KATHMANDU DIKSIMERDEKA.COM — Perbaikan jalan dan jalur perdagangan yang hancur akibat banjir bandang parah di Nepal mulai dikebut. Militer Nepal bahkan turun tangan membangun jembatan darurat di atas Sungai Tadi yang mereka sebut sebagai “jembatan harapan”.

Namun, harapan saja tidak cukup. Negara yang terletak di kaki Pegunungan Himalaya ini sedang megap-megap bangkit dari krisis ekonomi akibat bencana. Pemerintah setempat memperkirakan biaya perbaikannya saja menelan sedikitnya atau sekitar USD5 miliar atau sekitarRp88,07 triliun.

, Peneliti Non-Residen di Nepal Institute for Policy Research Nischal Dhungel menjelaskan angka fantastis tersebut bahkan belum menghitung kerugian beruntun akibat hancurnya fasilitas umum yang biasa dipakai warga untuk bepergian dan mengangkut barang dagangan.

“Banjir bandang ini bukan bencana sektor tunggal. Efeknya menjalar melintasi pertanian, pembangkit listrik, koridor perdagangan, pariwisata, bisnis, asuransi, hingga mengaitkan kerugian rumah tangga langsung ke pemulihan ekonomi nasional.” ujarnya seperti yang dilansir CNN, Jumat (11/9/2026)

Negara Besar Janji Bantu, Tapi Nepal Menuntut Keadilan!

Sejumlah negara adidaya seperti Amerika Serikat, China, dan India memang sudah mengirim bantuan kemanusiaan dan uang ke Nepal. Kendati demikian, kemarahan warga Nepal telak mengarah pada akar masalahnya: cuaca ekstrem ini makin menggila karena bumi makin panas akibat es di kutub dan Himalaya yang meleleh. Para ahli menduga banjir bandang kemarin dipicu oleh longsor es besar di gunung.

Suhu bumi yang terus merangkak naik membuat gletser dan lereng gunung di Nepal menjadi sangat labil. Tak heran jika para pemimpin Nepal langsung menunjuk hidung negara-negara kaya pencemar lingkungan sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Pasalnya, sumbangan polusi udara Nepal ke dunia sangat kecil, yakni cuma 0,1%.

Baca juga :  Gelombang Panas Eropa: Dua Balita Tewas dalam Mobil Saat Suhu Tembus 43 Derajat

Pemerintah Kathmandu pun sudah resmi menagih uang ganti rugi sebesar USD 20 juta dari dana khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk negara korban krisis iklim.

“Kontribusi Nepal sangatlah rendah, namun kita justru berada di garis depan menanggung konsekuensi dari masalah yang diciptakan oleh emisi mereka. Dalam hal ini, Nepal harus berdiri teguh dan menjadikan ini sebagai isu keadilan di tingkat internasional.” ujar Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal.

Ekonomi Nepal Bisa Anjlok Parah Hingga 2050

Walau kerusakan terpusat di beberapa lembah di wilayah tengah Nepal, ketidakpastian perbaikan ekonomi ini diyakini bakal menyeret pertumbuhan negara selama bertahun-tahun ke depan.

Jika pemanasan global dibiarkan terus tanpa ada rem, Bank Dunia memperingatkan Nepal bisa kehilangan sekitar 4 persen dari total kekayaan negaranya (PDB) pada tahun 2050 mendatang.

“Kini ada narasi kuat di kalangan warga Nepal bahwa negara ini sedang membayar harga atas krisis iklim yang hampir tidak mereka perbuat kontribusinya.”Peneliti Pasdoktoral Universitas Sydney Soniya Rijal,

Ancaman banjir susulan juga membuat biaya pembangunan jembatan dan gedung baru jadi jauh lebih mahal, sebab standar keamanannya harus ditingkatkan drastis.

“Pembangunan kembali ini memikul tekanan paradoks: harus cepat dan hemat biaya, namun sekaligus lambat agar benar-benar tahan bencana,” jelas Soniya Rijal.

Pendapat senada diungkapkan Sudip Bhaju, Direktur dari lembaga pengamat ekonomi Nepal Economic Forum. Menurutnya, biaya bangun ulang bisa membengkak dua kali lipat dari barang yang rusak. Proyek penting seperti bendungan listrik air juga terancam mangkrak, membuat impian Nepal menjual listrik ke negara tetangga seperti India dan Bangladesh jadi berantakan.

Baca juga :  Bank Raksasa Guyur Rp14.700 Triliun ke Energi Fosil

“Kita sedang menunggu bom waktu yang lain, bukan? Jadi, pertanyaan terbesarnya di sini adalah: bagaimana kita akan membangunnya kembali?”

Harga Sembako Meroket, Ibu Kota Ikut Mencekik

Dampak bencana ini ternyata langsung menjalar sampai ke ibu kota Kathmandu. Menurut Sudip Bhaju, harga kebutuhan sehari-hari seperti buah dan sayur naik 5% sampai 8%. Yang bikin pusing, harga gas masak melambung hingga 36% di pasar gelap karena pasokan resminya macet.

“Jika pemerintah tidak menjamin pasokan gas yang layak untuk hotel dan restoran, itu pasti akan menciptakan pasar gelap. Ini akan menciptakan efek riak (ripple effect) pada segalanya, mulai dari transportasi hingga barang harian Anda.”

— Sudip Bhaju

Bagi dunia usaha di Nepal, musibah ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Ingatkah Anda pada gempa bumi dahsyat tahun 2015 yang menewaskan 9.000 orang, merusak infrastruktur senilai Rp176,13 triliun ($10 miliar), dan menutup jalur dagang utama dengan China? Sejak saat itu, jalur perdagangan beralih ke wilayah utara bernama Rasuwaghadi.

Ironisnya, wilayah Rasuwaghadi pula yang bulan lalu diterjang banjir bandang dahsyat untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun!

Saloni Sethia, bos perusahaan bahan bangunan Vie Tec di Kathmandu, mengaku perusahaannya hancur lebur terkena dua kali banjir tersebut. Karena jalan darat ke China terputus, biaya menyewa truk pengangkut lewat jalur perbatasan lain melonjak jadi empat kali lipat dengan waktu tunggu yang tidak jelas. Kalau beralih pakai kapal laut dari pelabuhan Guangzhou, barangnya baru sampai tiga minggu kemudian.

“Ketidakpastian itu adalah biaya itu sendiri. Seseorang pasti membayar extra tiga minggu itu. Apakah itu dari margin importir atau harga konsumen, biasanya keduanya.”

— Saloni Sethia, Managing Director Vie Tec

Jelang Hari Raya, Bisnis Malah Babak Belur

Saloni menambahkan, para pengusaha kini cemas terancam bangkrut gara-gara utang menumpuk, tagihan macet, dan modal usaha yang ludes. Padahal, malapetaka logistik ini terjadi pas menjelang perayaan Dashain, hari raya suci umat Hindu selama 15 hari yang biasanya menjadi momen warga belanja habis-habisan dan turis ramai berdatangan.

Baca juga :  Tragedi Usai Pesta Ulang Tahun: Bocah 8 Tahun di Louisiana AS Tewas Terserang Amoeba Pemakan Otak Langka

Tahun lalu saja, ekonomi dari hari raya ini sudah hancur akibat demo mahasiswa. Tahun ini, para pedagang yang sudah berhutang demi stok barang dagangan justru mendapati barangnya musnah disapu banjir.

Jumlah turis asing yang melawat ke Nepal juga dipastikan ambruk. Padahal, sektor pariwisata menyumbang 7% dari kekayaan negara dan menghidupi lebih dari satu juta pekerja. Catatan Nepal Economic Forum mencatat, gempa 2015 dan demo pemuda tahun 2025 sempat membuat kunjungan turis anjlok masing-masing sebesar 26% dan 18%.

“Begitulah cara peristiwa koridor berubah menjadi peristiwa nasional. Bisnis yang tidak pernah berada di dekat air akhirnya ikut menanggung sebagian kerugian, dan tidak ada kolom untuk itu dalam estimasi rekonstruksi mana pun.”

— Saloni Sethia