Upaya Damai di Kongres FIFA Berujung Canggung, Infantino Maju Lagi untuk Periode Ketiga

DIKSIMERDEKA.COM VANCOUVER– Kongres FIFA 2026 mendadak panas. Upaya simbolis mempertemukan Palestina dan Israel lewat jabat tangan justru berujung penolakan terbuka di depan dunia.

Di tengah suasana canggung itu, Presiden FIFA Gianni Infantino malah mengumumkan langkah berani: maju lagi untuk periode ketiga. Drama politik dan sepak bola pun tak terelakkan.

Di tengah panggung megah Kongres ke-76 FIFA di Vancouver, sebuah momen yang diharapkan menjadi simbol rekonsiliasi justru berubah menjadi adegan kikuk. Presiden FIFA, Gianni Infantino, mencoba mempertemukan dua delegasi dari Palestina dan Israel dalam sebuah jabat tangan,namun upaya itu kandas di depan publik.

Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, menolak berdiri berdampingan dengan Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Israel, Basim Sheikh Suliman, meski keduanya telah dipanggil ke atas panggung. Penolakan itu menjadi penutup yang janggal bagi kongres yang sedianya menampilkan semangat persatuan melalui sepak bola.

Beberapa sumber di dalam ruangan menyebut, Infantino sebenarnya ingin mengabadikan momen tersebut sebagai foto simbolis sebelum mengumumkan pencalonannya kembali sebagai presiden FIFA. Namun, suasana berubah canggung. Tanpa banyak komentar, Infantino tetap melanjutkan agendanya: mengonfirmasi bahwa ia akan maju kembali untuk masa jabatan penuh ketiga.

Baca juga :  AS–Israel Akui Rencanakan Serangan Berbulan-bulan, Bahrain Konfirmasi Pangkalan Armada Kelima AS Diserang

“Saya ingin mengonfirmasi bahwa saya akan menjadi kandidat dalam pemilihan presiden FIFA tahun depan,” kata Infantino. “Saya ingin kalian menjadi yang pertama mengetahuinya. Terima kasih atas dukungan dan dorongan kalian.” kata Infantino seperti yang dilansir CNN, Kamis malam(30/4/2026).

Pemilihan itu dijadwalkan berlangsung dalam Kongres FIFA berikutnya di Rabat. Tanpa pesaing serius, peluang Infantino untuk memperpanjang kekuasaan yang bisa mencapai 15 tahun sejak pertama kali terpilih pada 2016 menggantikan Sepp Blatter terbuka lebar.

Namun, insiden dengan delegasi Palestina dan Israel memperlihatkan batas kemampuan diplomasi sang presiden. Setelah penolakan itu, Infantino mencoba meredakan situasi. “Kita akan bekerja bersama, Presiden Rajoub, Wakil Presiden Suliman. Mari bekerja bersama untuk memberi harapan kepada anak-anak. Ini adalah persoalan yang kompleks,” ujarnya.

Penjelasan lebih keras datang dari Wakil Presiden Federasi Palestina, Susan Shalabi. Kepada Reuters, ia mengatakan:

“Saya tidak bisa berjabat tangan dengan seseorang yang dibawa Israel untuk mencuci bersih fasisme dan genosida mereka. Kami sedang menderita.”


Iran Tetap Berlaga di Piala Dunia 2026

Di sisi lain, Infantino juga menegaskan bahwa Iran akan tetap berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026, meski absen dalam kongres akibat persoalan imigrasi di Kanada.

Baca juga :  Kemlu RI Bantah Berita Kunjungan "Pejabat Senior" ke Israel

Delegasi Iran sempat tiba di Toronto, namun salah satu anggotanya termasuk Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj—dilaporkan ditolak masuk. FIFA menyebut situasi ini sebagai “hal yang disayangkan”, tetapi menegaskan bahwa keputusan masuk wilayah berada di tangan otoritas Kanada.

Ketegangan meningkat sejak serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Februari lalu. Meski begitu, Infantino tetap optimistis.

“Biarkan saya tegaskan sejak awal, bagi mereka yang mungkin ingin mengatakan atau menulis hal lain, bahwa tentu saja Iran akan berpartisipasi di Piala Dunia FIFA 2026,” katanya.
“Dan tentu saja Iran akan bermain di Amerika Serikat. Alasannya sederhana: kita harus bersatu. Kita harus menyatukan orang-orang.”

Iran dijadwalkan menghadapi Selandia Baru, Belgia, dan Mesir di fase grup. Bahkan ada kemungkinan bertemu Amerika Serikat di babak gugur mengulang laga panas seperti yang terjadi di Piala Dunia 2022.

Baca juga :  Konsisten Tolak Penjajahan Palestina: Koster Sejalan Sikap Prabowo Tolak Atlet Israel

Namun, persoalan belum sepenuhnya reda. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengisyaratkan bahwa meski pemain Iran diterima, beberapa pejabat federasi bisa menghadapi kendala karena keterkaitan dengan IRGC (Korps Garda Revolusi Iran).


Tiket Laris, Pendapatan FIFA Melonjak

Di tengah kontroversi politik, FIFA justru mencatat lonjakan minat publik. Infantino mengungkapkan bahwa permintaan tiket mencapai 500 juta, dengan 90 persen stok tiket sudah terjual.

“Kami menerima 500 juta permintaan tiket. Dalam dua Piala Dunia sebelumnya totalnya hanya 50 juta,” ujarnya. “Semua uang yang kami peroleh akan kembali ke sepak bola.”

FIFA juga memproyeksikan pendapatan sebesar 14 miliar dolar AS untuk siklus 2023–2026, naik 20 persen dari periode sebelumnya.


Di antara ambisi politik global dan bisnis sepak bola yang terus menggelembung, Kongres FIFA kali ini menunjukkan satu hal: sepak bola tetap ingin menjadi bahasa persatuan dunia—meski realitas politik sering kali berkata lain.