femisida, menjadi sorotan nasional setelah Brasil mencatat rekor 1.571 kasus femisida pada 2025. Menurut Gatto, kubu kanan tradisional menawarkan hukuman pidana yang lebih berat bagi pelaku, sementara kubu kiri lebih fokus pada perlindungan dan dukungan bagi korban, termasuk penyediaan rumah aman.
Di sisi lain, kelompok evangelis yang populasinya terus berkembang di negara mayoritas Katolik ini, menjadi basis suara yang krusial bagi kubu kanan. Datafolha menemukan Bolsonaro unggul telak di kalangan evangelis, sementara Lula menguasai suara pemilih Katolik.
Kini, meski berhasil mengamankan masa jabatan keempat yang belum pernah terjadi sebelumnya, Lula harus memimpin sebuah negara yang masih terbelah tajam, dengan selisih kemenangan tipis, dan komposisi kongres yang jauh lebih konservatif.

Tinggalkan Balasan