DIKSIMERDEKA.COM NEW YORK – Pidato Trump di PBB pada Selasa( 22/9/2026) kembali memanaskan panggung diplomasi dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan serangan verbal tajam dengan menyerukan kepada seluruh negara untuk bersatu mengisolasi Teheran secara ekonomi. Manuver ini dinilai sebagai langkah agresif untuk meruntuhkan harga energi global sekaligus memamerkan otot kebijakan luar negerinya.

“Saya menyerukan kepada semua bangsa untuk membantu menegakkan isolasi ekonomi total terhadap Iran,” tegas Trump di hadapan para delegasi Sidang Majelis Umum. “Jika kita bersatu, kita akan segera melihat dunia yang bebas dari ancaman teror Iran selama 51 tahun terakhir… dan harga minyak akan anjlok drastis lebih rendah daripada saat konflik dimulai.”

Seruan keras ini—yang juga dibarengi ancaman bahwa ia tak segan “menghancurkan” negara tersebut—muncul di saat banyak sekutu AS mengeluhkan lonjakan harga energi dan instabilitas global di bawah era pemerintahannya.

Tepis Ancaman AI, Fokus Ekspansi Militer

Tidak hanya menyoroti Timur Tengah, rangkaian pidato Trump di PBB itu juga digunakan untuk unjuk gigi di sektor teknologi dan pertahanan. Ia menegaskan bahwa AS tidak akan membatasi pengembangan kecerdasan buatan (AI). Alih-alih mewaspadai, ia menyebut AI sebagai “kecerdasan super” dan melabeli peringatan tentang bahaya AI yang tak terkendali sekadar “hoaks” belaka.

“Saya tidak akan menghambat pertumbuhan dari sesuatu yang akan menjadi lebih besar daripada Revolusi Industri,” cetusnya blak-blakan.

Pesan tersebut juga sarat dengan nuansa geopolitik strategis. Trump mengumumkan bahwa AS akan membangun dua pangkalan militer utama di Greenland. Langkah ini merupakan hasil kesepakatan dengan pemerintah Denmark, mengakhiri tawar-menawar alot yang sempat membuat aliansi NATO bergejolak.

“Kita akan memiliki kemampuan penuh untuk melakukan apa yang diperlukan guna membela benua Amerika, juga Eropa, dan tempat-tempat lainnya,” terang Trump. “Tidak ada musuh AS yang akan diizinkan membangun kehadiran militer di Greenland lagi, atau melakukan investasi sensitif di sana tanpa persetujuan tertulis yang tegas dari kami.”

Dengan penuh percaya diri, ia menepis isu bahwa AS kekurangan amunisi tempur, menyerang Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sebagai “organisasi nakal”, dan kembali sesumbar bahwa dirinya hampir menyelesaikan perang di Ukraina.

Ancaman Hancurkan Iran Tanpa Ampun

Meski secara keseluruhan pidato Trump di PBB kali ini dinilai lebih lunak dibanding tahun lalu—saat ia meramalkan Eropa “menuju kehancuran” karena kebijakan imigrasi—gertakan untuk membumihanguskan Iran tetap menggema kencang. Ia bahkan sempat berhenti sejenak untuk berterima kasih kepada Dewan Keamanan PBB karena telah mengutuk serangan Iran terhadap kapal kargo di Selat Hormuz.

“Saya punya keputusan besar yang harus dibuat: apakah kesepakatan akan dibuat dengan Iran yang membiarkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar dari sebelumnya,” ujarnya. “Atau apakah saya akan menghancurkan republik Islam tersebut dan melakukannya dengan cepat, tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh atau menghancurkan orang dan benua?”

Trump membantah keras bahwa sikap agresifnya dipengaruhi oleh tekanan politik domestik menjelang pemilu sela.

“Mereka menunggu untuk melihat bagaimana hasil saya di pemilu sela. Apa yang mereka tidak sadari adalah bahwa saya tidak mencalonkan diri,” tegasnya. “Hal itu bahkan tidak terlintas di pikiran saya. Satu-satunya hal yang ada di pikiran saya adalah bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.”

Diplomasi Minyak: Dari Venezuela ke Ukraina

Krisis energi memang menjadi sorotan utama dalam pidato Trump di PBB tahun ini. Iran memegang kendali ketat atas jalur pengiriman energi di Selat Hormuz, sementara harga minyak dunia terus terkerek oleh eskalasi Rusia-Ukraina—di mana Kyiv sukses menghancurkan kapasitas kilang minyak Moskow.

Di saat yang sama, Trump membela keputusan kerasnya menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Ia membanggakan kesepakatan minyak yang diraihnya bersama Delcy Rodríguez, penerus Maduro yang dinilai lebih jinak terhadap tuntutan AS. Rodríguez sepakat membagi kekayaan minyak Venezuela dengan Washington.

“Bagi sang pemenang, berhak atas rampasan perangnya,” ujar Trump tanpa basa-basi.

Rangkaian agenda Trump di New York bagaikan etalase bagaimana kepemimpinannya mendisrupsi tatanan global. Setelah meresmikan status Greenland, ia dijadwalkan bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, guna mendesak “gencatan senjata energi” dengan Rusia untuk menekan harga solar. Safari diplomasi ini akan ditutup dengan pertemuan bersama para pemimpin Teluk yang terdampak eskalasi Iran, serta pertemuan khusus dengan Delcy Rodríguez sang penguasa baru minyak Venezuela.