DIKSIMERDEKA.COM BANGKOK Anomali iklim menyajikan pemandangan cuaca ekstrem Indonesia Thailand yang bertolak belakang pada akhir tahun ini. Ketika otoritas Thailand kalang kabut menetapkan ibu kotanya sebagai zona bencana akibat curah hujan ekstrem yang menenggelamkan jalanan, masyarakat Indonesia justru masih harus gigit jari menghadapi kemarau panjang karena datangnya musim hujan yang meleset dari jadwal normal.

Perbedaan drastis ini menunjukkan betapa dinamisnya pergerakan cuaca di kawasan Asia Tenggara. Di satu sisi, ada negara yang kelebihan debit air hingga memicu krisis, sementara di sisi lain, jutaan hektar lahan pertanian dan waduk-waduk mengering menanti datangnya tetes air dari langit.

Petaka Hujan Ekstrem di Bangkok: 4.200 Warga Mengungsi

Di Thailand, ibu kota Bangkok tak berdaya dihantam curah hujan ekstrem yang menyentuh angka hampir 300 mm hanya dalam kurun waktu 48 jam. Dahsyatnya limpasan air melumpuhkan jalan-jalan protokol, merendam deretan kendaraan hingga separuh badan mobil, dan memaksa Pemerintah Metropolitan Bangkok (BMA) menetapkan status tanggap bencana darurat, Minggu (27/9/2026).

BMA terpaksa mendirikan 233 posko pengungsian sementara dan mengevakuasi sedikitnya 4.200 warga yang rumahnya terendam. Dilansir dari The Strait Times, meski pemerintah setempat tengah berpacu dengan waktu menguras kanal-kanal saat curah hujan sempat mereda akhir pekan lalu, ancaman belum berakhir. Departemen Meteorologi Thailand memprediksi badai petir masih akan menerjang hingga 80 persen wilayah Bangkok dan kawasan penyangganya dalam beberapa waktu ke depan.

Anomali di Indonesia: Kemarau Panjang, Hujan Mundur ke Desember

Bagaikan bumi dan langit dengan Thailand, kondisi di Indonesia justru didominasi hawa kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan musim hujan 2026/2027 di Tanah Air datang secara bertahap dan mengalami keterlambatan yang signifikan dibandingkan kondisi normal 30 tahun terakhir (1991-2020).

Kondisi ini membuat masa kemarau di sejumlah daerah berpotensi berlangsung lebih panjang, mengancam ketersediaan air bagi sektor-sektor vital.

“Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat atau mundur, yaitu di 529 zona musim atau 61,08% luas daratan Indonesia,” ujar Faisal dari BMKG.

Menurut prediksi BMKG, sebaran hujan baru akan mulai meluas memasuki bulan penutup tahun. “Kemudian musim hujan, masuknya musim hujan itu pada periode Desember 2026 yaitu sebanyak 266 zona musim atau 17,31% luas daratan Indonesia,” kata Faisal, merujuk pada prediksi dinamika iklim terkini yang dikeluarkan instansinya.

Puncak Musim Hujan RI Beda-Beda, Waspada Bencana Susulan

Meski awal curah hujan di Indonesia melambat, BMKG memprediksi akumulasi curah hujan saat musimnya tiba nanti berada pada kategori normal. “Akumulasi curah hujan pada periode musim hujan di sebagian besar Indonesia atau 510 zona musim sama dengan 69,76% luas daratan Indonesia diprediksi berada pada kategori normal atau mendekati kondisi rata-rata klimatologisnya,” jelas Faisal.

Namun, masyarakat dituntut ekstra waspada karena puncak curah hujan di Indonesia tidak akan terjadi serentak, melainkan tersebar bergiliran dari akhir 2026 hingga awal 2027. BMKG mencatat puncak hujan terbanyak terjadi pada Desember 2026 di 155 zona musim (36,94%), disusul Januari 2027 di 162 zona musim (25,68%), dan Februari 2027 di 190 zona musim (16,79%).

Masa tunggu kemarau yang panjang ini dinilai sebagai peluang krusial bagi pemerintah dan masyarakat untuk mematangkan persiapan infrastruktur air.

“Perlu digarisbawahi bersama bahwa musim hujan juga menghadirkan berbagai peluang yang dapat dioptimalkan seperti mendukung perluasan area tanam dan kesempatan untuk mengisi kapasitas waduk dan bendungan, serta setelah surut ya waduk dan bendungan ini akibat musim kemarau yang panjang,” ujar Faisal.

Kendati demikian, BMKG juga melontarkan peringatan keras agar Indonesia tidak bernasib seperti Bangkok yang lumpuh karena gagap merespons cuaca ekstrem.

“Namun demikian, bersama datangnya musim hujan, risiko bencana hidrometeorologi basah juga meningkat,” kata Faisal memperingatkan. “Karena itu kami berharap informasi ini dapat diterjemahkan menjadi strategi adaptasi dan langkah antisipasi yang konkret, sehingga masyarakat dan para pemangku kepentingan tidak hanya lebih siap menghadapi risiko tapi juga mampu memanfaatkan peluang yang hadir seiring dinamika iklim yang akan terjadi.”