Rakyat Sarawak Ngamuk Tercekik Kabut Asap, Desak Negaranya Seret Indonesia ke Meja Hijau!
DIKSIMERDEKA.COM PETALING JAYA – Kesabaran warga Negara Bagian Sarawak Malaysia tampaknya sudah habis. Tak tahan terus-terusan dijejali polusi, Pemerintah Sarawak kini didesak keras untuk mengambil langkah hukum, menyeret Indonesia ke pengadilan gara-gara kabut asap Indonesia lintas batas yang terus menjadi “bencana langganan”.
Dilansir dari media freemalaysia today, Aktivis Sarawak, Peter John Jaban, membakar semangat perlawanan. Ia mendesak pemerintah negaranya untuk menuntut ganti rugi setimpal lewat jalur hukum nasional, regional, maupun internasional, asalkan bukti-bukti kerusakannya valid.
“Sarawak tidak boleh hanya diam menjadi korban pasif sementara rakyatnya terus menderita kerugian yang sebenarnya bisa dicegah,” tegas Peter dalam pernyataan resminya, hari ini.
Kerugian Ekonomi hingga Sekolah Tutup, Aktivis Tuntut Kompensasi Gila-gilaan
Tak cuma menyasar negara, Peter juga menyentil pemerintah federal dan Sarawak untuk ikut menyeret perusahaan-perusahaan atau pihak mana pun yang jadi dalang pembakaran hutan dan lahan.
Dia menuntut adanya tim penilai independen untuk mengaudit total kerusakan yang ditanggung Sarawak. Mulai dari paru-paru publik yang rusak, lingkungan yang tercemar, hingga ekonomi dan pendidikan yang porak-poranda. Hasil hitung-hitungan ini nantinya harus dipakai sebagai senjata untuk menuntut kompensasi bagi warga dan sektor-sektor yang babak belur dihajar kabut asap berulang ini.
Lebih jauh, Peter mendesak Putrajaya (Pemerintah Federal Malaysia) turun gunung. Ia meminta agar mekanisme dalam Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas segera digunakan untuk melayangkan protes resmi ke Jakarta. Kedua negara dituntut membuat sistem yang transparan dan akuntabel biar asap tak lagi mampir tiap tahun.
Tuntutan tajam Jaban ini ternyata sejalan dengan suara sumbang dari Dewan Distrik Serian yang sebelumnya juga menagih ganti rugi ke Indonesia. Ketuanya, Peter Minos, bulan lalu sudah mencak-mencak soal lumpuhnya aktivitas warga. Ia membeberkan deretan kerugian mulai dari masalah kesehatan, sekolah yang terpaksa libur, hingga sektor pariwisata yang boncos.
Seiring makin pekatnya asap di Serian, Minos kembali menyoroti kerugian yang makin membengkak, seperti tagihan medis warga yang meroket, acara-acara penting yang terpaksa batal, dan pekerjaan yang berantakan.
Asal tahu saja, Serian sempat berstatus darurat pada 4 hingga 7 September lalu karena kondisi cuaca yang mengerikan. Kepulan asap tebal kiriman dari kebakaran hutan di tetangga sebelah, Kalimantan, bikin Indeks Pencemar Udara (IPU) di Serian tembus angka gila di atas 500! Angka ini jauh melampaui batas ambang bahaya yang berada di level 300.
Hingga pukul 15.00 hari ini, 28 wilayah di seluruh negeri mencatat angka IPU pada level “tidak sehat”. Serian dan dua wilayah Sarawak lainnya—Samarahan dan Kuching—nangkring di posisi puncak klasemen udara kotor dengan angka masing-masing 174, 169, dan 166. Derita ini merembet ke wilayah Sarawak lainnya seperti Sri Aman (157), Bintulu (155), dan Miri (153) yang juga terpaksa menghirup udara tak sehat.

Tinggalkan Balasan