Harga BBM Non Subsidi Bisa Terkoreksi, Minyak Dunia Anjlok 15 Persen
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA – Kabar yang ditunggu-tunggu pengguna Pertamax mulai terlihat ujungnya. Setelah harga minyak mentah dunia longsor hingga 15 persen dalam sepekan, peluang penurunan harga BBM non subsidi kini semakin terbuka.
Harga minyak dunia yang sempat melonjak akibat memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran, kini justru berbalik arah. Pada Rabu (17/6), harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) terpantau berada di kisaran 76 dolar AS per barel, level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Penurunan ini terjadi setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Tak hanya itu, dibukanya kembali Selat Hormuz membuat arus distribusi energi global kembali normal. Iran pun mendapat ruang untuk kembali menjual minyaknya ke pasar dunia.

Kondisi tersebut membuat pasokan minyak global meningkat. Akibatnya, harga minyak mentah langsung tertekan.
Sebelum konflik pecah pada Februari 2026, harga Brent ditutup di level 72,48 dolar AS per barel. Sementara WTI berada di angka 67,02 dolar AS per barel. Namun saat konflik memanas, harga sempat melonjak tajam sebelum akhirnya kembali terkoreksi.
CEK UPDATE HARGA MINYAK MENTAH DUNIA DI SINI
Pertamax Berpotensi Turun
Merespons anjloknya harga minyak dunia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga BBM non subsidi pada prinsipnya mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan, harga BBM non subsidi memang sangat dipengaruhi harga minyak mentah sebagai bahan baku utama.
“Namun balik lagi kita tahu kondisi saat ini kenaikan harga BBM non subsidi ini memang sudah berlangsung. Kalau kita bicara negara-negara kawasan di tetangga sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan, penyesuaian. Tapi kita tahu di April kemarin sesuai arahan Presiden, pemerintah, Pak Presiden masih mencoba untuk menjaga kestabilan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat. Makanya sempat ada diskusi dengan badan usaha baik itu plat merah ataupun badan usaha swasta untuk mempertahankan harga BBM non subsidi dalam hal ini Pertamax,” ujar Dwi.
Menurut dia, keputusan menahan harga BBM non subsidi beberapa waktu lalu dilakukan demi menjaga daya beli masyarakat. Namun, dinamika pasar energi global membuat pelaku usaha pada akhirnya harus mengikuti harga keekonomian.
“Tapi seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis ini, para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian seperti itu. Jadi kalau ditanya akan turun enggak harga minyak dunia turun, pasti akan ada penyesuaian juga untuk penurunan harga BBM non subsidi. Demikian,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa peluang penurunan harga Pertamax dan BBM non subsidi lainnya semakin besar jika tren pelemahan harga minyak terus berlanjut.
DPR: Sudah Sewajarnya Disesuaikan
Di sisi lain, Komisi XII DPR RI menilai harga BBM non subsidi memang perlu segera dievaluasi. Alasannya sederhana, harga jual Pertamax sejak awal memang dirancang mengikuti harga minyak mentah dunia.
Karena itu, ketika harga bahan baku turun signifikan, masyarakat berhak mendapatkan manfaat dari penurunan tersebut.
“Itu praktis harus disesuaikan memang karena harga Pertamax itu kan BBM non subsidi yang diatur memang sesuai dengan sekali lagi bahan bakunya adalah crude atau minyak mentah. Dan betul hari ini Brent itu di angka 83 dolar dan di WTI sampai di 79. Jadi turun hari ini 5 persen dalam sehari dibandingkan dengan kemarin,” kata anggota Komisi XII DPR RI.
Meski begitu, DPR juga meminta pemerintah tidak gegabah. Sebab, pasar energi global masih sangat fluktuatif dan penuh ketidakpastian.
Masyarakat Menunggu Kabar Baik
Turunnya harga BBM non subsidi tentu menjadi harapan banyak pihak. Bukan hanya pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga pelaku usaha yang selama ini terbebani biaya distribusi dan logistik.
Jika harga Pertamax ikut terkoreksi, biaya transportasi berpotensi menurun. Efek berantainya bisa membantu menekan ongkos distribusi barang dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Namun, pemerintah dan Pertamina tampaknya masih akan mencermati perkembangan pasar energi global dalam beberapa waktu ke depan. Mereka ingin memastikan penurunan harga minyak dunia bukan sekadar gejolak sesaat.
Kini bola panas ada di tangan pemerintah dan Pertamina. Masyarakat menunggu apakah anjloknya harga minyak dunia akan benar-benar diterjemahkan menjadi penurunan harga Pertamax, atau justru harus kembali bersabar karena volatilitas global yang masih tinggi.
Yang jelas, semakin lama harga minyak dunia bertahan di level rendah, semakin besar pula tekanan agar harga BBM non subsidi ikut turun. Publik pun menanti keputusan yang bisa menjadi angin segar bagi kantong masyarakat.

Tinggalkan Balasan