Inggris vs Argentina: Rivalitas Perang, Maradona, hingga Messi Kembali Membara di Semifinal Piala Dunia 2026
DIKSIMERDEKA.COM ATLANTA – Laga Inggris vs Argentina tak pernah sekadar pertandingan sepak bola. Setiap pertemuan kedua negara selalu membawa sejarah panjang, emosi, dan kenangan yang sulit dipisahkan. Mulai dari Perang Falklands/Malvinas, kontroversi “Hand of God” Diego Maradona, hingga drama David Beckham, rivalitas ini telah menjadi salah satu yang paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.
Namun menjelang semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta dini hari nanti, pelatih Argentina Lionel Scaloni menegaskan bahwa laga kali ini hanya tentang sepak bola.
“Tidak, tidak, tidak,” kata Scaloni saat ditanya soal Perang Falklands seperti yang dilansir The Guardians.
“Ini hanyalah pertandingan sepak bola. Jangan mencari hal-hal lain. Kami menghadapi tim hebat dengan pelatih yang sangat saya hormati. Ini hanya pertandingan sepak bola. Selesai.”
Pernyataan itu sekaligus meredam berbagai narasi yang kembali mengaitkan duel Inggris kontra Argentina dengan konflik bersenjata yang pecah pada 1982.
Rodrigo De Paul: Malvinas Tidak Dibahas di Lapangan
Gelandang Argentina Rodrigo De Paul juga memiliki pandangan serupa.
Menurutnya, rakyat Argentina memang selalu mengenang para korban perang Malvinas. Namun, pertandingan sepak bola bukanlah tempat untuk membahas konflik tersebut.
“Kami memahami bahwa pertandingan ini memang memiliki makna besar. Orang-orang akan mengingat apa yang pernah dilakukan Diego Maradona.”
“Kami selalu menyanyikan lagu untuk mengenang para pahlawan Malvinas. Tetapi perang adalah hal yang berbeda. Itu harus dibahas di tempat lain.”
“Yang kami inginkan sekarang hanyalah memenangkan pertandingan dan lolos ke final.”
Maradona Mengubah Sejarah dalam Hitungan Menit
Sulit membicarakan Inggris melawan Argentina tanpa kembali mengingat Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Saat itu Diego Maradona menciptakan salah satu momen paling legendaris sepanjang sejarah sepak bola.
Hanya dalam beberapa menit, Maradona mencetak dua gol yang sama-sama dikenang dunia.
Gol pertama lahir melalui tangan kirinya yang kemudian dikenal sebagai “Hand of God”.
Beberapa menit kemudian, Maradona menggiring bola melewati sejumlah pemain Inggris sebelum mencetak gol spektakuler yang hingga kini disebut sebagai Goal of the Century.
Dalam satu pertandingan, dunia melihat dua sisi sepak bola sekaligus.
Ada kontroversi.
Ada kejeniusan.
Ada kemarahan.
Dan ada karya seni.
Usai pertandingan, Maradona bercanda bahwa gol pertamanya mungkin dicetak oleh “tangan Tuhan”.
Bahkan beberapa tahun kemudian ia pernah mengatakan rasanya seperti “mencopet orang Inggris.”
Ucapan tersebut membuat banyak orang menghubungkan kemenangan Argentina dengan balas dendam atas Perang Falklands.
Namun pada 2014, Maradona justru memberikan pandangan berbeda.
Ia menyebut perang tersebut sebagai konflik yang sia-sia dan dipicu oleh “dua pemerintahan pembunuh.”
Veteran Perang: Sepak Bola Tidak Sama dengan Kebencian
Pada Piala Dunia 1986, sempat terjadi bentrokan yang telah direncanakan antara kelompok ultras Argentina (barra bravas) dan hooligan Inggris.
Salah satu anggota kelompok Argentina ternyata merupakan veteran Perang Falklands.
Bertahun-tahun kemudian, ia diwawancarai saat derby Boca Juniors melawan River Plate.
Ketika ditanya apakah menjadi anggota kelompok suporter fanatik mirip dengan menjadi tentara, jawabannya justru mengejutkan.
“Tidak ada orang yang lebih membenci perang selain seorang tentara.”
Sambil menunjuk tribun stadion, ia melanjutkan,
“Di sini kami datang karena cinta, keindahan, dan kegembiraan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebencian.”
Borges: Inggris Memberikan Sepak Bola kepada Argentina
Penulis legendaris Argentina, Juan Sasturain, pernah melontarkan kalimat yang sangat terkenal.
“Kami harus berterima kasih kepada Inggris. Mereka memberikan kami sastra Borges dan juga sepak bola.”
Ucapan itu merujuk pada Jorge Luis Borges, salah satu sastrawan terbesar Argentina yang dikenal sangat mengagumi budaya Inggris.
Borges sendiri pernah menyindir Perang Falklands sebagai:
“Dua orang botak yang berebut sebuah sisir.”
Meski tidak menyukai sepak bola, nama Borges kembali muncul secara unik pada Piala Dunia 2026.
Gol penentu kemenangan Argentina atas Cape Verde justru berasal dari gol bunuh diri pemain bernama Diney Borges.
Beckham, Owen, hingga Simeone
Rivalitas Inggris dan Argentina juga menghasilkan banyak momen ikonik.
Pada Piala Dunia 1998, Michael Owen mencetak salah satu gol solo terbaik sepanjang sejarah turnamen.
Namun sorotan justru tertuju kepada David Beckham yang mendapat kartu merah setelah terpancing provokasi Diego Simeone.
Empat tahun kemudian di Jepang-Korea 2002, Beckham akhirnya membalas luka tersebut.
Pelatih Sven-Goran Eriksson bahkan membawa psikolog ke dalam tim.
Para pemain Inggris diminta tidak melakukan kontak mata dengan pemain Argentina.
Saat Beckham hendak mengeksekusi penalti, Simeone mencoba memancing emosinya melalui jabat tangan.
Beckham memilih menoleh ke arah lain.
Ia tetap tenang.
Penalti masuk.
Inggris menang.
Argentina tersingkir sejak fase grup untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun.
Kini Rivalitas Berubah
Pertemuan terakhir kedua negara terjadi dalam laga persahabatan pada 2005 yang dimenangkan Inggris.
Saat itu Walter Samuel dan Roberto Ayala masih menjadi benteng pertahanan Argentina.
Kini keduanya justru menjadi bagian dari staf kepelatihan Lionel Scaloni bersama Pablo Aimar.
Scaloni membangun tim dengan filosofi yang sederhana.
Kebersamaan.
Hubungan antarpemain yang kuat.
Serta menikmati permainan.
Tuchel dan Scaloni Sepakat Soal Mentalitas
Menariknya, setelah sama-sama lolos dari perempat final Piala Dunia 2026, Thomas Tuchel maupun Lionel Scaloni mengaku tim mereka masih memiliki banyak kekurangan.
Meski demikian, keduanya sepakat bahwa mentalitas pemain menjadi senjata utama.
Tuchel bahkan mengatakan semangat juang timnya adalah sesuatu yang “bisa dikemas dalam botol lalu dijual.”
Mentalitas itulah yang kini akan diuji dalam duel semifinal.
Kini Hanya Tentang Sepak Bola
Memang benar, sejarah Inggris melawan Argentina dipenuhi perang, kontroversi, provokasi, dan rivalitas yang membelah dunia.
Namun seiring berjalannya waktu, hubungan kedua negara juga diwarnai persahabatan, sastra, musik, dan tentu saja sepak bola.
Kini, saat Inggris dan Argentina kembali bertemu di semifinal Piala Dunia 2026, keduanya ingin meninggalkan bayang-bayang masa lalu.
Yang tersisa hanyalah satu tujuan.
Memenangi pertandingan dan melangkah ke final Piala Dunia.

Tinggalkan Balasan