DIKSIMERDEKA.COM BELGRADE Gempa politik dahsyat mengguncang Serbia! Pemimpin veteran Aleksandar Vucic akhirnya lempar handuk setelah rezim otoriternya yang bercokol selama 12 tahun luluh lantak di kotak suara dalam sebuah pemilihan umum bersejarah. Secara dramatis, dominasi sang penguasa sukses digulung habis oleh Student List (Daftar Mahasiswa)—sebuah gerakan mahasiswa serbia yang menjadi gerakan oposisi akar rumput bertenaga anak muda yang selama dua tahun terakhir tak lelah menggempur pemerintah lewat aksi protes di jalanan

Vučić merujuk pada hasil awal yang menunjukkan pemilih secara telak mendukung kelompok mahasiswa, yang tergabung dalam Student List memberikan mereka mayoritas di parlemen Serbia yang berkapasitas 250 kursi.

“Kami masih belum memiliki hasil akhir,” ungkap Vučić kepada para pendukungnya di markas partai di Beograd seperti yang dilansir oleh The Guardian, Minggu (25/10/2026).

“Berdasarkan sampel … jelas bahwa kita telah kalah dalam pemilihan ini, Student List telah menang, mereka akan mendapat antara 135 dan 140 kursi dan kita akan memiliki 105.” tambahnya.

Sampel representatif dari lembaga survei CeSID-IPSPS memprediksi Student List akan mengamankan 138 wakil, sementara Partai Progresif Serbia (SNS) sayap kanan pimpinan Vučić hanya meraup 104 kursi. Sisa kursi kemungkinan akan dibagi di antara partai-partai minoritas nasional etnis.

Baca juga :  Trump Tarik Pasukan AS dari Jerman, NATO Gelisah: Ancaman Rusia Menguat, Eropa Disuruh Jaga Diri Sendiri!

Kemenangan Rakyat di Tengah Rekor Partisipasi Pemilih

Begitu kabar tumbangnya era 12 tahun Vučić menyebar, perayaan meledak di jalan-jalan Beograd dan berbagai kota lainnya. Klakson mobil bersahutan, sementara warga berjabat tangan, melakukan high-five, dan memeluk polisi di jalanan.

Ivana (43), seorang warga ibu kota, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Bagi saya ini terasa seperti Malam Tahun Baru, seperti tiga Malam Tahun Baru sekaligus, sungguh,” katanya. “Kita akhirnya bisa bernapas lagi.” Ia juga berharap ada pertanggungjawaban hukum yang cepat bagi para petinggi rezim yang terguling, sesuai janji kampanye Student List .

Di markas Student List para pendukung meneriakkan “Kemenangan, kemenangan!” diiringi tepuk tangan, tangis haru, dan pelukan.

“Serbia yang terkasih, malam ini suara rakyat didengar,” seru Radomir Saičić, profesor di Universitas Beograd yang berbicara mewakili mahasiswa. “Malam ini kita merayakan kemenangan, besok kita membangun masa depan.”

Pemandangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah rekor jumlah pemilih membeludak di tempat pemungutan suara (TPS) pada hari Minggu. Antrean panjang mengular di seluruh negeri dengan waktu tunggu mencapai dua jam. Pada pukul 19.00 waktu setempat, lembaga survei CeSID dan Ipsos mencatat tingkat partisipasi mencapai 67,6%, angka tertinggi sejak pecahnya Yugoslavia pada tahun 1992.

Baca juga :  Kejutan Pilpres Brasil: Flávio Bolsonaro Tumbangkan Petahana di Putaran Pertama

Antusiasme tinggi ini sudah tercium sejak 150.000 orang membanjiri rapat umum pra-pemilu terakhir kelompok mahasiswa pekan lalu di Beograd, memicu spekulasi awal bahwa mahasiswa memiliki cukup massa untuk membuka era politik baru di negara Balkan tersebut.

Tragedi Stasiun Berujung Tumbangnya Sang Diktator

Pemilu berisiko tinggi di negara kandidat anggota Uni Eropa ini berakar dari tragedi November 2024. Saat itu, kanopi beton di stasiun kereta Novi Sad runtuh dan menewaskan 16 orang. Tragedi ini memicu protes mahasiswa yang membesar menjadi gerakan anti-pemerintah secara luas, setelah rentetan bukti menunjukkan konstruksi asal-asalan, penipuan, dan korupsi sebagai biang keladi runtuhnya atap tersebut.

Menghadapi tekanan massa, Vučić mempertaruhkan kekuasaannya dengan mundur dari kursi kepresidenan bulan lalu untuk memicu pemilu sela. Mahasiswa mengambil momentum ini untuk mengubah gerakan jalanan menjadi kekuatan politik dengan mengajukan 250 kandidat, mulai dari akademisi hingga atlet dan petani, untuk membangun kembali ekonomi dan memulihkan demokrasi Serbia.

Baca juga :  Ngotot Lindungi Bahasa Prancis, PM Kanada Lawan Ancaman Donald Trump

Kampanye ini mengadu domba mahasiswa dengan mesin politik raksasa partai SNS milik Vučić yang menguasai hampir seluruh saluran penyiaran dan menggunakan kementerian sebagai alat politik. Vučić berulang kali menuduh mahasiswa sebagai boneka asing—tudingan yang ditepis keras.

Dejan Bodiroga, kandidat dari Student List sekaligus Presiden Bola Basket Euroleague, menegaskan pesan tersebut usai memberikan suaranya. “Hari ini, yang terpenting, Serbia berjuang untuk kebebasan dan untuk kembalinya negara yang telah dibajak,” tegas Bodiroga. “Serbia memberikan suara hari ini untuk memutuskan arah mana yang akan diambil – menuju masa depan atau masa lalu.”

Meski diwarnai euforia, proses pemungutan suara tidak lepas dari kecurangan. Raša Nedeljkov dari kelompok pemantau pemilu independen CRTA memperingatkan, “sejumlah besar ketidakberesan terus tercatat, sementara insiden kekerasan di luar tempat pemungutan suara juga semakin sering terjadi”. Laporan pemotretan surat suara, upaya jual-beli suara, dan indikasi intimidasi sempat membayangi proses penentuan nasib Serbia ini.