“Orang Tua Kena Kanker, Anak Pasti Mewarisi? Dokter IPB Bongkar Fakta Mengejutkannya!”
DIKSIMERDEKA.COM BOGOR – Bayang-bayang ketakutan kerap menghantui anak dari orang tua penyintas kanker. Isu seputar kanker keturunan selalu menjadi momok menakutkan di tengah masyarakat. Publik acap kali berasumsi bahwa penyakit mematikan ini otomatis diwariskan bak harta warisan ke generasi selanjutnya, sehingga menimbulkan kepanikan yang tak jarang berlebihan.
Faktanya, secara rekam medis, anggapan bahwa penyakit mematikan ini pasti menular secara genetik adalah keliru besar. Kanker tidak diwariskan secara langsung, melainkan mutasi genetiknya yang memicu kerentanan pada tubuh manusia.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Ditia Gilang Shah Putra Rahim, SpA, hadir untuk meluruskan polemik ini. Ia menegaskan bahwa garis keturunan dari penderita kanker bukanlah vonis mutlak bagi masa depan anak. Kepanikan publik justru kerap mengaburkan fakta medis yang sesungguhnya.
“Sebetulnya yang diturunkan bukan kankernya, tetapi gennya. Mutasi pada gen tertentu menyebabkan seseorang memiliki kerentanan untuk mengalami kanker,” tegas dr. Gilang dalam artikelnya yang di rilis ipb.sc.id pada Kamis (23/10/2026).
Pernyataan ini menjadi penyejuk sekaligus koreksi keras bagi mitos kanker keturunan yang selama ini beredar liar tanpa filter di masyarakat.
Tiga Kategori Kanker: Jangan Pukul Rata!
Untuk memahami konsep risiko kesehatan ini secara komprehensif, dunia medis membagi penyakit ini ke dalam tiga kelompok utama berdasarkan akar penyebab genetiknya. Pertama, kanker herediter, yakni jenis kanker yang secara langsung berkaitan erat dengan mutasi gen bawaan dari orang tua. Kedua, kanker familial, yang menunjukkan adanya kecenderungan muncul berulang dalam satu silsilah keluarga akibat interaksi genetik dan gaya hidup. Ketiga, kanker sporadis, yang sama sekali tidak berkaitan dengan mutasi gen warisan dan murni terjadi karena faktor eksternal atau mutasi acak seiring bertambahnya usia.
Jika salah satu orang tua membawa mutasi gen tertentu, setiap anak memang memiliki probabilitas 50 persen untuk mewarisi mutasi tersebut. Namun, dr. Gilang menekankan sebuah benang merah yang sangat krusial: mewarisi gen mutan bukan berarti risiko terkena kanker juga otomatis berada di angka 50 persen. Tubuh manusia memiliki sistem pertahanan yang jauh lebih kompleks dari sekadar probabilitas matematis.
Cara Kerja Gen Penekan Tumor (BRCA1)
Sebagai contoh nyata, dr. Gilang membedah kasus pada gen BRCA1. Ini adalah gen penekan tumor (tumor suppressor gene) yang bertugas sangat krusial dalam mereparasi atau memperbaiki DNA yang rusak di dalam tubuh.
“Di dalam tubuh ada dua salinan BRCA1. Jika salah satunya mengalami mutasi, salinan lainnya yang masih normal tetap dapat berfungsi dengan baik dan membantu memperbaiki DNA yang rusak. Jadi, mewarisi mutasi gen tidak berarti seseorang pasti mengalami kanker,” paparnya dengan gamblang.
Pola logis serupa juga berlaku untuk kasus kanker ginjal. Riwayat kanker ginjal pada orang tua tidak otomatis membuat anak mengalami nasib tragis serupa. Dalam dunia kedokteran, penilaian tidak bisa dilakukan serampangan. “Penilaian risiko perlu mempertimbangkan berbagai variabel penting, seperti usia saat diagnosis pertama kali ditegakkan, pola kanker dalam keluarga, serta kemungkinan adanya kelainan genetik tertentu yang spesifik,” tambah dr. Gilang.
Alarm Dini: Kapan Tes Genetik Menjadi Wajib?
Meski fakta medis cukup melegakan, kewaspadaan tetap harus diaktifkan pada level tertinggi jika muncul sinyal merah (red flags). Beberapa kondisi gawat yang wajib diwaspadai meliputi: kanker yang tiba-tiba menyerang penderita di usia yang relatif sangat muda, pasien yang secara nahas menderita lebih dari satu jenis kanker primer, temuan kasus kanker langka, atau terdapat tiga (bahkan lebih) anggota keluarga sedarah dengan jenis kanker yang saling berkaitan.
Konseling dan tes genetik mutakhir sangat dianjurkan jika ada keluarga inti yang divonis mengidap kanker sebelum mereka menginjak usia 50 tahun, atau jika keluarga tersebut sudah secara klinis diketahui memiliki riwayat mutasi gen bawaan. Meski begitu, dr. Gilang mengingatkan dengan keras bahwa prosedur ini memiliki skala prioritas yang tegas.
“Prioritas pertama pemeriksaan mutlak dilakukan pada orang yang pernah atau sedang menderita kanker itu sendiri. Anggota keluarga yang sehat baru akan diperiksa setelah hasil tes pada anggota keluarga yang sakit benar-benar menunjukkan adanya mutasi gen,” ungkapnya.
Pada akhirnya, mitos seputar kanker keturunan harus dilawan dengan literasi kesehatan dan diagnosa yang presisi. Melalui konseling genetik yang tepat sasaran bersama para pakar, penelusuran riwayat penyakit keluarga bisa dipetakan secara cermat. Hal ini krusial untuk menentukan siapa saja yang benar-benar membutuhkan pemeriksaan lanjutan agar langkah pencegahan bisa diambil sedini mungkin.

Tinggalkan Balasan