DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA Energi fosil masih menjadi magnet utama bagi bank-bank terbesar dunia. Di tengah gencarnya kampanye global untuk mempercepat transisi menuju energi bersih dan pengembangan baterai, lembaga keuangan raksasa justru menggelontorkan dana hingga 906 miliar dolar AS atau sekitar Rp14.700 triliun ke industri batu bara, minyak, dan gas sepanjang 2025.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan tahunan Banking on Climate Chaos yang menyoroti peran lembaga keuangan global dalam mendanai industri energi fosil. Nilai pembiayaan itu meningkat sekitar 64 miliar dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya atau naik hampir 8 persen.

Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan komitmen berbagai negara dalam Perjanjian Paris, yang bertujuan membatasi kenaikan suhu global hingga maksimal 1,5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri.

JPMorgan Paling Dermawan ke Industri Fosil

Laporan itu mencatat JPMorgan Chase kembali menjadi penyandang dana terbesar bagi industri bahan bakar fosil dunia.

Sepanjang 2025, bank asal Amerika Serikat tersebut menyalurkan sekitar 58 miliar dolar AS ke sektor energi fosil, meningkat 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga :  Kasus Hantavirus di Argentina Meledak, Ahli Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

Di belakang JPMorgan, terdapat Bank of America, kemudian dua bank Jepang yakni MUFG dan Mizuho Financial Group. Sementara itu, Citigroup melengkapi lima besar penyandang dana terbesar sektor energi fosil.

Dari kawasan Eropa, Barclays menjadi bank dengan pendanaan tertinggi untuk industri tersebut.

Alarm bagi Krisis Iklim

Analis kebijakan dari Rainforest Action Network, Caleb Schwartz, mengaku prihatin dengan tren tersebut.

Menurutnya, banyak pihak sebelumnya berharap pembiayaan terhadap bahan bakar fosil terus menurun seiring meningkatnya kesadaran akan ancaman perubahan iklim. Namun kenyataannya justru sebaliknya.

“Kami berharap tren pendanaan bahan bakar fosil terus menurun. Namun yang terjadi justru peningkatan dan tren itu berlanjut tahun ini,” ujarnya.

Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa penggunaan batu bara, minyak, dan gas secara masif menjadi penyebab utama meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Jika suhu bumi terus meningkat melampaui ambang 1,5 derajat Celsius, dunia berisiko menghadapi gelombang panas ekstrem, banjir besar, kekeringan panjang, hingga bencana iklim yang lebih sering dan lebih parah.

Baca juga :  Akhir Tahun 2023, KMHDI Soroti 3 Isu Mulai Pelemahan Demokrasi Hingga Karhutla

Dana Fosil Capai Rp141 Ribu Triliun Sejak Perjanjian Paris

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa sejak Perjanjian Paris ditandatangani pada 2015, bank-bank terbesar dunia telah menggelontorkan sekitar 8,7 triliun dolar AS untuk mendukung industri bahan bakar fosil.

Dana jumbo tersebut digunakan untuk mendukung eksplorasi dan produksi batu bara, minyak, serta gas baru di berbagai belahan dunia.

Padahal, banyak penelitian menunjukkan bahwa target iklim global akan sulit tercapai apabila investasi pada proyek energi fosil baru terus berlanjut.

Konflik Geopolitik Picu Lonjakan

Peningkatan pendanaan pada 2025 juga dipengaruhi melonjaknya keuntungan perusahaan energi fosil akibat gejolak geopolitik global.

Konflik antara Iran dan Israel yang sempat mengguncang pasar energi internasional mendorong kenaikan harga minyak dan gas. Situasi tersebut membuat sektor energi fosil kembali menarik bagi investor dan lembaga keuangan.

Editor laporan sekaligus pakar energi dan iklim, Niko Lusiani, menilai industri bahan bakar fosil belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

“Industri bahan bakar fosil tidak sedang menuju akhir yang tenang. Mereka justru menggandakan investasi untuk memperluas sistem energi yang semakin rapuh dan berisiko,” katanya.

Baca juga :  Panas Brutal Terjang Pakistan dan India, Suhu Tembus 46 Derajat

Komitmen Iklim Mulai Luntur

Laporan itu juga menemukan sekitar 40 persen pendanaan industri fosil berasal dari kelompok bank yang dijuluki Dirty Dozen atau “Dua Belas Bank Kotor”.

Mayoritas pendanaan tersebut berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Jepang, China, Inggris, dan negara-negara Uni Eropa.

Meski demikian, tidak semua bank meningkatkan pembiayaan. Sebanyak 26 dari 65 bank terbesar dunia justru mengurangi dukungan terhadap sektor energi fosil selama 2025.

Di antaranya adalah BNP Paribas, UBS, dan La Caixa yang mencatat penurunan pembiayaan terbesar.

Namun secara keseluruhan, tren global masih menunjukkan ekspansi industri energi fosil terus berlangsung.

Menurut Lusiani, komitmen sukarela yang selama ini digaungkan sektor perbankan terbukti belum cukup untuk mengatasi krisis iklim.

Karena itu, ia mendorong regulator keuangan dan pemerintah di berbagai negara mengambil langkah yang lebih tegas agar sektor keuangan ikut berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon dan percepatan transisi menuju energi bersih.