Sengkarut Distribusi BBM Bali Bikin Antrean Mengular, DPR Sentil Pertamina dan PLN
DIKSIMERDEKA.COMDENPASAR – Fenomena antrean panjang kendaraan yang mengular demi setetes bahan bakar minyak (BBM) di Bali beberapa hari terakhir bikin miris. Tak mau masalah ini dianggap angin lalu, Anggota Komisi XII DPR RI, Sartono Hutomo, langsung ‘turun gunung’ menyentil bobroknya Distribusi BBM Bali dan menuntut evaluasi total dari para pemangku kepentingan.
Sikap kritis ini dilontarkan Sartono usai blusukan dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi XII DPR RI ke fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) dan Gas Insulated Switchgear (GIS) di Denpasar, Bali, Jumat (9/10/2026). Dalam forum tersebut, Komisi XII mencecar mitra kerjanya, termasuk PT Pertamina dan PT PLN, terkait karut-marut ketersediaan energi di Pulau Dewata.
Menurut Sartono, akar masalah antrean BBM ini harus dibongkar dari hulu ke hilir. Apakah ini murni karena rantai pasok yang mandek, kuota subsidi yang jebol, atau fenomena ‘turun kelas’ masyarakat yang ramai-ramai hijrah dari Pertamax ke Pertalite.
“BBM di Bali tentu kan harus dievaluasi, permasalahan di mana? Apakah hanya di Pertamina saja atau juga permasalahan di hulu? Apakah juga ada permasalahan di subsidi, di kuotanya yang terbatas? Atau juga terjadi perpindahan dari yang tadinya menggunakan Pertamax ke Pertalite,” ujar Sartono dengan nada tajam.
H2: Antrean BBM Ancam Cekik Pertumbuhan Ekonomi
Politisi Senayan ini mengingatkan, pemetaan masalah yang akurat sangat krusial agar ‘penyakit’ antrean ini tidak kumat lagi di bulan-bulan mendatang. Pasalnya, BBM adalah urat nadi perekonomian. Kelangkaan di lapangan sama saja dengan mencekik aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha yang sedang berusaha bangkit.
“Kalau terjadi antrean dan sebagainya, ini kan juga menghambat dalam perekonomian kita. Harusnya lebih cepat lagi, tapi juga ada permasalahan di lapangan tentang kekurangan daripada BBM. Nah ini juga yang tadinya kita menginginkan ekonomi kita tumbuh menjadi terhambat,” tegas politisi tersebut.
H2: Stok Batu Bara PLN Ikut Disorot, Jangan Main-main dengan Pasokan Listrik!
Tak cuma urusan perut tangki kendaraan, Sartono juga menyoroti ancaman krisis di sektor kelistrikan. Ia mewanti-wanti PLN soal ketahanan stok batu bara untuk pembangkit listrik di Bali. Hari Operasi Pembangkit (HOP) mutlak harus dijaga di level aman agar Bali tidak berisiko gelap gulita.
“Untuk di Bali ini kan minimal kan harusnya mungkin 20 hari lah atau 15 sampai 20 hari. Jangan sampai satu minggu lah,” kata Sartono memberi peringatan keras.
Ia mendesak agar persoalan ketahanan stok energi primer ini dilihat melalui kacamata kebijakan nasional yang komprehensif, bukan sekadar urusan operasional harian. Apalagi, tren kebutuhan listrik di Bali terus melonjak tajam seiring pulihnya pariwisata dan geliat usaha.
Mirisnya, Sartono juga menemukan fakta adanya antrean panjang (waiting list) para pelaku usaha yang kelabakan menunggu persetujuan penambahan daya listrik. Hal ini menjadi rapor merah yang harus segera dibereskan agar infrastruktur kelistrikan mampu mengimbangi lari kencang para pengusaha.
“Jangan sampai kekurangan pasokan energi primer ini itu menghambat terhadap juga geliat pertumbuhan perekonomian. Baik secara di Bali maupun di nasional,” ujarnya.
Sebagai langkah pamungkas, Sartono memastikan seluruh temuan jeblok di lapangan ini akan diangkut ke Senayan untuk dijadikan peluru dalam rapat kerja bersama pemerintah pusat. Ia menuntut tindakan nyata, bukan sekadar janji manis.
“Temuan-temuan di lapangan seperti ini harus ada solusi,” pungkas Sartono.

Tinggalkan Balasan