DIKSIMERDEKA.COM SANA’A – Eskalasi Konflik Yaman memasuki babak baru yang makin genting. Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan sepakat untuk kembali terjun ke medan perang, menyusul sepak terjang milisi Houthi sokongan Iran yang makin agresif dan membuat para penguasa negara Teluk ketar-ketir.

Dilansir The Guardian, kesepakatan ini ditandai dengan langkah UEA yang akan kembali mengucurkan dana bagi pasukan pemerintah yang memerangi Houthi di wilayah selatan. Sebagai imbalannya, Arab Saudi siap mengerahkan kekuatan udaranya untuk melindungi pasukan anti-Houthi tersebut.

Langkah strategis ini menjadi sinyal kuat mencairnya hubungan antara UEA dan Arab Saudi. Sebelumnya, kedua “saudara tua” ini sempat bersitegang hebat terkait masa depan Yaman. Namun, manuver mematikan Houthi belakangan ini memaksa mereka untuk kembali merapatkan barisan.

Houthi Makin Beringas, Saudara Tua Teluk Akhirnya Rujuk

Saat ini, Arab Saudi tengah babak belur menghadapi teror harian berupa serangan drone dan rudal Houthi. Serangan ini sukses melumpuhkan aktivitas bandara dan menargetkan sejumlah infrastruktur energi vital milik Riyadh.

Baca juga :  Batal Digempur AS di Menit Akhir, Houthi Makin Beringas Kuasai Wilayah Strategis Yaman

Di sisi lain, pasukan wilayah selatanutamanya Brigade Raksasa (Giant Brigades) yang dikenal sebagai kekuatan tempur paling efektif dalam koalisi anti-Houthi, sempat kelabakan. Pasalnya, UEA yang selama ini melatih dan mendanai mereka, tiba-tiba angkat kaki dari operasi militer di Yaman pada bulan Januari lalu dan memutus keran logistik.

Kini, para pejabat UEA dibuat cemas dengan peta Konflik Yaman saat ini. Meski menelan kerugian besar, Houthi tampak ngotot ingin merebut Taiz dan Marib, dua kota terakhir di luar batas wilayah Yaman Selatan era lampau.

Situasi di lapangan makin mencekam. Jumat lalu, dua rudal Houthi menghantam bandara Aden tepat saat sebuah pesawat penumpang bersiap lepas landas. Meski tidak ada korban jiwa, insiden ini memicu kepanikan luar biasa.

Baca juga :  Bandara Riyadh Diserang Rudal Houthi Lagi, 1 Tewas dan 11 Luka

Menteri Penerangan Yaman, Moammar Al-Eryani, memberikan kesaksian terkait insiden tersebut: “Rudal mendarat sekitar 500 meter dari pesawat Yemenia Airways, dan sekitar 100 meter dari titik tengah landasan pacu.”

Serangan di bandara ini hanya berjarak satu hari setelah Houthi menggempur istana kepresidenan di Aden, yang menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 16 lainnya.

Manuver Politik dan Bencana Kemanusiaan

Di tengah rentetan serangan, tuntutan politik juga makin memanaskan suhu. Kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC) mendesak referendum pemisahan diri untuk mengembalikan batas negara tahun 1967-1990. Sejauh ini, baik Arab Saudi maupun UEA masih bungkam merespons tuntutan tersebut.

STC pun enggan mengirim pasukannya bertempur di luar batas wilayah Yaman Selatan kuno. Namun, jika Riyadh memberi lampu hijau untuk referendum, pembatasan pergerakan pasukan itu kemungkinan besar akan dicabut.

Pemerintah Yaman yang diakui PBB pekan lalu sempat mendeklarasikan serangan balasan untuk mengusir Houthi dari ibu kota Sana’a. Sayangnya, operasi militer di sekitar Majzar dekat Marib dan selat Bab al-Mandab ini belum membuahkan hasil signifikan.

Baca juga :  Dunia Mulai Guncang! China Bertahan, Tapi Dampak Iran Tutup Selat Hormuz Tak Terbendung

Dampak Konflik Yaman ini tak hanya dirasakan di kawasan Teluk, tapi juga memicu reaksi global. Presiden Mesir, Abdel Fatah al-Sisi, menggelar sidang parlemen darurat untuk memberikan kewenangan militer demi membela Arab Saudi dari serangan, meski ia menegaskan Mesir tidak akan melakukan serangan ofensif.

Di Inggris, perdebatan soal bantuan militer untuk Saudi terus bergulir, diwarnai kekhawatiran soal pelanggaran hukum humaniter internasional pasca-putusan pengadilan tahun 2019 terkait lisensi ekspor senjata.

Sementara elite politik berdebat, rakyat Yaman terus menderita. Menurut data PBB, tidak ada angka pasti korban tewas sejak Agustus lalu, namun lebih dari 200.000 jiwa terpaksa mengungsi. Gelombang pengungsi ini memberikan tekanan luar biasa pada kelompok-kelompok kemanusiaan yang berbasis di Aden.