DIKSIMERDEKA.COM FLORIDA Keadilan akhirnya pelan-pelan menjemput para eksekutor berdarah. Lima tahun setelah insiden pembunuhan brutal yang menewaskan Presiden Haiti Jovenel Moïse (53), otoritas Amerika Serikat kembali melakukan gebrakan. Delapan belas orang tersangka telah ditangkap dan diangkut langsung ke Florida untuk diadili.

Tragedi yang terjadi pada 7 Juli 2021 itu sempat menggegerkan dunia. Moïse dieksekusi mati di kediaman pribadinya oleh sekitar 20 tentara bayaran asal Kolombia yang terlatih secara militer. Ironisnya, barisan pengawal kepresidenannya saat itu diam membisu tanpa melakukan perlawanan sedikit pun.

Agen khusus FBI, Brett Skiles, pada hari Minggu(20/9/2026) menegaskan bahwa perburuan tersangka belum berakhir. “Perburuan lintas negara hari ini adalah komitmeFBI untuk mengadili semua pihak yang terlibat dalam kasus ini,” tegas Skiles.

Para tersangka kini telah mendarat di Florida untuk menghadapi meja hijau. Dalam unggahannya di platform X, jaksa federal Jason Reding Quinones juga angkat bicara.“18 orang diangkut dengan pesawat militer dari Haiti untuk menghadapi keadilan Amerika di distrik selatan Florida,” ungkapnya.

Baca juga :  Wakapolda Sambut Langsung Kunjungan Kerja Perwakilan FBI di Mapolda Bali

“Lima tahun kemudian, kami masih membawa para terdakwa ke pengadilan Amerika, dan kami belum selesai,” tulis Quinones, seraya menambahkan bahwa hingga saat ini sudah ada 30 tersangka yang didakwa atas pembunuhan keji tersebut.

Jejak Berdarah Perusahaan Keamanan Florida

Kasus ini memang kental dengan aroma konspirasi dan uang. Pengadilan AS berhak mengadili kasus ini karena rencana pembunuhan tersebut diskenariokan di tanah Amerika.

Mei lalu, empat pria telah dijebloskan dan divonis bersalah di pengadilan federal Miami. Dakwaannya tak main-main: konspirasi pembunuhan dan penculikan Moïse, penyediaan dukungan material, hingga pelanggaran Undang-Undang Netralitas AS dengan terlibat operasi militer gelap di luar negeri. Keempatnya kini dibayang-bayangi ancaman penjara seumur hidup.

Baca juga :  Wanita Iran Dibekuk di AS! Diduga Makelar Drone, Bom dan Amunisi ke Afrika

Jaksa federal membongkar bahwa keempat orang ini terafiliasi dengan CTU, sebuah perusahaan keamanan swasta yang bermarkas di Florida. Mereka gelap mata tergiur iming-iming kontrak proyek bernilai fantastis jika rezim Moïse berhasil ditumbangkan.

Sebelumnya, pengadilan AS juga sudah mendakwa 11 orang terkait pembunuhan ini. Lima di antaranya bahkan sudah divonis penjara seumur hidup, mulai dari mantan tentara Kolombia, mantan senator Haiti, pengusaha Haiti-Cile, hingga warga negara Amerika keturunan Haiti.

Haiti Hancur Lebur Dikuasai Geng Bersenjata

Sepeninggal Moïse, Haiti tak ubahnya seperti negara gagal. Negara di Kepulauan Karibia ini terjungkal ke dalam jurang kekacauan yang jauh lebih dalam dan hingga kini belum memiliki presiden.

Sekitar 80 persenwilayah ibu kota Port-au-Prince kini lumpuh di bawah cengkeraman geng bersenjata. Gelombang kejahatan brutal seperti penculikan dengan tebusan, perampokan bersenjata, hingga pembajakan mobil menjadi makanan sehari-hari warga di negara miskin tersebut.

Baca juga :  Wanita Iran Dibekuk di AS! Diduga Makelar Drone, Bom dan Amunisi ke Afrika

Jika kondisi keamanan memungkinkan, Haiti berencana menggelar pemilu presiden dan legislatif pertamanya sejak 2016, sekaligus referendum konstitusi, pada 13 Desember mendatang.

Namun, asa untuk memulihkan keamanan masih jalan di tempat. Pasukan bersenjata sokongan PBB yang ditugaskan membantu kepolisian lokal menumpas geng dipastikan kekurangan personel dari target yang ditetapkan bulan Oktober.

Pasukan Penekan Geng yang diumumkan Dewan Keamanan PBB tahun lalu ini awalnya ditargetkan bisa menerjunkan 5.500 personel berseragam dan 50 staf sipil antara bulan April hingga Oktober. Mirisnya, hingga Juli lalu, pasukan gabungan dari Chad, Mongolia, Jamaika, Guatemala, El Salvador, dan Sri Lanka itu jumlahnya tak sampai 1.000 personel, dan belum ada tanda-tanda penambahan signifikan.