DIKSIMERDEKA.COM SAN’A Hujan rudal dan drone yang diluncurkan milisi Houthi ke jantung Arab Saudi sukses membuat Amerika Serikat (AS) keder. Departemen Luar Negeri AS resmi memerintahkan penarikan sebagian diplomat dan keluarga pegawai pemerintahannya dari kerajaan Teluk tersebut, menyusul serangan bertubi-tubi yang menewaskan sedikitnya tiga orang di bandara dan kilang minyak pada Rabu malam.

Serangan brutal terhadap “bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya” oleh kelompok Houthi Yaman yang dibekingi Iran ini menjadi alasan utama Washington memulangkan warganya. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, berkilah langkah ini murni demi pengamanan.

“Keselamatan dan keamanan personel departemen beserta keluarga mereka tetap menjadi prioritas tertinggi kami,” ucap Pigott seperti yang dilansir AFP.

Perintah penarikan ini berlaku efektif untuk Kedutaan Besar AS di Riyadh beserta seluruh konsulat satelitnya. Kedutaan ini sendiri sebenarnya sempat hancur parah di awal perang AS melawan Iran dan hanya beroperasi dengan staf seadanya selama berbulan-bulan, meski beberapa diplomat baru saja kembali dalam beberapa pekan terakhir.

Baca juga :  Di Hadapan Trump, Raja Charles Singgung NATO & Ukraina: ‘Tindakan AS Lebih Penting dari Kata-kata!’

Teror Maut di Bandara Dammam dan Kilang Minyak

Arab Saudi memang sedang babak belur dihajar serangan mematikan dari Houthi. Salah satu yang paling parah adalah serangan ke bandara internasional Riyadh baru-baru ini.

Puncak eskalasinya terjadi pada Rabu malam. Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi mengumumkan bahwa satu warga tewas akibat serangan mematikan di Bandara Internasional King Fahad di Dammam, kawasan Teluk yang berdekatan dengan Bahrain dan Qatar. Pejabat setempat melaporkan delapan orang luka-luka dan bandara mengalami kerusakan material. Situs pelacak penerbangan global Flightradar24 bahkan mencatat banyak penerbangan terpaksa dialihkan dari bandara tersebut demi menghindari rudal.

Di lokasi terpisah, sistem pertahanan udara Saudi memang berhasil mencegat drone yang mengincar fasilitas minyak di tenggara negara itu. Namun, puing-puing drone yang berjatuhan justru menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya, seperti diungkapkan oleh Kementerian Energi Saudi.

Baca juga :  Gencatan Senjata Diperpanjang, Tapi Korban Terus Berjatuhan di Lebanon

Hingga kini Houthi belum secara resmi mengklaim kedua serangan maut tersebut. Namun, bandara dan fasilitas minyak memang sudah lama jadi “langganan” target empuk kelompok militan tersebut dalam gelombang serangan proyektil mereka.

Rumor Eksodus Berjamaah & Skenario Perang Rahasia Trump

Kepanikan AS di Saudi ini langsung memicu bola liar. Media raksasa seperti NBC dan AFP melaporkan bahwa keluarga personel kedutaan AS juga ditarik diam-diam dari Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Qatar, dan Bahrain. Lebih ngeri lagi, New York Times membocorkan bahwa pemerintahan Donald Trump sedang menyusun rencana matang untuk kembali mengobarkan perang melawan Iran usai pemilu paruh waktu.

Namun, Pigott buru-buru membantah rumor eksodus besar-besaran di negara Teluk lainnya. Ia menyebut laporan tersebut “tidak akurat” dan bersikeras bahwa perintah evakuasi hanya berlaku untuk staf di Arab Saudi.

Baca juga :  Trump Klaim Kesepakatan Gaza Tercapai, Hamas dan Israel Masih Berselisih

Pihak militer AS sendiri dikabarkan mulai mengurangi kehadiran pasukannya di berbagai pangkalan Timur Tengah. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) menepis isu persiapan perang dengan dalih bahwa rotasi pasukan adalah hal biasa untuk “mengoptimalkan kesiapan misi”.

Meski begitu, bau mesiu tak bisa disembunyikan. New York Times melaporkan bahwa AS dan Israel telah merancang “operasi singkat namun intensif” terhadap Iran, menyusul lawatan rahasia Menteri Pertahanan Peter Hegseth ke Israel awal pekan ini untuk bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Pekan lalu, Trump sesumbar bahwa AS sedang mengincar Gunung Pickaxe, sebuah situs vital yang terkait dengan program nuklir Iran. Namun, demi mengamankan suara, sang presiden secara terbuka berjanji tidak akan memulai perang sebelum pemilu 3 November mendatang.