Prancis Minta Bantuan Uni Eropa

MADRID, DIKSIMERDEKA.COM – Kebakaran Hutan Eropa kembali menjadi sorotan setelah gelombang panas ekstrem memicu kebakaran besar di Prancis dan Spanyol. Sekitar 30 ribu warga terpaksa mengungsi ketika suhu udara mendekati 45 derajat Celsius, sementara kobaran api terus meluas dan mengancam kawasan permukiman.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Selatan memicu kebakaran hutan besar di Prancis dan Spanyol, memaksa sekitar 30.000 orang mengungsi. Kobaran api yang terus meluas membuat pemerintah kedua negara berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan warga dan mengendalikan kebakaran yang semakin sulit dipadamkan.

Situasi terparah terjadi di wilayah pesisir Atlantik Prancis dan sekitar Madrid, Spanyol. Bersamaan dengan itu, para ilmuwan memperingatkan bahwa Eropa kini menghadapi ancaman kebakaran yang bisa berkembang menjadi skenario “bak neraka” seperti yang pernah terjadi di California maupun Australia.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan situasi kebakaran masih berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Pemerintah Prancis bahkan meminta bantuan Uni Eropa melalui mekanisme perlindungan sipil untuk memperkuat upaya pemadaman.

“Prancis telah meminta pengaktifan mekanisme perlindungan sipil Uni Eropa. Dalam waktu dekat kami akan mendapat bantuan dua pesawat pemadam Canadair dari Kroasia, dua pesawat Air Tractor dari Portugal, serta dua helikopter Black Hawk berat dari Republik Ceko dan Slovakia,” tulis Macron melalui akun X, Jumat (24/7/2026).

Ribuan Wisatawan Dievakuasi

Kebakaran di wilayah Gironde, barat daya Prancis, telah menghanguskan lebih dari 3.700 hektare hutan pinus hanya dalam waktu sedikit lebih dari 24 jam.

Baca juga :  Wabah Hantavirus Tewaskan 3 Orang, Kapal Pesiar MV Hondius Bergerak ke Spanyol

Sedikitnya 18.800 orang, termasuk ribuan wisatawan yang menginap di area perkemahan dan rumah-rumah liburan, terpaksa dievakuasi ketika kobaran api mendekati kawasan permukiman.

Sekitar 800 petugas pemadam kebakaran bersama pesawat pembom air masih berjibaku mengendalikan api. Namun, pemerintah daerah menyatakan situasi belum stabil dan arah penyebaran api masih sulit diprediksi.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran wilayah tersebut, Marc Vermeulen, mengatakan kondisi di lapangan berubah sangat cepat.

“Api bergerak sangat tidak menentu dan kekuatannya terus meningkat secara signifikan. Salah satu titik utama kebakaran kini sangat dekat dengan kawasan permukiman. Kami harus mempertahankan rumah demi rumah agar tidak dilalap api,” ujarnya dilansir dari The Guardian..

Meski belum ada laporan korban jiwa, sejumlah rumah dilaporkan telah hangus terbakar.

Spanyol Tetapkan Status Darurat Nasional

Di Spanyol, pemerintah menetapkan status darurat nasional untuk wilayah Madrid dan Provinsi Avila setelah sejumlah kebakaran hutan membesar dan sulit dikendalikan.

Sekitar 10.000 warga telah dievakuasi, sementara unit darurat militer dikerahkan untuk membantu proses pemadaman.

Baca juga :  Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026 Resmi Dirilis, Ini Lawan dan Tanggal Main Tim Favoritmu

Perdana Menteri Pedro Sánchez memastikan seluruh sumber daya pemerintah telah diterjunkan untuk menghadapi bencana tersebut.

“Pemerintah telah mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk menghentikan kebakaran hebat yang saat ini melanda berbagai wilayah, termasuk Avila, Leon, Toledo, Madrid, dan daerah lainnya di Spanyol,” tulis Sánchez.

Hingga pertengahan tahun ini, kebakaran hutan telah menghanguskan hampir 125.000 hektare lahan di Spanyol, mendekati sepertiga luas lahan yang terbakar sepanjang tahun lalu.

Laut Mediterania Ikut Memanas

Gelombang panas tidak hanya melanda daratan. Sekitar 80 persen permukaan Laut Mediterania kini mengalami gelombang panas laut (marine heatwave).

Sistem Pemantauan Mediterania mencatat suhu air laut di sejumlah wilayah mencapai 5 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode 1991–2020.

Di daratan, suhu udara juga memecahkan rekor. Kota Cieza di Spanyol mencatat suhu 44,7 derajat Celsius, sementara sejumlah kota lain menembus angka 42 derajat Celsius, tertinggi untuk bulan Juli.

Ilmuwan: Skenario “Bak Neraka” Tak Bisa Diabaikan

Para ilmuwan menilai perubahan iklim membuat musim kebakaran menjadi lebih panjang, lebih sering, dan jauh lebih sulit dikendalikan.

Profesor Teknik Kehutanan dan Perubahan Global Universitas Lleida, Víctor Resco de Dios, mengatakan Eropa harus mulai bersiap menghadapi kebakaran dalam skala yang jauh lebih besar.

“Meski sulit memprediksi seberapa jauh situasi ini akan berkembang, dalam waktu dekat kita tidak lagi bisa mengesampingkan skenario bak neraka seperti yang pernah terjadi di California atau Australia, ketika kebakaran atau gabungan beberapa kebakaran melahap ratusan ribu hektare, bahkan bisa mencapai satu juta hektare,” ujarnya.

Menurutnya, meningkatnya suhu global akibat perubahan iklim serta semakin banyak lahan pedesaan yang ditinggalkan tanpa pengelolaan membuat vegetasi mengering dan menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.

Baca juga :  Gelombang Panas Jepang Makin Ganas! Suhu 40 Derajat, Ratusan Orang Masuk Rumah Sakit

Gelombang panas yang terus berulang juga memukul sektor pertanian Eropa. Analisis terbaru memperkirakan petani gandum kehilangan pendapatan sekitar 2 miliar euro akibat rusaknya sekitar 9 juta ton hasil panen. Para ilmuwan juga menemukan bahwa perubahan iklim membuat kondisi kekeringan tanah di Eropa Barat menjadi lima kali lebih mungkin terjadi, sedangkan di Eropa Timur risikonya meningkat hingga 11 kali lipat, sehingga memperbesar potensi kebakaran hutan di masa mendatang.

Otoritas di Prancis dan Spanyol masih memantau perkembangan cuaca dalam beberapa hari ke depan karena suhu tinggi dan angin kencang dikhawatirkan kembali mempercepat penyebaran api. Warga di wilayah terdampak juga diminta tetap waspada serta mematuhi seluruh instruksi evakuasi yang dikeluarkan pemerintah setempat.