Bos NATS Dirujak Sana-Sini, Penumpang Telantar Berjam-jam Tanpa Harapan Kompensasi

LONDON DIKSIMERDEKA.COM – Langit Inggris mendadak kacau balau pekan ini. Gara-gara sebuah pesawat militer yang diduga memasukkan data penerbangan “ngawur” ke dalam sistem, layanan pengatur lalu lintas udara Inggris (NATS) mati total. Imbasnya tak main-main: lebih dari 2.000 jadwal penerbangan dibatalkan pada hari Selasa(8/9/2026), membuat ratusan ribu penumpang gigit jari,

Berdasarkan laporan Financial Times, sumber internal membocorkan bahwa kelumpuhan sistem yang memakan waktu perbaikan hingga berjam-jam ini dipicu oleh rencana penerbangan yang diserahkan oleh pesawat militer Inggris.

Parahnya, kebobrokan sistem ini makin terkuak. Pejabat operasi NATS, Kathryn Leahy, dilaporkan sampai menelepon para manajer bandara dan maskapai dengan suasana yang “memanas”. Leahy menginformasikan bahwa sistem pemrosesan penerbangan mereka ternyata tidak punya sistem cadangan (backup) khusus. Alasannya klasik: NATS sedang di tengah “perombakan sistem menyeluruh” dan biaya untuk menduplikasi data yang menumpuk dianggap butuh “anggaran fantastis” untuk proyek ini.

Baca juga :  Kedaulatan RI Dipertaruhkan! Pesawat Militer AS Bebas Melintas, Pakar UGM Buka Suara

Dilansir The Guardians, skandal ini langsung membuat kursi Chief Executive NATS, Martin Rolfe, panas. Pada hari Rabu, Menteri Transportasi Inggris, Heidi Alexander, langsung memanggil bos NATS tersebut. Alexander menolak kompromi, menyatakan dirinya “tidak percaya bahwa masalah ini tidak bisa dihindari”. Rolfe hanya diberi waktu seminggu untuk melaporkan penyebab pasti shutdown tersebut, sementara otoritas Penerbangan Sipil (CAA) diperintahkan menggelar investigasi independen.

Kejadian ini menjadi noda terburuk bagi dunia penerbangankomersial Inggris sejak Agustus 2023, di mana masalah teknis serupa menunda hampir 1.600 penerbangan. Usai insiden tahun lalu, CAA sebenarnya sudah menyodorkan 34 rekomendasi untuk memperbaiki sistem NATS, yang kala itu diklaim sudah “diterapkan sepenuhnya”. Nyatanya, sistem kembali jebol.

Baca juga :  Kedaulatan RI Dipertaruhkan! Pesawat Militer AS Bebas Melintas, Pakar UGM Buka Suara

Rolfe mencoba ngeles dengan menepis dugaan serangan siber yang awalnya sempat dicurigai. Ia membela diri dengan mengatakan, “percaya kita belum pernah melihat insiden terjadi lebih dari sekali, jadi ini akan menjadi sesuatu yang berbeda yang belum pernah kita lihat dalam 50 tahun operasi.”

Namun, para bos maskapai sudah habis kesabaran dan ramai-ramai menuntut Rolfe dipecat atau mengundurkan diri. Bos Ryanair yang terkenal blak-blakan, Michael O’Leary, langsung merujak Rolfe dengan menuduhnya “berbohong untuk menyelamatkan kulitnya sendiri” dan menyebut posisinya “sudah tidak bisa dipertahankan”.

“Kita tidak butuh lebih banyak investigasi, kita tidak butuh lebih banyak laporan dan kita tidak butuh lagi sidang komite parlemen di mana Martin Rolfe akan menjanjikan perubahan, menjanjikan ketahanan, dan menjanjikan sistem cadangan yang efektif,” tembak O’Leary tajam.

Baca juga :  Kedaulatan RI Dipertaruhkan! Pesawat Militer AS Bebas Melintas, Pakar UGM Buka Suara

Di lapangan, nasib penumpang sangat memprihatinkan. Banyak pesawat yang penuh sesak terjebak di aspal landasan pacu, menunggu informasi hingga lebih dari empat jam. Pesawat yang hendak mendarat di Inggris terpaksa dialihkan ke bandara lain, bahkan ada yang dibuang hingga harus mendarat di Jerman. Lebih menyakitkan lagi, para penumpang yang telantar kemungkinan besar tidak akan mendapat kompensasi sepeser pun dengan dalih penundaan ini masuk kategori “keadaan luar biasa” (extraordinary circumstances).

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan (MoD) Inggris langsung cuci tangan dan membantah ada kesalahan dari pihak militer.

“Kami tidak percaya ada indikasi kesalahan di pihak militer. Ini tunduk pada investigasi NATS yang sedang berlangsung, jadi tidak pantas bagi kami untuk berkomentar lebih lanjut selagi itu masih berjalan,” kelit juru bicara MoD.