DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan) Provinsi Bali menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kekeringan lantaran musim hujan di prediksi mundur di Pulau Dewata. 

Sejumlah langkah yang disiapkan antara lain pemetaan lahan pertanian yang berpotensi kekeringan, penyediaan pompa air untuk menjaga pasokan irigasi, serta menyiapkan tim yang siap turun ke lapangan ketika terjadi kekeringan. 

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan di Bali akan datang lebih lambat, BMKG memprediksi musim hujan baru tiba pada bulan November atau Desember 2026. 

Kepala Distan Bali I Wayan Sunada mengatakan pihaknya telah memetakan sekitar 328 ribu hektare lahan pertanian yang berpotensi mengalami kekeringan. 

“Memang saat ini kita sudah petakan, ada 328 ribu hektare yang berpotensi kekeringan. Tetapi ketika tanaman itu berpotensi kekeringan, begitu terjadi kekeringan, kita akan antisipasi,” kata Sunada saat ditemui di Kantor Gubernur Bali, Rabu (7/10/2026). 

Lebih jauh, Sunada mengatakan Distan Bali telah memiliki  tim Gerakan Pengendalian (Gerdal) di lapangan untuk merespon situasi tersebut. Tim tersebut katanya, akan fokus menangani ancaman kekeringan dan juga penyakit yang menyerang tanaman.

Baca juga :  Masuki Musim Kemarau, Bali Waspadai Ancaman Kebakaran di TPA

“Untuk El Nino, kita sudah punya tim namanya Gerdal, Gerakan Pengendalian, baik itu di lahan maupun penyakit. Ketika ada pertanaman kita kekeringan, Gerdal itu yang turun,” ujarnya.

Selain mengerahkan tim, Distan Bali menyiapkan pompa air untuk mengantisipasi kekurangan pasokan air. Sunada mengatakan saat ini terdapat sekitar 50 pompa air yang dapat digunakan untuk mengambil air dari sungai dan mengalirkannya ke lahan pertanian.

Sunada mengatakan langkah tersebut dilakukan agar tanaman yang sudah ditanam tidak mengalami gagal panen akibat kekurangan air. 

Terlebih, sejumlah lahan yang baru ditanami juga telah dipetakan sebagai wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

“Ada juga yang sebulan baru tanam, berpotensi kekeringan, kita cepat antisipasi supaya tidak gagal panen. Kasihan petaninya,” katanya.

Menurut Sunada, pemetaan potensi kekeringan telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Jembrana dan Tabanan sebagai penyumbang panen padi terbesar di Bali . Ia memastikan lahan yang telah dipetakan tersebut telah mendapat langkah antisipasi.

Baca juga :  Masuki Musim Kemarau, Bali Waspadai Ancaman Kebakaran di TPA

Meski musim hujan diprediksi mundur, Sunada mengatakan kondisi tersebut belum mengubah kalender tanam padi di Bali. 

Ia memastikan petani tetap menjalankan musim tanam pertama (MT1) dan musim tanam kedua (MT2). Saat ini kata Sunada, petani sudah masuk tahap kalender musim tanam kedua

Berkaitan dengan produktifitas panen, Sunada mengatakan hal tersebut bergantung pada kondisi irigasi. 

Sunada menerangkan jika lahan yang memiliki jaringan irigasi bagus, maka petani bahkan bisa menanam dan memanen sebanyak tiga kali dalam setahun. 

“Yang subak-subak atau lahan-lahan memiliki irigasi teknisnya bagus, kita sudah bisa sampai tiga kali,” ujarnya.

Sementara itu, pada sawah tadah hujan, biasanya panen akan berlangsung hanya satu kali. 

Sunada mengatakan Tabanan masih menjadi salah satu daerah penghasil padi terbesar di Bali, bersama Jembrana. 

Baca juga :  Masuki Musim Kemarau, Bali Waspadai Ancaman Kebakaran di TPA

Lebih jauh, Sunada meminta petani segera melaporkan jika mulai menemukan tanda-tanda kekeringan atau gangguan pada tanaman. Laporan dapat disampaikan kepada dinas pertanian kabupaten, penyuluh pertanian, maupun pekaseh.

“Ketika cepat ada potensi kekeringan, tolong dilaporkan ke dinas. Atau dinas kabupaten, atau penyuluh. Atau ke pekaseh, tolong dilaporkan,” kata Sunada.

Menurut dia, laporan dari petani diperlukan agar tim dapat segera turun ke lokasi. Distan tidak dapat memantau seluruh lahan pertanian secara langsung tanpa informasi dari petani di lapangan.

“Kita kan tidak bisa menjangkau seluruh Bali. Di sana ada kekeringan, kita tahu tidak bisa. Kecuali ada laporan, kita langsung turun,” ujarnya.

Sunada mengatakan hingga saat ini kondisi ketersediaan air di Bali masih relatif mencukupi dibandingkan sejumlah daerah lain. 

Karena itu, pemetaan dan langkah antisipasi dilakukan sejak awal untuk mencegah potensi kekeringan berkembang menjadi gangguan terhadap produksi padi.

Reporter: Agus Pebriana