ZURICH, DIKSIMERDEKA.COM – Badai yang menerpa FIFA semakin besar. Di tengah upaya Presiden FIFA Gianni Infantino mengubah model bisnis organisasi sepak bola dunia itu, gelombang penolakan justru datang dari berbagai penjuru. Setelah UEFA mengancam memboikot seluruh kompetisi FIFA, kini Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan CONCACAF ikut menyuarakan penolakan terhadap rencana masuknya investor swasta ke bisnis Piala Dunia. Di saat bersamaan, salah satu penasihat paling dekat Infantino memilih mengundurkan diri.

Dilansir dari CNN,dalam hitungan hari, krisis tersebut berkembang dari sekadar perdebatan bisnis menjadi konflik tata kelola yang berpotensi mengguncang masa depan sepak bola internasional. Yang dipertaruhkan bukan hanya model komersial FIFA, melainkan juga independensi organisasi yang selama puluhan tahun mengelola ajang olahraga terbesar di dunia itu.

Pusat kontroversi berada pada rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), anak perusahaan baru yang akan mengelola hak komersial dan operasional sejumlah turnamen bergengsi, termasuk Piala Dunia. Dalam skema tersebut, sekitar 20 persen kepemilikan FFE akan dibuka kepada investor swasta.

FIFA beralasan langkah itu akan menghadirkan modal baru untuk mempercepat pembangunan sepak bola di seluruh dunia. Dana tambahan tersebut, menurut organisasi itu, nantinya akan dikembalikan kepada asosiasi anggota melalui berbagai program pengembangan.

Namun, penjelasan tersebut tidak mampu meredam kritik.

Sebaliknya, banyak federasi menilai FIFA sedang membuka pintu bagi kepentingan bisnis untuk ikut menentukan arah sepak bola dunia.

Baca juga :  Ketua FIFA Gianni Infantino Dipanggil Kongres AS, Hubungan dengan Trump Diselidiki

Gelombang penolakan pertama datang dari UEFA. Dalam pertemuan darurat yang diikuti seluruh 55 asosiasi anggotanya, organisasi sepak bola Eropa itu secara bulat menyatakan siap memboikot seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri, apabila rencana tersebut tetap dijalankan.

Bagi UEFA, Piala Dunia bukan sekadar aset komersial.

Piala Dunia adalah milik sepak bola. Selamanya akan tetap menjadi milik sepak bola,” demikian pernyataan resmi UEFA.

Organisasi itu menilai tidak ada pihak yang memiliki hak moral untuk menjual sesuatu yang hanya dititipkan kepada generasi saat ini demi diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, Eropa menegaskan tidak akan memberikan legitimasi terhadap model bisnis yang dinilai mengancam jiwa dan tata kelola sepak bola.

Ancaman tersebut memiliki bobot besar. Meski hanya mewakili sekitar seperempat dari 211 anggota FIFA, negara-negara Eropa merupakan kekuatan utama sepak bola dunia. Juara bertahan Piala Dunia Spanyol, serta Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, hingga Portugal menjadi tulang punggung kualitas kompetisi internasional sekaligus mesin ekonomi industri sepak bola global.

The Guardian juga melaporkan, tekanan terhadap FIFA semakin kuat ketika Carlos Cordeiro, penasihat senior Gianni Infantino sekaligus mantan Presiden Federasi Sepak Bola Amerika Serikat, memilih mengundurkan diri.

Baca juga :  Hossam Hassan: FIFA Ingin Messi Tetap di Piala Dunia usai Argentina Singkirkan Mesir

Dalam pernyataannya, Cordeiro menegaskan dirinya tidak pernah terlibat dalam penyusunan proposal tersebut.

“Saya tidak bisa mendukung ketika FIFA mempertimbangkan menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia. Ini merupakan kesepakatan yang buruk bagi asosiasi anggota FIFA, buruk bagi sepak bola, dan buruk bagi masa depan olahraga ini,” ujarnya.

Pengunduran diri itu dipandang sebagai sinyal bahwa penolakan terhadap kebijakan Infantino tidak lagi hanya datang dari luar organisasi, tetapi juga dari lingkaran dalam FIFA sendiri.

Jika sebelumnya hanya UEFA yang bersuara lantang, kini dukungan terhadap penolakan itu semakin meluas.

CONCACAF, konfederasi yang membawahi Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia, menyatakan memiliki kekhawatiran serius terhadap proses pengambilan keputusan FIFA yang dinilai minim transparansi.

Tak lama kemudian, AFC mengeluarkan pernyataan senada.

Konfederasi Asia bahkan menyebut situasi saat ini sangat memprihatinkan karena untuk pertama kalinya wacana boikot Piala Dunia menjadi pembahasan terbuka di dunia sepak bola.

Menurut AFC, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam tata kelola FIFA.

Organisasi itu meminta FIFA meninjau kembali mekanisme pengambilan keputusan serta membangun kembali konsensus sebelum melanjutkan proposal tersebut.

Di tengah tekanan yang semakin besar, FIFA tetap bergeming.

Melalui pernyataan resminya, badan sepak bola dunia itu menegaskan tidak sedang menjual sepak bola.

FIFA menyebut berbagai pemberitaan mengenai proposal tersebut telah menimbulkan kesalahpahaman di publik.

Baca juga :  Usai Jegal Inggris, Argentina Bentangkan Spanduk Malvinas

Menurut FIFA, pembentukan FFE justru bertujuan memberikan kesempatan kepada seluruh asosiasi anggota untuk ikut memiliki manfaat ekonomi dari perkembangan industri sepak bola tanpa mengorbankan independensi organisasi.

“Nobody is selling football,” tegas FIFA.

Meski demikian, penjelasan tersebut belum mampu meredakan kekhawatiran.

Banyak pengamat menilai masuknya investor swasta akan menciptakan tekanan baru agar FIFA terus meningkatkan keuntungan. Konsekuensinya, jumlah pertandingan berpotensi terus bertambah, Piala Dunia dapat diperluas lagi, Piala Dunia Antarklub semakin membengkak, bahkan muncul kembali gagasan menggelar Piala Dunia setiap dua tahun.

Jika skenario itu terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan FIFA.

Liga domestik, kompetisi antarklub, kalender internasional, hingga kesehatan pemain diperkirakan akan ikut terpengaruh akibat semakin padatnya jadwal pertandingan. Kekhawatiran tersebut semakin menguat karena FIFA sebelumnya telah memperluas peserta Piala Dunia menjadi 48 negara dan sedang mengkaji kemungkinan menambahnya menjadi 64 tim pada edisi 2030.

Kini, pertarungan bukan lagi sekadar soal investasi, melainkan tentang siapa yang berhak menentukan masa depan sepak bola dunia. Ketika konfederasi terbesar mulai bersatu menentang kebijakan FIFA, posisi Gianni Infantino menghadapi salah satu ujian politik paling berat sejak memimpin organisasi tersebut. Hasil dari konflik ini berpotensi menentukan arah tata kelola sepak bola internasional untuk puluhan tahun ke depan.