Sanksi Manchester City: Cuma Potong Poin atau Ditendang dari Premier League?
DIKSIMERDEKA.COM MANCHESTER Awan hitam pekat kini benar-benar menggelayut di atas Etihad Stadium. Kabar buruk menghantam sang juara bertahan. Bayang-bayang sanksi Manchester City semakin nyata setelah sebuah pengadilan independen dilaporkan telah mencapai keputusan final terkait kasus 115 dakwaan pelanggaran finansial yang membelit klub kaya raya tersebut.
Lebih mengejutkan lagi, berbagai laporan membocorkan bahwa mayoritas dari ratusan dakwaan tersebut dinyatakan terbukti benar. Sky Sports News memahami bahwa proses hukum ini kini tengah bersiap memasuki babak baru, yakni tahap banding.
Premier League Bungkam, City Lempar Sindiran Tajam
Di tengah rumor yang berhembus kencang, pihak Premier League (Liga Inggris) memilih jurus tutup mulut. Otoritas tertinggi liga tersebut menolak memberikan komentar dengan dalih bahwa proses ini bersifat pribadi dan sangat rahasia, serta tidak akan memberikan panduan informasi apa pun ke publik.
Terpojok oleh pemberitaan, kubu The Citizens tidak tinggal diam. Mereka merespons dengan nada yang cukup tajam dan menuntut keadilan.
Seorang juru bicara Manchester City menyatakan: “Proses Premier League masih berlangsung, dengan elemen-elemen penting yang harus diselesaikan, dan tunduk pada kerahasiaan yang ketat. Karena itu, posisi Manchester City FC tetap konsisten dengan pernyataan klub pada Februari 2023.”
Pernyataan itu kemudian diiringi dengan sindiran keras terhadap otoritas liga. “Klub telah dengan rajin menghormati proses hukum selama delapan tahun dengan dasar bahwa Dewan dan Eksekutif Premier League akan bertindak sebagai regulator yang independen, tidak memihak, dan berpikiran adil, bebas dari pengaruh partisan.”
Rincian 115 Dosa Finansial: Laporan Bodong hingga Gagal Kooperatif
Bagi yang lupa, kasus ini bukanlah perkara sepele. Jurnalis Sky Sports News, Kaveh Solhekol, membedah kembali tumpukan ‘dosa’ yang didakwakan kepada raksasa Manchester biru tersebut.
“City didakwa melanggar aturan keuangan Premier League antara tahun 2009 dan 2018 dan juga gagal bersikap kooperatif dalam penyelidikan Premier League antara tahun 2019 dan 2023,” urai Solhekol. Namun, ia juga menegaskan posisi klub: “Sangat penting untuk ditekankan bahwa City membantah melakukan kesalahan apa pun dan mereka selalu mengatakan bahwa pembelaan mereka didukung oleh sekumpulan bukti yang tak terbantahkan.”
Solhekol merinci 115 dakwaan tersebut ke dalam beberapa pasal krusial:
- 54 dakwaan terkait kegagalan memberikan informasi keuangan yang akurat.
- 35 dakwaan berkaitan dengan kegagalan bekerja sama dengan penyelidikan Premier League (Desember 2018 – Februari 2023).
- 14 dakwaan berhubungan dengan kegagalan memberikan rincian akurat terkait pembayaran pemain dan manajer dari musim 2009-10 hingga 2017-18.
- 7 dakwaan tentang pelanggaran aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) Premier League di dua musim (2015-16 dan 2017-18).
- 5 dakwaan sisanya terkait kegagalan mematuhi aturan UEFA, termasuk aturan Financial Fair Play (FFP) pada musim 2013-14 dan 2017-18.
Prediksi Sanksi: Dari Pengurangan Poin hingga Ditendang dari Liga
Dilansir oleh Skysport, jika palu komisi independen benar-benar diketuk untuk menghukum City, kiamat kecil bisa saja terjadi di Etihad. Pasalnya, hukum di Liga Inggris tidak membatasi seberapa berat sanksi yang bisa dijatuhkan.
“Jika komisi memutuskan City bersalah, mereka dapat menghukum klub dengan cara apa pun yang dianggap pantas,” tegas Solhekol. “Menurut aturan Premier League, sanksinya bisa berupa pengurangan poin, denda, atau bahkan pengusiran (degradasi paksa) dari Premier League.”
Aturan ini dibuat fleksibel tanpa panduan sanksi pasti agar klub-klub tidak berani ‘mengkalkulasi’ pelanggaran demi keuntungan sesaat. Pada Februari 2025, CEO Premier League Richard Masters sempat menyebut pihaknya sedang menyusun ‘matriks sanksi’, namun aturan itu belum berlaku saat ini.
Sejarah mencatat, otoritas liga tak pernah main-main. Beberapa musim terakhir, klub-klub langganan Premier League sudah menjadi korban ketegasan aturan finansial ini:
- Everton dihukum pengurangan 6 poin, lalu ditambah 2 poin pada musim 2023/24 karena pelanggaran PSR.
- Nottingham Forest dipotong 4 poin di musim yang sama.
- Mundur ke belakang, Luton Town pernah dihajar pengurangan 30 poin pada 2008/09 (10 untuk pembayaran ilegal agen, 20 karena keluar dari administrasi tanpa CVA).
- Sementara pada 2021/22, Derby County disanksi 21 poin (12 akibat administrasi dan 9 karena penyimpangan keuangan).
Kini, bola panas ada di tangan pengadilan. Akankah Manchester City mampu berkelit dengan “bukti tak terbantahkan” mereka, atau kerajaan yang dibangun Pep Guardiola akan runtuh oleh skandal keuangan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris? Publik hanya bisa menunggu.

Tinggalkan Balasan