DIKSIMERDEKA.COM SINGAPURA Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia kembali bikin repot negara tetangga. Pemerintah Singapura menyatakan kesiapannya untuk turun tangan membantu Indonesia di tengah memburuknya kondisi udara yang menyelimuti wilayah mereka.

Dilansir The Strait Times, Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, mengaku telah berkomunikasi langsung dengan mitranya di Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, untuk menawarkan dukungan sekaligus mengapresiasi upaya pengendalian kebakaran yang sedang berlangsung.

“Kami terus menjalin kontak dengan tetangga kami. Seperti yang Anda ketahui, ini adalah wilayah di mana, karena El Nino, kita menghadapi cuaca yang sangat kering, dan karenanya membuat kebakaran hutan jauh lebih sulit dipadamkan,” ujar Fu kepada media di Our Tampines Hub, Selasa (10/10).

Baca juga :  Menteri LHK: Pemerintah Antisipasi Kemarau dengan Modifikasi Cuaca Hari Hujan

“Kami menyadari bahwa berbagai upaya terus dilakukan. Kami siap membantu sebisa kami,” tegasnya.

H2: Kualitas Udara Memburuk, Tembus Level Tidak Sehat

Dampak Karhutla yang mayoritas berasal dari praktik pembukaan lahan di Sumatra dan Kalimantan ini jelas terasa di Negeri Singa. Indeks Standar Pencemar (PSI) 24 jam—tolok ukur kualitas udara di Singapura—menyentuh angka 192 di wilayah tengah pada 9 Oktober pukul 6 sore. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang tahun 2026 dan nyaris menyentuh level “sangat tidak sehat” di ambang batas 201.

Meski udara sedikit membaik pada malam hari, kualitasnya masih bertahan di zona tidak sehat pada keesokan paginya. Tercatat pada 10 Oktober pukul 9 pagi, wilayah utara mencatat angka PSI 124, selatan 135, timur 156, barat 160, dan wilayah tengah menembus 174.

Baca juga :  El Nino 2026 Mengancam! IPB Ungkap Cara Murah Cegah Ledakan Hama Padi Sejak Dini

Singapura sejatinya telah didera beberapa episode kabut asap sejak 4 September lalu. Namun, periode kali ini tercatat sebagai yang terlama dengan partikel polusi yang terus mengepung udara sejak 5 Oktober. Fu mencatat, memburuknya situasi selama sepekan terakhir dipicu oleh lonjakan titik api (hotspot) di Sumatra dan Kalimantan, serta arah angin yang sedang “tidak bersahabat” bagi Singapura.

H2: Siaga Darurat Udara Beracun di Era El Nino

Asap pekat dan beracun dari lahan gambut yang terbakar menjadi biang kerok utamanya. Diperparah oleh fenomena El Nino yang masih berlangsung, lahan gambut yang mengering ini bisa terbakar selama berminggu-minggu dan sangat sulit dijinakkan.

“Meskipun kami memperkirakan akan turun hujan pada akhir pekan ini, kami memprediksi tingkat kabut asap dapat menembus angka 200, dan masuk ke rentang sangat tidak sehat,” peringat Fu.

Baca juga :  Ketum KSPSI Jumhur Hidayat Nilai Pemerintah Prabowo Pro Buruh

“Jadi kita harus bersiap. Kami sangat mengkhawatirkan penduduk kami, terutama mereka yang lebih rentan,” tambahnya.

Sebagai langkah antisipatif, otoritas Singapura pada 9 Oktober menyatakan akan mendistribusikan masker N95 kepada kelompok rentan dan mereka yang kesulitan mendapatkannya jika polusi udara benar-benar menyentuh level “sangat tidak sehat”.

Kerja sama lintas negara ini bukan hal baru. Pada Juni 2026, Singapura dan Indonesia telah meneken perjanjian kerja sama lingkungan yang mencakup polusi lintas batas. Mengingat memori kelam pada bencana asap hebat tahun 2015—saat PSI tembus di atas 300 hingga meliburkan sekolah—Singapura saat itu juga menerjunkan langsung bantuannya untuk operasi pemadaman di Indonesia.