Kesepakatan Nuklir AS Arab Saudi Picu Alarm Perlombaan Senjata di Timur Tengah
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON DC- Kesepakatan Nuklir AS Arab Saudi bikin Washington geger. Ketika Timur Tengah belum reda dari perang dan ancaman konflik nuklir Iran, Presiden Donald Trump malah mengesahkan kerja sama yang membuka peluang Arab Saudi mengembangkan kemampuan memperkaya uranium.
Sejumlah anggota Kongres pun membunyikan alarm, khawatir keputusan itu menjadi efek domino yang menyeret Turki, Mesir, hingga negara-negara Arab lain berlomba membangun kemampuan nuklir. terutama saat kawasan itu masih dibayangi perang Iran dan konflik Gaza.
Dilansir Politico, kesepakatan tersebut memungkinkan perusahaan nuklir Amerika memasuki pasar Arab Saudi dan membuka jalan bagi Riyadh mengembangkan program nuklir sipil. Meski belum otomatis memberi izin memperkaya uranium, peluang itu disebut bisa terbuka dalam sekitar satu dekade ke depan jika memenuhi syarat yang disepakati kedua negara.
Iran Bisa Merasa Terancam
Sejumlah senator dari Partai Demokrat maupun Republik menilai waktu pengumuman kesepakatan itu sangat sensitif. Pasalnya, Amerika Serikat saat ini masih terlibat konflik dengan Iran yang salah satu tujuannya mencegah Teheran mengembangkan kemampuan memperkaya uranium.
Senator Chris Murphy mengingatkan bahwa setiap langkah yang diambil Arab Saudi hampir pasti akan memicu reaksi dari Iran.
“Semua yang terjadi di Riyadh akan mendapat respons dari Teheran,” ujarnya.
Murphy menilai selama bertahun-tahun Washington menahan diri memberikan akses teknologi nuklir kepada Arab Saudi karena khawatir Iran justru semakin terdorong mengejar senjata nuklir.
Turki, Mesir hingga Qatar Bisa Ikut Antre
Kekhawatiran lain muncul karena negara-negara Timur Tengah lain diperkirakan tidak akan tinggal diam.
Pakar proliferasi nuklir Andrea Stricker menyebut keputusan Washington bisa membuka “Kotak Pandora”. Jika Arab Saudi diberi peluang memperkaya uranium, maka Turki, Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Oman bisa menuntut perlakuan serupa.
Tak hanya itu, Rusia dan China juga diperkirakan bakal memanfaatkan situasi dengan menawarkan teknologi nuklir kepada negara-negara lain di kawasan.
“Kalau semakin banyak negara mampu memperkaya uranium, jaraknya menuju senjata nuklir akan semakin pendek,” kata Stricker.
Trump: Aman, Tak Picu Proliferasi
Pemerintahan Trump membantah keras tudingan tersebut.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan Amerika Serikat tidak akan menandatangani kesepakatan apa pun yang berisiko memperluas penyebaran senjata nuklir.
Menteri Energi Chris Wright juga memastikan seluruh kerja sama dilakukan sesuai standar internasional mengenai keselamatan, keamanan, dan pencegahan proliferasi nuklir.
Menurut Departemen Energi AS, kerja sama tersebut juga akan memperluas ekspor teknologi nuklir Amerika, menciptakan lapangan kerja bergaji tinggi, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan keamanan nasional AS.
Bayang-Bayang Bom Nuklir
Meski disebut hanya untuk kepentingan sipil, kekhawatiran belum hilang.
Pasalnya, Putra Mahkota Mohammed bin Salman pernah menyatakan bahwa Arab Saudi akan mengembangkan senjata nuklir jika Iran lebih dulu memilikinya.
Selain itu, Arab Saudi hingga kini belum menyetujui Additional Protocol dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), aturan yang memberikan akses inspeksi lebih luas terhadap aktivitas nuklir suatu negara.
Banyak anggota Kongres menilai hal itu membuat kesepakatan baru ini tidak lagi mengikuti standar ketat kebijakan nonproliferasi yang selama puluhan tahun diterapkan Amerika Serikat kepada negara-negara mitranya.
Masih Harus Lolos Kongres
Kesepakatan nuklir tersebut belum sepenuhnya berlaku. Pemerintahan Trump akan menyerahkannya kepada Kongres untuk ditinjau.
Namun, upaya membatalkan perjanjian diperkirakan tidak mudah. Penolakan membutuhkan dukungan dua pertiga suara di DPR dan Senat agar dapat mengesampingkan hak veto presiden.
Di sisi lain, sebagian analis menilai kerja sama dengan Washington tetap lebih menguntungkan bagi Arab Saudi dibanding harus beralih ke China atau Rusia yang memiliki standar pengawasan nuklir berbeda.
Meski begitu, banyak pihak mengingatkan bahwa keputusan ini datang pada saat yang paling sensitif. Di tengah perang Iran dan meningkatnya ketegangan kawasan, satu langkah di bidang nuklir dikhawatirkan dapat memicu efek domino yang mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah selama bertahun-tahun ke depan.

Tinggalkan Balasan