Trump Klaim Kesepakatan Gaza Tercapai, Hamas dan Israel Masih Berselisih
WASHINGTON, DIKSIMERDEKA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kesepakatan Gaza telah tercapai. Kesepakatan itu disebut mencakup pelucutan senjata Hamas secara bertahap, penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza, hingga pembentukan pasukan keamanan internasional untuk menjaga stabilitas wilayah tersebut, Jumat (31/7/2026).
Namun, di balik optimisme Washington, jalan menuju perdamaian masih dipenuhi hambatan. Hamas dan Israel masih berbeda pandangan mengenai syarat utama implementasi kesepakatan, terutama terkait kapan pelucutan senjata harus dilakukan.
Melalui media sosialnya, Trump mengatakan seluruh proses akan berlangsung secara bertahap agar transisi keamanan berjalan lebih terukur.
“Kesepakatan ini akan dilaksanakan dalam tahapan yang disusun secara hati-hati. Setelah proses pelucutan senjata selesai, pasukan Israel akan ditarik, sementara Pasukan Stabilisasi Internasional bersama kepolisian Palestina yang baru akan bertanggung jawab menjaga keamanan Gaza bagi penduduk dan negara-negara tetangganya,” tulis Trump dilansir dari The Guardian.
Pernyataan tersebut muncul sekitar sembilan bulan setelah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat ditandatangani. Selama itu pula, negosiasi lanjutan antara Israel dan Hamas praktis mengalami kebuntuan, terutama mengenai pelucutan senjata Hamas dan rencana rekonstruksi Gaza.
Hamas Tolak Melucuti Senjata Sebelum Israel Mundur
Meski sejumlah pejabat senior Hamas dikabarkan telah menyetujui kerangka kesepakatan tersebut, perbedaan tafsir mengenai urutan pelaksanaan menjadi batu sandungan baru.
Anggota tim perunding Hamas, Ghazi Hamad, menegaskan organisasinya tidak akan menyerahkan senjata selama pasukan Israel masih berada di Jalur Gaza.
“Kami tidak akan mengambil tindakan apa pun terkait pelucutan senjata sebelum Israel menarik diri dari Jalur Gaza,” katanya kepada Al Jazeera.
Sikap itu bertolak belakang dengan tuntutan Israel yang menjadikan pelucutan senjata Hamas sebagai syarat mutlak sebelum proses politik maupun keamanan dilanjutkan.
Seorang pejabat Israel yang berbicara kepada Reuters menyebut rancangan kesepakatan yang beredar belum memenuhi kepentingan negaranya.
“Israel menuntut pelucutan senjata Hamas secara menyeluruh, termasuk penghapusan seluruh persenjataan dari Gaza dan demiliterisasi penuh wilayah tersebut sebagai prasyarat bagi proses apa pun,” ujar pejabat tersebut.
Ia menambahkan pemerintah Israel telah menyampaikan keberatan karena usulan yang dibahas belum memberikan jawaban memadai terhadap tuntutan tersebut.
Konflik AS-Iran Kian Meluas
Di tengah upaya mencari solusi di Gaza, ketegangan di kawasan Timur Tengah justru semakin meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Militer Iran pada Jumat meluncurkan serangan drone ke fasilitas militer Amerika Serikat di Pangkalan Udara Ahmad Al Jaber, Kuwait.
Dalam pernyataannya, militer Iran menyebut sasaran serangan meliputi hanggar pesawat tempur, sistem komunikasi satelit, hingga gudang penyimpanan peralatan militer.
Teheran menyatakan serangan itu merupakan balasan atas serangan udara Amerika Serikat terhadap sebuah rumah di Pulau Qeshm, Iran, yang menurut media pemerintah menewaskan tiga anggota satu keluarga.
Hingga kini, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) belum memberikan tanggapan resmi mengenai klaim tersebut.
Arab Saudi Siapkan Operasi ke Yaman
Ketegangan regional juga terlihat dari langkah Arab Saudi yang disebut tengah mempersiapkan operasi militer besar terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Sejumlah sumber Yaman menyebut operasi tersebut dapat dilakukan melalui jalur laut maupun darat dengan tujuan memutus ancaman terhadap jalur pelayaran dan ekspor minyak melalui Laut Merah bagian selatan.
Sebagai bagian dari pengamanan kawasan, Arab Saudi juga mengumumkan pembentukan aliansi pertahanan maritim yang melibatkan 14 negara untuk menjaga keamanan pelayaran di sekitar Selat Bab al-Mandab.
Data perusahaan pelayaran Kpler menunjukkan sebanyak 25 kapal kargo melintasi Selat Bab al-Mandab pada Kamis. Sebaliknya, lalu lintas tanker di Selat Hormuz masih sangat rendah dengan hanya dua kapal yang melintas.
Para analis memperkirakan perusahaan-perusahaan minyak dunia akan kembali mencatat keuntungan besar akibat terganggunya distribusi energi selama konflik berlangsung.
Laporan Global Witness mencatat enam perusahaan minyak terbesar di Eropa membukukan laba gabungan mencapai 22 miliar dolar Amerika Serikat pada kuartal pertama tahun ini, meningkat 43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ledakan Besar Guncang Lebanon Selatan
Sementara itu, situasi di Lebanon juga kembali memanas.
Media resmi Lebanon melaporkan ledakan besar mengguncang wilayah selatan negara tersebut setelah militer Israel menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah yang diklaim milik Hizbullah di sekitar Benteng Beaufort.
Ledakan yang terjadi sejak tengah malam itu terdengar hingga berbagai wilayah di Lebanon selatan dan menyebabkan kaca sejumlah rumah pecah akibat gelombang kejut.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah menghancurkan beberapa bagian penting jaringan terowongan yang dibangun selama lebih dari dua dekade.
Menurut IDF, kompleks bawah tanah tersebut menjadi markas utama Unit Badir Hizbullah di Lebanon selatan dan didanai oleh Iran.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meski Amerika Serikat mengklaim peluang perdamaian di Gaza semakin terbuka, konflik di Timur Tengah justru terus meluas dengan melibatkan semakin banyak negara dan kelompok bersenjata.

Tinggalkan Balasan