Peternak Sapi Perlu Tahu: Corak Zebra Efektif Kurangi Gigitan Lalat hingga 50 Persen
DIKSIMERDEKA.COM Siapa sangka, mengecat tubuh sapi dengan corak hitam-putih seperti zebra ternyata bukan sekadar ide unik. Hasil riset ilmuwan Jepang yang meraih Ig Nobel Prize membuktikan bahwa pola tersebut mampu mengurangi gigitan lalat pengisap darah hingga sekitar 50 persen.
Temuan itu membuka peluang baru bagi dunia peternakan untuk mengendalikan hama tanpa bergantung pada insektisida kimia.
Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof Upik Kesumawati, menilai metode tersebut layak dikembangkan sebagai solusi pengendalian lalat yang lebih ramah lingkungan.
“Selama ini pengendalian umumnya dilakukan menggunakan insektisida. Lalat pengisap darah seperti lalat kandang (Stomoxys calcitrans atau stable fly) dan lalat tanduk (Haematobia exigua atau horn fly) tidak hanya menyebabkan rasa sakit akibat gigitan, tetapi juga dapat menularkan penyakit sebagai vektor dan menurunkan produktivitas ternak,” ujarnya seperti yang dilansir dari artikelnya di IPB University, Selasa (21/7/2026).
Ilusi Optik Bikin Lalat Gagal Mendarat
Menurut Prof Upik, efektivitas corak zebra bukan berasal dari aroma atau warna semata, melainkan dari cara mata serangga memproses pola visual.
Garis-garis hitam dan putih menciptakan ilusi optik yang membuat lalat kesulitan menentukan jarak, arah, dan kecepatan saat hendak mendarat.
“Pola garis hitam-putih seperti zebra menciptakan ilusi optik yang mengacaukan sistem penglihatan serangga. Lalat menjadi salah memperkirakan jarak dan kecepatan sehingga kesulitan mendarat pada tubuh sapi,” jelasnya.
Namun, efek tersebut terutama berlaku bagi lalat pengisap darah yang aktif pada siang hari. Sementara itu, nyamuk maupun agas yang lebih aktif pada malam hari cenderung mengandalkan sensor kimia dan panas tubuh inang sehingga pengaruh pola zebra menjadi jauh lebih kecil.
Berpotensi Diterapkan di Indonesia
Prof Upik menilai metode ini berpotensi diterapkan di Indonesia sebagai alternatif pengendalian hama nonkimia. Selain mengurangi penggunaan insektisida, pendekatan tersebut dinilai lebih ramah terhadap lingkungan dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan ternak.
Meski demikian, penerapannya masih membutuhkan penelitian lanjutan. Beberapa aspek yang perlu dikaji antara lain keamanan bahan cat bagi sapi, ketahanannya terhadap cuaca tropis, ukuran pola garis yang paling efektif, hingga efisiensi biaya bagi peternak.
IPB Lebih Dulu Kembangkan Mantel Corak Zebra
Menariknya, gagasan serupa sebenarnya telah dikembangkan oleh mahasiswa IPB University sejak 2021 melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC).
Tim yang dipimpin Cahya Jupisa di bawah bimbingan Prof Upik menciptakan MANCEZ (Mantel Corak Zebra sebagai Pencegah Gigitan Serangga dan Pengatur Termoregulasi Tubuh pada Sapi).
Berbeda dengan penelitian Jepang yang mengecat tubuh sapi, inovasi MANCEZ menggunakan mantel bermotif zebra yang dikenakan pada tubuh sapi sehingga lebih praktis dan tidak memerlukan pengecatan langsung.
Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan PKM-KC, lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-34, sekaligus meraih penghargaan PKM Favorit.
Hasil pengujiannya juga menunjukkan mantel bercorak zebra mampu menekan gigitan lalat Stomoxys calcitrans hingga sekitar 50 persen. Tak hanya itu, mantel tersebut turut membantu menjaga suhu tubuh sapi tetap stabil sehingga mengurangi stres akibat gangguan serangga.
Menurut Prof Upik, inovasi ini menunjukkan bahwa pendekatan sederhana berbasis perilaku serangga dapat menjadi solusi efektif dan berkelanjutan bagi peternakan modern, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap insektisida kimia yang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.
Apa Dampak Lalat Pengisap Darah bagi Sapi?
Lalat pengisap darah menjadi salah satu hama utama di peternakan sapi. Serangga ini tidak hanya menyebabkan rasa sakit saat menggigit, tetapi juga membuat ternak terus-menerus gelisah sehingga waktu makan dan beristirahat berkurang. Akibatnya, pertumbuhan bobot badan, produksi susu, hingga tingkat reproduksi dapat menurun. Selain itu, beberapa jenis lalat juga berperan sebagai vektor berbagai penyakit pada ternak. Karena itu, peternak selama ini banyak mengandalkan insektisida untuk mengendalikan populasi lalat. Namun, penggunaan insektisida secara terus-menerus berisiko memicu resistensi serangga serta meninggalkan residu pada lingkungan. Kehadiran metode seperti corak zebra maupun mantel bermotif zebra menjadi alternatif yang menarik karena mampu mengurangi gangguan lalat tanpa bergantung pada bahan kimia.

Tinggalkan Balasan