DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Minat masyarakat Bali untuk menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai menunjukan tren positif. Hingga Juni 2026, Badan Pendapatan Daerah Provinsi Bali mencatat sekitar 15.805 unit kendaraan listrik telah terdaftar di Pulau Dewata.

Meski demikian, angka tersebut masih jauh dari Rencana Aksi Daerah Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KLBB) Provinsi Bali yang mematok sekitar 140 ribu unit kendaraan pada 2026.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali I Kadek Mudarta mengatakan dari jumlah unit kendaraan listrik itu, sebanyak 10.545 unit merupakan sepeda motor dan 5.258 unit adalah mobil.

Baca juga :  Pemerintah Akselerasi Pengembangan Industri Kendaraan Listrik Dalam Negeri

Adapun SPKLU di Bali tersebar di 164 titik lokasi dengan total 230 unit EV charger. Sebanyak 150 unit dikelola PLN, sedangkan 80 unit lainnya dikelola badan usaha penyedia SPKLU swasta.

Mudarta mengakui percepatan adopsi kendaraan listrik di Bali masih menghadapi sejumlah tantangan.

Baca juga :  Kurangi Ketergantungan BBM Impor, Gubernur Koster Dukung Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai

Menurut dia, tingginya harga pembelian awal kendaraan listrik, keterbatasan dukungan pembiayaan dari perbankan maupun perusahaan pembiayaan (leasing).

“Serta sebaran stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang belum merata masih menjadi kendala,” ungkapnya, Kamis (6/8/2026).

Selain itu, Mudarta mengatakan kekhawatiran masyarakat terhadap nilai jual kembali kendaraan listrik dan perlunya perubahan perilaku dalam beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil juga turut memengaruhi minat masyarakat.

Baca juga :  Pemerintah Terus Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik

Meski demikian, Mudarta menegaskan percepatan penggunaan kendaraan bermotor listrik perlu dilakukan sebagai upaya memperbaiki kualitas lingkungan, khususnya kualitas udara, yang berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.

Menurut dia, langkah tersebut juga penting karena subsektor transportasi menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, dengan kontribusi lebih dari 40 persen dari total emisi yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil.

Reporter: Agus Pebriana