Houthi Makin Menggila, Jet Tempur Inggris Turun Gunung Bekingi Arab Saudi
DIKSIMERDEKA.COM LONDON Eskalasi perang di Timur Tengah makin panas. Milisi Houthi asal Yaman yang disokong Iran makin beringas melancarkan serangan mematikan. Tak ingin sekutunya babak belur, Inggris akhirnya “turun gunung” mengerahkan armada jet tempur kebanggaannya, RAF Typhoon, untuk membekingi pertahanan udara Arab Saudi.
Dari laporan The Guardian, operasi militer ini bukan main-main. Ini adalah misi militer paling signifikan yang diteken langsung oleh Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham. Nantinya, para pilot top Inggris akan ditugaskan jadi tameng udara, memburu dan menembak jatuh rudal serta drone kamikaze Houthi yang belakangan rajin meneror bandara dan kilang minyak Saudi.
Kementerian Pertahanan Inggris buru-buru menenangkan publik agar tak panik. Mereka menegaskan peran jet tempur ini—yang jumlah pastinya dirahasiakan—sangat terbatas. “Pesawat-pesawat ini akan beroperasi dalam peran defensif dan tidak akan melakukan serangan ofensif terhadap Houthi,” tegas kementerian.
Dalih Tameng Udara dan Ancaman Terseret Perang Terbuka
Keputusan Inggris ini lahir usai situasi kawasan makin ngeri. Serangan Houthi yang dimulai September lalu kini meledak jadi konflik regional berdarah. Arab Saudi, sebagai bekingan utama pemerintah sah Yaman, kini jadi bulan-bulanan.
Bulan ini saja, 13 nyawa melayang saat rudal Houthi sukses menjebol Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh. Ini jadi tragedi paling berdarah di Saudi sejak September. Di Yaman sendiri, kondisinya lebih parah. Serangan rudal Houthi ke kamp pelatihan pemerintah Yaman pada Senin lalu menewaskan 73 orang.
Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, dalam wawancara TV beralasan bahwa Inggris sepakat membantu Saudi demi melawan “eskalasi Houthi yang keterlaluan yang kita lihat dalam beberapa pekan terakhir”. Ia juga berkilah, “merespons untuk melindungi warga sipil” dari serangan.
Namun, pengamat tak lantas percaya begitu saja. HA Hellyer, pakar Timur Tengah dari lembaga thinktank Royal United Services Institute, mengingatkan Inggris bisa saja terperosok makin dalam ke lumpur konflik.
“Apa arti dari defensif?” tanyanya kritis. Ia mempertanyakan skenario jika Houthi menyerang kapal Saudi di Laut Merah dan Inggris ada di sana. “Inggris mungkin mengatakan itu defensif, tetapi Houthi akan melihatnya sebagai ofensif,” sentilnya.
Menangkis keraguan itu, Streeting ngotot bahwa mandat tempurnya sempit. “RAF Typhoon akan terbang dalam misi udara defensif untuk membantu melindungi wilayah udara Saudi dari drone dan rudal,” ucapnya.
Selain jet tempur, militer Inggris juga akan menyuplai pesawat angkut berat Atlas A400M dan memperpanjang misi pengisian bahan bakar udara (pesawat Voyager) untuk jet tempur Saudi selama 90 hari ke depan.
Minyak Meroket, Amerika Pilih Main Aman
Inggris memang punya sejarah mesra dengan militer Saudi. Pabrikan senjata BAE Systems sebelumnya sukses meraup untung dari penjualan 72 Typhoon senilai 4,4 miliar Poundsterling ke Riyadh. Saat ini, mereka bahkan sedang melobi penjualan 48 unit tambahan.
Langkah Inggris ini diambil hanya beberapa hari setelah Menhan Streeting sowan ke rekannya dari AS, Pete Hegseth, di Pentagon. Sayangnya, meski sekutu dekat, Amerika Serikat terkesan lebih “main aman”.
AS sejauh ini hanya mengirim intelijen dan sekitar 100 penasihat militer. Bahkan, Utusan AS untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, dalam sebuah konferensi di Qatar menegaskan bahwa mengirim pasukan darat melawan Houthi “tampaknya sia-sia”. Donald Trump pada hari Jumat malah mendesak Riyadh untuk menerima bantuan dari Israel, tawaran yang masih buram wujudnya.
Gedung Putih sepertinya enggan cari gara-gara jelang Pemilu Sela bulan November, apalagi harga minyak dunia sedang mendidih di atas 100 Dolar AS per barel. Faktor melambungnya harga energi inilah yang rupanya jadi salah satu alasan diam-diam Inggris nekat intervensi—mereka takut krisis Timur Tengah ini makin mencekik biaya hidup warganya sendiri.
Hellyer mengkritik strategi Saudi yang tak jelas dalam meredam Houthi. “Sekutu akan dengan senang hati membantu Saudi, tetapi mereka tidak terlalu pandai menjelaskan apa yang mereka inginkan,” katanya. Ia menduga, bantuan Inggris ini ibarat memberi ruang bagi militer Saudi agar bisa fokus membombardir Houthi, meski selama ini Angkatan Udara Saudi kerap dikecam karena dituding membom secara membabi buta pakai senjata buatan Inggris dan AS.

Tinggalkan Balasan